(Segi Persamaan, Perbedaan, dan Pertalian antara Keduanya)
Penulis: Muhammad Husain Abdullah
Muslimah News, TELAAH KITAB — Aktivitas makan adalah untuk memenuhi kebutuhan jasmani terhadap makanan apabila manusia itu lapar. Aktivitas makan juga bisa untuk memenuhi naluri mempertahankan diri apabila hanya sebagai hasil dari kecintaan manusia terhadap makanan, sedangkan ia tidak lapar dan tubuhnya tidak membutuhkan zat-zat yang terkandung dalam makanan.
Kebutuhan-kebutuhan jasmani ada dalam diri manusia, juga ada pada hewan. Walaupun sebagian kondisi-kondisi dan zat-zat yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani manusia ini berbeda dengan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani hewan.
Dengan demikian, makanan yang memuaskan manusia bukanlah makanan yang dipergunakan untuk memuaskan perut kebanyakan hewan yang lapar. Kondisi-kondisi yang membuat hidup sebagian hewan-hewan, seperti golongan ikan dan burung-burung, bukanlah situasi-situasi dan kondisi-kondisi yang membuat manusia hidup. Semua perbedaan itu karena perbedaan struktur tubuh kedua golongan di atas, yakni golongan manusia dan golongan hewan.
Naluri-naluri itu ada pada hewan, seperti halnya ada pada manusia. Misalnya, naluri seksual dan penampakan-penampakan yang keluar darinya, seperti kecenderungan kepada lawan jenis. Juga seperti naluri mempertahankan diri dan penampakan-penampakan yang keluar darinya, seperti khawatir terjadi bahaya.
Hanya saja sebagian penampakan-penampakan naluri seksual dan naluri mempertahankan diri tidak ada pada hewan. Misalnya, senang meneliti (riset) dan seperti kecenderungan menyelamatkan orang yang mendekati kerusakan. Terjadi pula perbedaan penampakan-penampakan pada manusia dan hewan, seperti cinta memiliki.
Adapun naluri beragama, penampakan-penampakannya hanya ada pada manusia, sedangkan pada hewan tidak ada. Pada hewan tidak tampak sedikit pun penampakan dari penampakan-penampakan naluri beragama. Oleh karenanya, manusia tidak dapat memahami cara hewan memenuhi naluri beragama ini.
Pada dasarnya manusia mengerti adanya naluri beragama pada hewan yang berasal dari dalil naqli yang pasti kebenarannya, yaitu Al-Qur’an Al-Karim. Kitab suci ini telah memberi kabar kepada kita tentang bertasbih dan salatnya semua yang ada, baik yang hidup atau yang kelihatan mati.
Allah Swt. berfirman, “… Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. …” (QS Al-Isra: 44).
Juga firman-Nya, “… Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS An-Nuur. 41).
Tasbih dan salat adalah aktivitas-aktivitas yang dihasilkan dari kecenderungan manusia. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan menyucikan Al-Khalik. Ini adalah salah satu penampakan naluri beragama. Allah telah memberi berita kepada kita adanya aktivitas tersebut pada semua makhluk (selain manusia), tetapi kita tidak mengerti hakikatnya. “Tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” (QS Al-Isra’: 44). [MNews/RY-YG]
Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.
