Krisis Paruh Baya Melanda Gen Z, Islam Kafah Urgen Diperjuangkan

Krisis Paruh Baya Melanda Gen Z, Islam Kafah Urgen Diperjuangkan

Muslimah News, FOKUS ― Fakta mengejutkan datang dari studi MetLife mengenai Gen Z. MetLife adalah sebuah perusahaan asal AS yang bergerak di bidang penyedia program asuransi, anuitas, dan manfaat pegawai terbesar di dunia, dengan 90 juta nasabah di lebih dari 60 negara. Vice Presiden MetLife, Todd Katz yang dikutip dari New York Post (18-1-2025), mengatakan bahwa Gen Z tengah menghadapi krisis paruh baya (midlife crisis) lebih awal dari yang seharusnya.

Krisis paruh baya adalah periode peralihan dalam hidup seseorang yang biasanya terjadi antara usia 40-60 tahun. Krisis ini biasanya ditandai dengan kesehatan yang menurun, merasa kehilangan arah dan tujuan, serta kerap mengambil keputusan yang impulsif. Sedangkan studi tersebut mengungkap bahwa sebanyak 38% dari Gen Z (kelompok usia 13-28 tahun) mengalami krisis paruh baya akibat tekanan finansial yang luar biasa.

Gen Z merasa terjebak dalam kecemasan, kelelahan, dan ketakpuasan hidup. Perasaan tersebut berkaitan erat dengan beban finansial yang harus mereka tanggung. Banyak dari mereka harus menanggung utang pendidikan, biaya pengasuhan, hingga membiayai orang tua dan saudara-saudara mereka. Inilah yang menjadikan Gen Z disebut-sebut sebagai generasi sandwich, yakni generasi yang memiliki beban ganda untuk menghidupi dua generasi sekaligus (generasi atas yakni orang tua/mertua/saudara dan generasi bawah yakni anak kandung/cucu).

MetLife pun mengatakan bahwa kesehatan holistik Gen Z paling menurun dibandingkan kelompok usia lainnya. Hanya satu dari tiga pekerja Gen Z yang melaporkan merasa sehat secara holistik. Dikutip dari laman Western Connecticut State University (WCSU), kesehatan holistik adalah pendekatan hidup yang mempertimbangkan berbagai aspek kesehatan. Pendekatan ini mendorong individu untuk mengenali pribadi secara menyeluruh seperti kesehatan fisik, mental, emosional, sosial, intelektual, dan spiritual.

Survei pada 2022 oleh Harmony Healthcare IT menunjukkan bahwa 42% dari Gen Z telah didiagnosis mengalami masalah kesehatan mental. Laporan lain dari American Psychological Association (APA) juga memaparkan bahwa hampir 90% dari Gen Z di AS setidaknya mengalami satu gejala stres, seperti merasa kewalahan atau cemas berlebihan.

Di Indonesia sendiri, Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2022 menemukan, sekitar 1 dari 20 orang atau 5,5% remaja usia 10-17 tahun didiagnosis memiliki gangguan mental dalam 12 bulan terakhir, biasa disebut orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Sedangkan sekitar sepertiga atau 34,9% memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental atau tergolong orang dengan masalah kejiwaan (ODMK).

Selain kondisi psikologis Gen Z yang rapuh, pada kenyataannya etos kerja Gen Z di dunia kerja pun dinilai buruk. Raymond Chin, CEO platform Ternak Uang yang memiliki pengalaman mengelola perusahaan dengan 99% karyawannya dari kalangan Gen Z menyebut empat kelemahan Gen Z yang fatal, yakni sikap terlalu sensitif, sering curhat di medsos, sikap naif yang terbentuk dari paparan medsos, dan selalu ingin instan.

Tidak heran, Gen Z lebih memilih tidak bekerja daripada bekerja di tempat yang tidak membuatnya bahagia. BPS pada 2023 mengungkap bahwa pengangguran tertinggi di negeri ini berasal dari kalangan Gen Z, yakni 19,40% dari total pengangguran 7,86 juta orang. Artinya, ada sekitar 1,5 juta Gen Z menganggur padahal usianya produktif.

Buah Kapitalisme

Berbagai persoalan yang dihadapi Gen Z hari ini sejatinya adalah buah busuk dari penerapan sistem kapitalisme yang rusak dan merusak. Ini tecermin pada penerapan sistem ekonomi kapitalisme, sistem politik demokrasi, sistem sosial yang liberal dan materialistik, hingga sistem pendidikan yang sekuler dan mahal.

Sistem ekonomi kapitalisme menjadikan Gen Z harus merasakan kerja bagaikan kuda yang diupah murah. Dunia usaha pun pro pada pengusaha besar sehingga Gen Z kesulitan jika hendak mengembangkan bisnis mereka. Parahnya lagi, sistem saat ini tidak menjadikan negara sebagai pihak yang menjamin kebutuhan hidup rakyatnya. Akibatnya, Gen Z dan masyarakat pada umumnya mudah merasa frustrasi, sebab kehidupan mereka jauh dari kata sejahtera.

Sistem politik yang berpijak pada demokrasi menjadikan beban hidup masyarakat termasuk Gen Z semakin berat. Pemerintahan demokrasi melanggengkan kekuasaan oligarki. Berbagai kebijakan zalim seperti pungutan pajak yang jumlahnya makin besar dan beragam, subsidi yang berkurang, tarif listrik dan air yang kian mahal, hingga regulasi yang memihak korporasi terus saja digulirkan. Semua ini menyebabkan hidup masyarakat termasuk Gen Z penuh dengan penderitaan.

