Muslimah News, NASIONAL — Pergaulan di kampus, seperti yang terlihat di UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dan di berbagai kampus perguruan tinggi lainnya menunjukkan adanya interaksi tanpa batas syar’i antara pria dan wanita. Aktivitas seperti berbicara santai padahal bukan mahram, curhat antara lawan jenis, pacaran, hingga menjalin hubungan atas nama “bersosialisasi” menjadi bukti pergaulan yang kebablasan.
Kondisi tersebut menimbulkan gejolak dari kalangan mahasiswa UINSA sendiri, yang merasa resah dengan penggunaan trotoar tersebut sebagai tempat ngumpul-ngumpul hingga tempat pacaran. Bahkan, lama-lama mendapat sentilan dari mahasiswa kampus lain, “kampus Islam, tetapi kelakuannya seperti itu”.
Lemah
Menurut akademisi Luthfi, S.Pd.I., M.Pd., CPPS. kondisi tersebut mencerminkan lemahnya pemahaman mahasiswa terhadap aturan Islam tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan. “Padahal, Islam telah menetapkan aturan yang jelas untuk menjaga kehormatan dan moralitas umat. Lemahnya akidah mahasiswa hari ini karena sekularisasi yang begitu masif di kampus,” ucapnya kepada MNews, Ahad (26-1-2024).
Ia mengutip surah Al-Isra ayat 32, “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” Ia juga menyitir pendapat ulama besar Syekh Taqiyyuddin an-Nabhani dalam kitab yang ditulisnya berjudul Nizham al-Ijtima’i fi al-Islam (Sistem Pergaulan dalam Islam), Islam membedakan interaksi antara pria dan wanita dalam kehidupan individu, masyarakat, dan negara.
“Syekh Taqiyuddin menyatakan bahwa hubungan antara pria dan wanita harus tunduk pada aturan syariat untuk mencegah kerusakan moral yang muncul dari kebebasan pergaulan yang tidak terkendali,” terangnya.
Identitas
Sementara itu, pengamat sosial Kasmawati, S.Pd. menyatakan fenomena tersebut sudah seharusnya menjadi perhatian dari pihak kampus. “Tidak hanya UINSA tetapi juga kampus lainnya. Terkhusus kampus Islam yang seharusnya menggambarkan bagaimana identitas keislamaan kaum muslim yang mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan tersebut,” jelasnya kepada MNews, Ahad (26-1-2025).
Ia menyampaikan, menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat, mahasiswa kampus Islam, tetapi melakukan perbuatan yang dilarang dalam Islam. “Tentu ini akan melahirkan kontradiksi bagaimana gambaran kampus Islam dan mahasiswanya di hadapan khalayak umum. Realitasnya, para mahasiswa kampus Islam tidaklah luput dari berbagai serangan pemikiran yang memang kemudian berhasil mengikis identitas kegamaan yang ada dalam diri mereka,” ungkapnya.
Kampus Islam, jelasnya, seperti mangsa empuk bagi para musuh Islam untuk mencokolkan berbagai pemikiran yang menyimpang dari Islam. “Antiradikalisme yang kemudian masuk dalam muatan ajar kampus keislaman yang berdampak pada kacaunya proses pembelajaran, hilangnya penguasaan ilmu, hingga merusak perilaku para mahasiswa,” jelasnya.
Hal itu, lanjutnya, menjadi gambaran ketakmampuan sistem pendidikan hari ini dalam menghasilkan output pendidikan yang berkualitas. “Tidak heran akhirnya jika kita temukan berbagai perilaku yang harusnya tidak dilakukan sebagai seorang muslim tetapi terjadi normalisasi dikalangan intelektual mahasiswa,” terangnya.
Ironis
Luthfi menyayangkan sikap serba bebas yang menggejala di kampus hari ini. “Ironisnya, sikap permisif terhadap perilaku tersebut tidak lepas dari pengaruh kurikulum pendidikan Islam yang kini banyak bercermin pada nilai-nilai sekuler Barat,” ungkapnya.
Menurutnya, konten antiradikalisme yang dimasukkan dalam kurikulum kampus Islam sering kali mengaburkan pemahaman Islam yang mendalam. “Syekh Taqiyuddin juga dalam kitab Mafahim Hizbut Tahrir memberikan kritik terhadap hal ini, yaitu usaha pemisahan agama dari kehidupan dalam pendidikan membuat generasi muslim kehilangan keterkaitan dengan inti Islam dan membuka pintu untuk mengadopsi konsep-konsep rusak dari Barat,” bebernya.
Sekularisasi, lanjutnya, berkontribusi pada fenomena pergaulan bebas yang makin sulit dikontrol. “Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan dan menjauhkan umat dari penerapan Islam secara kafah. Akibatnya, mahasiswa tidak hanya kehilangan penguasaan ilmu agama, tetapi juga menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan adab Islam,” terangnya.
Permisif
Luthfi lebih khawatir lagi ketika sebagian mahasiswi menunjukkan sikap permisif terhadap praktik pacaran, bahkan menganggap aktivitas tersebut biasa saja. “Sebagian lainnya hanya peduli pada kenyamanan akses trotoar tanpa memedulikan aktivitas di sekitarnya,” ujarnya.
Sikap itu, katanya, menunjukkan mentalitas yang abai terhadap kewajiban amar makruf nahi mungkar, padahal Allah Swt. memerintahkannya. “Selain itu, kebijakan seperti Permendikbudristek PPKS (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual) di lingkungan kampus turut memperparah masalah,” ujarnya.
Kebijakan itu, ungkapnya, meski dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan yang aman, justru berpotensi mendorong liberalisasi pergaulan jika tidak diterapkan berdasarkan nilai-nilai Islam. “Syekh Taqiyuddin menekankan bahwa syariat harus menjadi satu-satunya sistem pengatur dalam kehidupan publik, Islam adalah satu-satunya sistem yang mampu mengatur seluruh hubungan antara manusia, dan menjadikannya sesuai kerangka syariat,” tegasnya.
Islam
Dalam Islam, jelas Kasmawati, memandang pendidikan adalah hal yang sangat penting dalam membangun karakter muslim yang kuat. “Penanaman yang kuat berkaitan dengan akidah Islam sehingga output-nya adalah karakter yang bertauhid,” harapnya.
Ia menjelaskan, pemahaman berkaitan dengan hukum syarak ditancapkan sehingga akan menghasilkan individu-individu yang terikat dengan hukum syarak. “Hal ini tentu tidak lepas dari peran negara yang harus menjamin bagaimana kualitas pendidikan bagi rakyatnya. Pengaturan Islam dalam hal pendidikan sangat berbeda jauh dengan bagaimana sistem kapitalisme hari ini,” paparnya.
Sementara Luthfi menandaskan, untuk menyelesaikan masalah ini hanya dapat dicapai dengan penerapan Islam secara kafah dalam kehidupan, termasuk dalam pendidikan. “Perguruan tinggi Islam harus mengambil peran strategis dalam membangun generasi Muslim yang memahami aturan syariat, termasuk dalam pergaulan,” pungkasnya. [MNews/IK]
