Muslimah News, NASIONAL — Maraknya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa mendapat perhatian akademisi Luthfi, S.Pd.I., M.Pd., CPPS.. Kepada MNews, Rabu (1-1-2025), ia menilainya sebagai alarm dan indikasi kegagalan pendidikan tinggi dalam sistem sekuler kapitalisme.
Ia menilai, sistem pendidikan tinggi sekuler tidak dirancang untuk mencetak generasi emas yang memiliki visi peradaban besar, melainkan untuk menghasilkan tenaga kerja murah yang tidak ideologis, tidak kritis, dan apatis terhadap politik.
“Akibatnya, pemuda hanya diarahkan untuk mencari solusi praktis dalam jangka pendek, tanpa bekal pemikiran mendalam untuk menyelesaikan persoalan hidup secara fundamental. Bahkan, mereka kerap gagal dalam menghadapi tekanan hidup hingga kehilangan kemampuan untuk bertahan dalam menyelesaikan masalah-masalah mendasar kehidupan,” ungkapnya.
Ini karena, terangnya, sistem ini tidak dirancang untuk melejitkan potensi generasi muda, melainkan untuk memanfaatkan mereka demi melanggengkan misi ideologi kapitalisme.
Agenda Utama
Menurutnya, ada tiga agenda utama yang menjadi ciri khas pendidikan dalam sistem sekuler kapitalisme.
Pertama, jelasnya, mempertahankan dan mengukuhkan hegemoni kapitalisme dengan menjadikan pendidikan sebagai alat legitimasi pemikiran sekuler. “Kedua, mencegah kemunculan benih peradaban Islam dengan mengasingkan nilai-nilai Islam dari kurikulum dan ruang akademik. Kemudian, ketiga, menghancurkan eksistensi peradaban Islam dengan menyisihkan sisa-sisa pengaruhnya dari kehidupan generasi muda sehingga mereka tidak mampu bangkit,” paparnya.
Hal ini, jelasnya, sesuai dengan firman Allah Taala dalam QS Al-Anfal: 73, “Orang-orang kafir itu saling melindungi satu sama lain. Jika kamu (hai kaum muslim) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”
Ia mengingatkan, sekularisasi telah menjauhkan pemuda muslim dari Islam sebagai pandangan hidup, juga menjadikan sekolah, pesantren, dan kampus justru sebagai alat formal untuk mencetak karakter pragmatis, individualistis, dan konsumtif.
Bahkan, lanjutnya, saat ini, pendidikan tinggi telah menjadi ladang kapitalisasi yang mengorbankan idealisme demi keuntungan materi.
“Beberapa dampaknya adalah penyusupan agenda pendidikan asing yang membawa misi penjajahan ideologi dan budaya; komersialisasi pendidikan yang menjadikannya hanya terjangkau bagi yang mampu secara finansial; dan komoditasi ilmu yang menjebak intelektual muslim dalam logika pasar sehingga mereka kehilangan peran sebagai agen perubahan (agent of change) yang berpikir untuk umat,” urainya.
Padahal, ujarnya, Rasulullah saw. telah mengingatkan kaum muslim untuk menjauhi sifat materialistis dalam kehidupan sebagaimana sabdanya dalam riwayat Bukhari, “Celakalah budak dinar, dirham, dan pakaian…”
Pendidikan dalam Khilafah
Berbeda dengan sistem sekuler kapitalisme, tutur Luthfi, pendidikan tinggi dalam naungan Khilafah Islam bertujuan mencetak generasi pemimpin peradaban atau rijalul ghadd.
“Profil generasi muslim terbaik dibangun dengan fondasi dasar berupa iman dan akidah yang membentuk pola pikir (akliah) dan pola sikap (nafsiah) yang berlandaskan Islam,” jelasnya mengutip QS An-Nisa ayat 9, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
Dalam sistem pendidikan tinggi Islam, jelasnya, ilmu pengetahuan diarahkan untuk membentuk individu yang memahami tugasnya sebagai khalifah di muka bumi sesuai sabda Rasulullah saw. riwayat Ahmad, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Dengan hal tersebut, tambahnya, akan terbentuk profil pemuda muslim yang menyadari dirinya adalah hamba Allah sesuai QS Adz-Dzariyat: 56 yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah sehingga wajib taat kepada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
“Kemudian, menjadi calon pemimpin yang bertakwa, bertanggung jawab mengelola dan memakmurkan bumi sesuai dengan petunjuk Allah Taala sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Baqarah: 30 dan Al-Furqan: 74,” urainya.
Kepribadian pemuda Islam, ujarnya, lurus di atas fitrah sehingga mampu menjaga diri dari penyimpangan moral dan akidah sesuai QS Ar-Rum: 30 yang menerangkan agar manusia menghadapkan wajahnya lurus sesuai fitrah Allah karena Allah telah menciptakan manusia menurut fitrah tersebut.
“Juga menjadi pemuda yang tangguh, kuat, dan berkualitas sebagaimana QS An-Nisa: 9 yang tidak mudah goyah oleh tekanan hidup maupun godaan untuk menyimpang dari kebenaran. Bahkan, menjadi penegak amar makruf nahi mungkar karena kukuh memegang kebenaran di mana pun berada seperti digambarkan QS Ali Imran: 110 bahwa umat Islam adalah umat terbaik,” ucapnya.
Tidak hanya itu, ungkapnya, pendidikan dalam sistem Islam bukan sekadar alat untuk mencari nafkah, tetapi jalan menuju kebangkitan peradaban. Dengan ilmu yang bersumber dari wahyu, tambahnya, pemuda muslim diarahkan untuk menjadi kreator solusi yang rahmatan lil ‘alamin.
“Tampaklah, sistem pendidikan Islam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter mulia, siap menjadi pilar peradaban emas di masa depan,” jelasnya. [MNews/RA]
