Penulis: Muhammad Husain Abdullah
Muslimah News, TELAAH KITAB — Berpikir adalah menghukumi atas realitas, sedangkan sarana berpikir adalah bahasa. Bahasa bukanlah pemikiran, tetapi hanya alat untuk menggambarkan pemikiran itu. Perkataan kita, “Manusia adalah hewan yang berbicara.” merupakan kalimat yang memiliki penunjukkan (madlul) dan penunjukkan ini adalah pemikiran.
Jika penunjukkan ini memiliki realitas eksternal yang dimengerti oleh akal, seperti pada kalimat “Manusia adalah hewan yang berbicara”, pemikiran ini menjadi pemahaman (mafhum) bagi orang yang menemukan atau mengerti penunjukkan itu. Kalau pemikiran itu tidak memiliki penunjukkan seperti perkataan mereka, “Manusia itu terbentuk dari materi dan ruh”, pemikiran ini tidak memiliki pemahaman. Ini karena indera tidak dapat menjangkau penunjukkan pemikiran ini. Demikian pula akal manusia tidak dapat menemukan realita penunjukkan ini.
Oleh karena itu, penunjukkan ini menjadi pemikiran yang tidak memiliki pemahaman. Dengan demikian pemikiran-pemikiran Plato dalam bukunya yang berjudul “Jumhuriyah (Republik)”, bukanlah pemahaman-pemahaman. Ini karena penunjukkan dari pemikiran-pemikiran Plato yang ada dalam buku tersebut diekspresikan dengan bahasanya, tetapi tidak memiliki realitas yang bisa terindra dalam kehidupan.
Jadi, pemikiran-pemikiran bisa menjadi pemahaman-pemahaman bagi manusia, apabila penunjukan dari pemikiran-pemikiran ini mempunyai realitas di sisi manusia. Sesungguhnya buku ini memuat sebagian pemahaman-pemahaman (mafahim) yang akal manusia dapat menemukan penunjukan-penunjukannya secara langsung di dalam realitas eksternal. Ini seperti pemahaman dari ungkapan “Manusia itu terbentuk hanya dari materi”.
Ungkapan ini bukan hanya makna-makna lafaz, tetapi merupakan ekspresi dari pemahaman yang memiliki penunjukan di dalam realitas eksternal dan akal manusia dapat menemukannya secara langsung.
Buku ini juga memuat sebagian dari pemahaman-pemahaman yang akal tidak dapat menemukannya secara langsung. Namun akal dapat menemukannya melalui jejaknya (atsar) atau dari penampakan-penampakannya (mazhair). Ini seperti pada pemahaman “Dalam diri manusia ada potensi (khasiyat) yang dinamakan naluri seksual”.
Manusia dengan akalnya tidak dapat menemukan naluri seksual (gharizatun nau) secara langsung karena indra-indranya tidak bisa menjangkaunya. Namun akal manusia dapat menemukan penampakan-penampakannya. Akal mengerti bahwa manusia sangat mencintai anak-anaknya, cenderung kepada kedua orang tuanya, dan cenderung kepada lawan jenis.
Dengan adanya penampakan-penampakan inilah spesies manusia akan terjaga keberlangsungannya. Akal memahami bahwa dalam diri manusia terdapat potensi yang mendorongnya kepada kecenderungan-kecenderungan tersebut. Potensi ini dinamakan naluri seksual.
Termasuk dalam pemahaman-pemahaman ini adalah pemahaman tentang ruh (rahasia kehidupan/nyawa). Manusia telah menemukan eksistensi ruh dengan menemukan keberadaan penampakan-penampakannya, yaitu bereproduksi, bertumbuh, dan bergerak. Ayat mulia pun telah datang menjelaskan kepada manusia tentang ketakberdayaannya untuk memahami esensi ruh.
Allah Swt. berfirman, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang rûh, katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhan-Ku dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.’” (QS Al-Isra’: 85). [MNews/RY-YG]
Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah. (Bagian 1/2).

One thought on “[Telaah Kitab] Mafahim Islamiyyah (Pendahuluan, Bagian 1/2)”