Muslimah News, NASIONAL — Membahas soal perubahan ke arah Islam, cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyampaikan, demokrasi tidak akan memberi jalan perubahan ke arah Islam. “Tampaknya demokrasi itu adalah jalan yang paling rasional untuk mendapatkan kekuasaan, tetapi pada faktanya demokrasi adalah jalan sempit yang tidak memberikan ruang lebar kepada umat Islam,” tuturnya dalam Fokus to the Point: “Jangan Hanya Jadi Penonton dalam Dakwah Politik, Ini Jawaban Ustaz Ismail Yusanto”, Rabu (11-12-2024).
Ia mencontohkan, sebagaimana yang bisa dilihat di Aljazair, FIS, partai politik Islam di sana menang 80% tetapi kemenangannya tidak diakui demokrasi dan ditetapkan sebagai partai terlarang. “Di mana itu demokrasi. Padahal sudah menempuh dan memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan demokrasi. Begitu juga dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Hamas di Palestina juga tidak diakui kemenangannya,” jelasnya.
Menurutnya, umat Islam harus fokus memperjuangkan Islam, jangan terjebak hanya ingin orang Islam yang menang, tetapi syariat Islam yang menang dan diterapkan dalam segala aspek kehidupan. “Dari situ kita bisa melihat, kita mau memperjuangkan apa? Kita ingin memperjuangkan Islam atau orangnya? Yang kita inginkan adalah Islam yang diterapkan bukan hanya orang muslim yang menang,” ucapnya.
Bukan Kudeta
UIY menyampaikan, dakwah memang menginginkan perubahan ke arah Islam tetapi hal itu bukan kudeta berdarah-darah sebagaimana anggapan yang pernah ada dan yang harus dilakukan adalah penyadaran politik di tengah umat agar mau kembali diatur dengan syariat Islam.
“Umat Islam itu baru kali ini hidup tanpa imam. Biasanya umat Islam selalu dipimpin oleh khalifah. Betapa pentingnya kepemimpinan Islam (khilafah), tetapi hari ini tidak ada. Dalam sirah nabawi tidak ada kudeta karena kesadaran politik umat bertemu dengan kesadaran para pemilik kekuasaan,” urainya.
Kekuasaan itu, lanjutnya, mutlak diperlukan untuk menerapkan syariat Islam. “Kekuasaan dalam konteks konstitusi formal hari ini didapat dengan pemilu, tetapi pemilu yang ada tidak pernah didesain untuk terjadinya perubahan besar penerapan syariat Islam secara kafah,” bebernya.
Menurutnya, umat perlu melihat jalan lain, jalan lain itu pernah terjadi di negeri Indonesia juga. “Seperti perubahan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Seperti Orde Baru ke Orde Reformasi. Perubahan besar itu yang harus dihela, yakni yang penting kesadaran umat. Kalau kita ingin perubahan besar ke arah Islam, ya yang terpenting itu yang harus ditanamkan adalah kesadaran umat. Di situlah kita berperan aktif dalam hal itu,” urainya.
Istilah menanamkan kesadaran umat, ungkapnya, memang kontroversial, tetapi ini bukan kudeta. “Intinya adalah kesadaran umat bukan kudeta. Kita harus berpikir ke sana untuk terjadinya perubahan yang kita inginkan,” tegasnya.
Bukan Penonton
Ia menjelaskan, umat Islam harus menjadi pelaku dakwah politik. “Apakah kita hanya menjadi penonton? Jika itu adalah politik praktis yakni mereka yang sedang berlaga dalam pemilu demokrasi, memang kita tidak terlibat dalam politik praktis demokrasi. Namun, jika kita memahami dalam konteks sebenarnya, tudingan itu terbantah karena yang kita lakukan di Indonesia adalah politik dakwah atau dakwah politik,” urainya.
Kalau yang dilakukan dakwah politik, lanjutnya, maka yang sudah dilakukan tidak hanya menjadi penonton tetapi menjadi pelaku utama. “Dakwah politik adalah bagaimana berdakwah di tengah umat, menyampaikan ide Islam, membantah ide yang bertentangan Islam, hingga muncul kesadaran politik Islam,” paparnya.
Kesadaran politik Islam, ungkapnya, yaitu umat menyadari hanya dengan Islam yang pantas mengatur kehidupan. Dalam melakukan penyadaran politik, jelasnya, dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan diskusi, seminar, konferensi, muktamar dari level nasional dan internasional yang membangkitkan umat.
“Dalam melakukan perubahan, pertama, melakukan penyadaran politik umat atau rakyat. Kedua, mencari dukungan dari ahlu quwwah (pemilik kekuasaan) atau ahlu nushrah (penolong), sehingga penting mereka memiliki kesadaran Islam dan mendukung penerapannya juga,” tandasnya. [MNews/IK]