Sistem sosial yang liberal dan materialistik juga turut menjadikan Gen Z hidup tanpa arah. Media sosial memperburuk perilaku mereka yang kerap merasa FOMO (takut tertinggal) terhadap sesuatu yang sedang trending. Hidup dianggap hanya untuk mengejar materi dan menganggap sumber kebahagiaan tertinggi mereka adalah memiliki uang yang banyak. Kerja bagaikan kuda demi melunasi cicilan barang untuk melengkapi gaya hidup. Akibatnya, kesehatan mental mereka kerap terganggu.

Sistem pendidikan yang sekuler menjadikan Gen Z tumbuh tanpa bimbingan agama. Pemahaman liberal dan materialistik merajai pola pikir mereka. Sayang, pendidikan berkualitas nyatanya mahal dan tidak merata. Ini menjadikan Gen Z tumbuh tanpa pendidikan yang layak. Literasi yang rendah dan kemampuan kerja yang ala kadarnya menjadikan kompetensi mereka jauh di bawah rata-rata. Inilah yang menyebabkan Gen Z rapuh dan pada akhirnya berdampak pada kesehatan mental mereka.

Gen Z Harus Sadar

Gen Z harus menyadari bahwa segala sesuatu yang menimpa mereka dan juga masyarakat pada umumnya merupakan buah dari penerapan sistem kehidupan sekuler kapitalistik. Kehidupan ini sangat bertolak belakang dengan kehidupan Islam yang berlandaskan akidah Islam, yang mengharuskan manusia memahami realitas kehidupan dan menyadari potensi dirinya.

Krisis paruh baya yang banyak menimpa kalangan Gen Z semata karena kehidupan ini telah dirusak oleh kapitalisme. Potensi Gen Z yang begitu besar jadi tertutup debu tebal. Gen Z yang berkarakter digital native, yakni tumbuh dalam era digital, sejatinya mahir menggunakan teknologi sehingga mereka akan sangat adaptif terhadap teknologi baru.

Jika mereka memahami akidah Islam dengan benar, mereka akan memahami tujuan penciptaan semata hanyalah untuk beribadah kepada Allah Taala. Seluruh amal perbuatan mereka bersandar pada perintah dan larangan Allah. Mereka akan berlomba menjadi sebaik-baik manusia, yakni yang paling bermanfaat untuk sesamanya. Dengan ini, kemampuan Gen Z dalam menggunakan teknologi akan mereka persembahkan untuk kemaslahatan umat. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR Ahmad, Ath-Thabrani, Ad-Daruquthni).

Oleh karena itu, harus dibangun kesadaran pada mereka akan pentingnya kewajiban mengembalikan kehidupan Islam dengan menerapkan aturan Allah secara kafah (menyeluruh). Sebabnya, aturan Islam yang diterapkan secara kafah akan membawa keberkahan dan kemuliaan bagi peradaban umat manusia pada keseluruhannya. Allah Taala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah [2]:  208).

Dengan kembali pada syariat Islam secara kafah, Gen Z akan sehat mental serta terhindar dari krisis paruh baya. Potensi besar mereka dapat menjadi bekal untuk membangun peradaban mulia.

Gen Z juga harus menyadari bahwa penerapan Islam secara kafah membutuhkan Daulah Khilafah Islamiah. Ada banyak syariat yang hanya bisa dilaksanakan dengan tegaknya Khilafah. Hal ini misalnya persoalan sistem sanksi (uqubat). Sistem hari ini tidak akan bisa menetapkan hukuman bagi para pencuri dengan potong tangan sebab terganjal HAM, sedangkan syariat Islam mewajibkan hukuman potong tangan bagi pencuri. Allah Taala berfirman, “Laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya.” (QS Al-Maidah [5]: 38).

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan bahwa imam/khalifah-lah yang diseru untuk melaksanakan syariat di atas. Beliau menyatakan, “Tidak ada perbedaan bahwa yang diseru dalam perintah (potonglah kedua tangannya) adalah imam atau orang yang mewakilinya.” (Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an).

Gen Z Harus Berjuang

Gen Z harus terus berjuang agar bisa bertahan dalam situasi hari ini yang sangat zalim. Langkah tersebut tentunya harus dengan landasan iman dan takwa agar arah perjuangannya jelas, yakni menuju rida Allah Taala. Gen Z juga harus dimotivasi agar berperan dalam menyelesaikan persoalan umat dengan menegakkan aturan Allah secara kafah melalui tegaknya Khilafah.

Gen Z harus memahami pentingnya generasi muda yang melek politik agar potensinya tidak mudah dibajak oleh para kafir penjajah sehingga mereka dapat memimpin umat menuju perubahan hakiki sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad saw.. Mereka harus berjuang bersama barisan jemaah dakwah Islam yang fokus mengembalikan kehidupan Islam.

Allah Taala telah menegaskan keutamaan dan kemuliaan orang-orang yang berjuang menerapkan kewajiban tersebut dalam banyak ayat, di antaranya dalam ayat, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-‘Ashr [103]: 1-3).

Khatimah

Gen Z membutuhkan lingkungan yang menyehatkan fisik dan psikisnya untuk bisa tumbuh. Lingkungan tersebut akan bisa terwujud dalam sistem kehidupan Islam di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiah. Dengan kehidupan Islam, gen Z akan mampu mengembangkan potensinya untuk membangun peradaban. Gen Z harus terlibat dalam memperjuangkan tegaknya kalimat Allah, agar kehidupannya berlimpah berkah. Allah Taala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7). Wallahualam bissawab. [MNews/KR-NA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *