Muslimah News, LENSA DAERAH — Sekitar 250 tokoh dari berbagai komunitas di Sumatra Selatan (Sumsel) yang hadir pada Risalah Akhir Tahun (RATU) 2024, Ahad (22-12-2024), di Palembang tidak kuasa membendung air mata kerinduan kepada Rasulullah ﷺ.
Acara RATU yang membincang sistem kepemimpinan ini menghanyutkan peserta dalam kontemplasi puisi dan saat melantunkan penggalan lirik nasyid Rindu Rasul yang dipopulerkan Bimbo.
Puisi berisi kerinduan pada sosok pemimpin yang adil itu membawa peserta larut mengadu kepada Allah Taala tentang kerinduannya memiliki pemimpin yang bukan hanya saleh untuk dirinya sendiri, tetapi juga muslih, yang mencintai rakyatnya dengan tulus, mengajak umatnya untuk taat kepada Allah, dan mengayomi masyarakatnya dengan aturan Allah sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ.
Ketua Umum Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (Alppind) Sumsel Eny Gusita yang hadir sebagai peserta, ketika ditanya tentang sosok pemimpin yang dirindukan, seraya menahan tangis mengungkapkan sangat merindukan Rasulullah ﷺ.
“Pemimpin yang dirindukan? Nanti saya nangis. [Saya] sangat merindukan sosok Rasulullah,” ucapnya saat wawancara di akhir acara.
Menurutnya, sosok kepemimpinan terbaik ada pada diri Rasulullah ﷺ. “Tidak ada manusia yang abadi kepemimpinannya, kecuali Nabi Muhammad ﷺ. Saya berharap ke depan Indonesia mendapatkan pemimpin yang betul-betul berakhlak seperti yang kita harapkan demi tegaknya Islam yang kafah,” imbuhnya.
Ruwaibidhah
Pada acara yang mengusung tema “Kepemimpinan Sekuler Menyengsarakan, Kepemimpinan Islam Harapan Masa Depan”, aktivis muslimah Sumsel Ustazah Eti Sudarti menyatakan bahwa kondisi kepemimpinan negeri ini sedang tidak baik-baik saja karena adanya ruwaibidhah.
“Ruwaibidhah itu adalah orang yang bodoh. Orang yang tidak mengerti permasalahan yang sebenarnya terjadi itu apa, tetapi ia dibiarkan untuk mengurusi urusan orang banyak, dibiarkan mengurusi masyarakat. Akibatnya, kebijakannya bukan menjadi solusi,” jelasnya.
Ia menyatakan, kondisi ini telah diingatkan Rasulullah ﷺ dalam hadis tentang akan adanya tahun-tahun kebohongan sesuai hadis Ibnu Majah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanah diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidhah turut bicara. Lalu beliau ditanya, ‘Apakah Ruwaibidhah itu?’ Beliau menjawab, ‘Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.’.”
Lebih lanjut, ia menguraikan, sistem kepemimpinan yang terlepas jauh dari Islam sejak 1924 adalah penyebab berbagai permasalahan melanda umat Islam hari ini. Menurutnya, kepemimpinan Islam adalah simpul utama. “Jika kepemimpinan jauh dari Islam, urusan masyarakat yang lainnya akan jauh dari Islam,” ungkapnya.
Oleh karenanya, ia menekankan, sangat penting berbicara tentang kepemimpinan Islam yang menjadi simpul utama. “Jika simpul ini kukuh, maka yang lain akan kukuh. Jika simpul kepemimpinan itu sudah lepas dari Islam, maka urusan masyarakat akan terlepas dari Islam,” imbuhnya.
Relasi
Selanjutnya, mubaligah nasional Ustazah Kholisoh Dzikri memaparkan tentang relasi yang mestinya dibangun antara pemimpin dan rakyatnya berdasarkan syariat Islam. “Mengutip pendapat Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Syakhsiyah Islamiyah jilid II, hubungan antara rakyat dengan penguasa ataupun penguasa dengan rakyat mesti memperhatikan tiga hal,” urainya.
Pertama, sebutnya, Allah telah memerintahkan kepada pemimpin agar pemimpin itu meliputi rakyatnya dengan nasihat takwa. “Kedua, Asy-Syari’, yakni Allah melarang pemimpin itu menyentuh harta rakyatnya sedikit pun. Ketiga, Allah mewajibkan pemimpin itu hanya menerapkan hukum Islam, tidak boleh menerapkan hukum selain hukum Islam,” jelasnya.
Ia lalu bertanya, “Sekarang ibu-ibu, apakah pemimpin kita itu sudah membangun relasi dengan tiga ini, Bu? Meliputi rakyatnya dengan nasihat. Apakah Ibu-Ibu dinasihati, ‘Wahai rakyatku, bertakwalah kepada Allah. Wahai rakyatku, jangan sekali-sekali kalian meninggalkan salat. Wahai rakyatku, jangan sekali-sekali kalian mendekati zina. Kemudian, apakah pemimpin kita itu betul-betul menjaga harta kita?” tanyanya yang kemudian kompak dijawab “tidak” oleh peserta.
Dalam hal penerapan hukum, lanjutnya, bukan syariat Islam yang digunakan dalam membangun relasi penguasa dengan rakyat. “Ada sekian banyak syariat yang belum diterapkan hari ini. Jangankan syariat yang lain, salat saja hari ini tidak ada jaminan bahwa negara menjamin setiap muslim salat,” pungkasnya. [MNews/Kontributor: Spt]
