[Kabar] Pengamat: Tidak Ada Perubahan Positif Terkait Isu Palestina Sejak 2023

[Kabar] Pengamat: Tidak Ada Perubahan Positif Terkait Isu Palestina Sejak 2023

Muslimah News, INTERNASIONAL— Pengamat hubungan internasional Dr. Hasbi Aswar menilai, tidak ada perubahan positif terkait isu Palestina sejak 2023.

”Terkait isu Palestina, sejak Oktober 2023 sampai sekarang kelihatan tidak ada hal yang berubah secara positif. Blokade tetap terjadi sehingga anak-anak kelaparan, kekurangan gizi, menderita penyakit kulit, penyakit yang terkait dengan pencernaan. Dan sampai hari ini sudah 45.000 lebih meninggal dunia,” tuturnya di acara “Refleksi Akhir Tahun dan Masa Depan Umat Islam” Selasa (31-12-2024) di kanal UIY Official.

Ia menyesalkan, umat Islam di seluruh dunia hanya menjadi penonton terhadap genosida yang terjadi di Gaza sebagai genosida pertama di dunia yang dipertontonkan secara live oleh berbagai kanal televisi ataupun media.

 ”Otoritas Palestina di Tepi Barat justru bekerja sama dengan Zion*s Yahudi untuk meredam munculnya perlawanan kelompok pejuang di Tepi Barat terhadap Zion*s Yahudi,” kritiknya.

Hasbi melanjutkan, meski Otoritas Tepi Barat berdalih agar Zion*s tidak memperluas genosida di Tepi Barat, tetapi dalih ini lemah sebab pada faktanya Otoritas Tepi Barat membiarkan rumah-rumah penduduk muslim di Tepi Barat dibuldozer oleh Zion*s demi perluasan wilayah mereka. ”Kalau benar Otoritas Tepi Barat ingin melindungi umat Islam yang ada di sana tentu tidak mungkin membiarkan rumah-rumah itu dibolduzer,” tandasnya.

Respons Global

Hasbi menilai, respons dunia secara global juga semakin minim bersuara. “Yang terjadi menurut berita beberapa bulan terakhir justru terjadi peningkatan impor barang dari Zion*s Yahudi ke Indonesia,” sesalnya.

Bukan hanya di Indonesia, ucapnya, Turki juga memberikan sebagian wilayahnya untuk menjadi jalur impor minyak Zion*s Yahudi dari wilayah Azerbaijan. “Bahkan, meski Turki melakukan pemutusan hubungan ekonomi secara langsung dengan Zion*s Yahudi, tetapi tidak melarang perusahaan-perusahaan Turki bekerjasama dengan Zion*s Yahudi melalui pihak ketiga. “Ini kan sikap mendua!” kritiknya.

Sikap mendua ini, jelasnya, juga dilakukan oleh negeri-negeri muslim lainnya seperti Arab Saudi, Yordania, Mesir, yang justru lebih menguntungkan Zion*s Yahudi ketimbang Palestina.

“PBB juga sama, bolak-balik sidang ini sidang itu, tetapi tidak ada dampak signifikan. Meski mayoritas anggota PBB mendukung kemerdekaan Palestina, tetapi tidak ada dampak positif bagi Palestina,” jelasnya.

Ini, terang Hasbi, berbeda ketika negara-negara anggota PBB itu mengakui kemerdekaan Zion*s Yahudi justru berdampak positif bagi Zion*s Yahudi, yaitu negara-negara itu bisa membuka hubungan diplomatik maupun hubungan dagang.

”Dari sini kita bisa melihat bahwa dukungan mayoritas anggota PBB terhadap P4lestina dibandingkan dengan dukungan mereka terhadap Zion*s Yahudi itu sebenarnya lebih menguntungkan Zion*s Yahudi daripada menguntungkan Palestina,” simpulnya.

Super Power

Dalam penilaiannya, negeri-negeri muslim ataupun negara-negara anggota PBB saat ini tidak bisa berbuat banyak untuk Palestina karena pola hubungan kekuasaan dengan negara super power.

”Kita tidak bisa pungkiri bahwa dalam sejarah sampai hari ini negara super power punya kekuatan lebih untuk mengendalikan berbagai dinamika politik internasional, termasuk dalam isu Palestina. Negara super power itu adalah Amerika Serikat,” jelasnya.

Ia menambahkan, kebanyakan negeri muslim justru menjadi negara pengikut Amerika dalam berbagai aspek. ”Ini yang membuat mereka menjadi lemah dan berdampak buruk terhadap Palestina, yang ada malah menguntungkan Zion*s Yahudi,” ulasnya.

Suriah

Terhadap isu Suriah, ulas Hasbi, kurang lebih sama dengan gambaran Palestina. ”Meski jatuhnya Bashar al-Assad perlu disyukuri, tetapi umat Islam yang mengambil kekuasaan di Suriah seharusnya bisa independen terlepas dari berbagai tekanan, terlepas dari kepentingan asing, termasuk kepentingan negara-negara yang ada di sekitarnya,” ucapnya mengingatkan.

Ia menilai, ada upaya dari Barat untuk membawa Suriah mengikuti skenario Barat. Hasbi berkesimpulan demikian karena sejak Suriah dikuasai HTS (Hayat Tahrir al-Sham) Amerika langsung berkunjung ke Suriah melakukan kontak-kontak dengan penguasa Suriah sekarang.

”Setelah itu secara bergantian negara-negara yang dekat Amerika juga datang ke Suriah. Kalau di Timur Tengah ada Yordan, Kuwait, Irak, Qatar, Saudi Arabia, Mesir, semua sudah menyatakan bersedia untuk mendukung pemerintahan baru Suriah, termasuk Turki yang selama ini banyak kontak dan banyak memfasilitasi perjuangan kelompok-kelompok pejuang di Suriah,” urainya.

Dari beberapa indikator itu, menurut Hasbi, akhirnya beberapa kalangan menilai bahwa Suriah memang berupaya dibawa ke arah yang lebih dekat dengan Barat. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *