Penulis: Muhammad Husain Abdullah
Muslimah News, TELAAH KITAB — Naluri (insting) adalah potensi pada diri manusia yang mendorong manusia untuk cenderung terhadap sesuatu (benda) dan perbuatan. Potensi ini juga yang mendorong manusia untuk meninggalkan sesuatu dan perbuatan. Semuanya hanyalah demi memenuhi kebutuhan internalnya.
Para intelektual dan ilmuwan berselisih tentang jumlah naluri tersebut. Perselisihan itu dikarenakan semua indra (panca indra) yang ada tidak mampu mengindra realitas naluri ini sehingga akal tidak mampu memahaminya secara langsung. Mereka menganggap penampakan-penampakan naluri menjadi naluri pula sehingga menghasilkan naluri-naluri yang tidak sedikit. Ini seperti naluri takut, naluri kecenderungan seksual, naluri belas-kasih, naluri ingin memiliki, naluri menyucikan sesuatu, naluri senang menyelidik (riset), dan lain-lain.
Setelah meneliti semua penampakan-penampakan (mazhahir) yang mereka anggap sebagai naluri-naluri, maka ditemukan bahwa penampakan-penampakan tersebut tersusun dalam tiga kelompok. Setiap kelompok penampakan-penampakan tersebut berafiliasi (bergabung) kepada satu naluri.
Jenis pertama dari tiga kelompok tersebut adalah penampakan rasa takut, senang memiliki, senang meneliti, cinta Tanah Air, cinta golongan, cinta kehormatan, cinta kekuasaan, dan lain-lain. Semua penampakan tersebut termasuk naluri mempertahankan diri (garizah baqa’). Ini karena penampakan-penampakan tersebut mengantarkan pada aktivitas-aktivitas untuk menjaga kelangsungan hidup manusia sebagai individu.
Jenis kedua dari penampakan-penampakan adalah kecenderungan seksual, keibuan, kebapakan, cinta anak cucu, kasih sayang kepada sesama manusia, kecenderungan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan, dan lain-lain. Semua penampakan tersebut termasuk naluri seksual. Ini karena penampakan-penampakan tersebut mengantarkan kepada aktivitas-aktivitas untuk menjaga kelangsungan hidup spesies manusia sebagai suatu spesies manusia, bukan sebagai individu.
Adapun jenis ketiga dari penampakan-penampakan tersebut adalah berupa kecenderungan menghormati para pahlawan, kecenderungan beribadah, perasaan kurang, lemah, membutuhkan orang lain, dan lain-lain. Semuanya termasuk naluri beragama. Ini karena penampakan-penampakan ini mampu mendorong manusia untuk membahas tentang adanya Pencipta Yang Maha Kuasa, Yang Maha Sempurna, yang eksistensi-Nya tidak bergantung terhadap sesuatu. Bahkan eksistensi semua makhluk bergantung kepada-Nya.
Naluri (insting) adalah potensi alami yang ada pada diri manusia untuk menjaga dan melestarikan kelangsungan hidupnya, menjaga spesiesnya, dan agar mendapat petunjuk mengenai adanya Al-Khalik. Naluri itu tidak bisa terindra dengan indra secara langsung. Hanya saja akal mampu mengindra eksistensinya melalui penampakan-penampakannya.
Sesungguhnya Allah Swt. telah menciptakan potensi-potensi tersebut, sekaligus memberikan petunjuk cara menggunakannya kepada manusia ataupun hewan. Melalui lisan Musa dalam membantah Fir’aun, Allah Swt. berfirman, “Musa as. berkata, ‘Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’” (QS Taha: 50).
Maksud ayat tersebut, Allah menciptakan kepada tiap-tiap sesuatu, potensi-potensinya dan memberinya petunjuk dengan perantaraan potensi-potensi agar dapat melaksanakan aktivitas yang bisa memenuhi berbagai insting dan kebutuhan jasmaninya.
Ada sebagian ilmuwan yang menginterpretasikan ayat di atas bahwa Allah Swt. telah menciptakan hewan betina untuk setiap hewan jantan yang sejenis, lalu mengilhamkan cara nikah (berjimak). Kata khalqahu (kejadiannya) oleh mereka ditafsirkan dengan “yang semisal dalam kejadiannya”.
Namun tafsir pertama lebih umum (‘aam) dan memasukkan semua lafaz nas dan lebih kuat (ashoh) karena ayat itu telah didahului oleh lafaz (tiap-tiap sesuatu) yang merupakan lafaz ‘aam yang memasukkan semua (setiap) makhluk. Allah Swt. berfirman, “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit. …'” (QS An-Nahl: 68).
Maknanya, Allah memberi dan mengilhamkan potensi yang memberi kemampuan kepada lebah untuk membangun sarang-sarangnya di gunung-gunung.
Kemudian Allah Swt. telah mengisyaratkan sebagian penampakan naluri-naluri ini. Allah Swt. berfirman, “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya.” (QS Yasin: 71).
Jadi, Allah telah menciptakan untuk manusia segala sesuatu. Di antaranya adalah binatang ternak untuk dimilikinya, untuk memenuhi rasa cinta memiliki (hubbu tamalluk) yang merupakan salah satu penampakan dari naluri mempertahankan diri. [MNews/RY-YG]
Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.

One thought on “[Mafahim Islamiyyah] Naluri-Naluri (Bagian 1/3)”