Muslimah News, INTERNASIONAL — Laporan-laporan berbahasa Ibrani milik Zion*s telah mengungkapkan besarnya korban jiwa di antara pasukan pendudukan selama 414 hari perang. Nama-nama 804 tentara yang tewas, termasuk prajurit dan perwira, sejak awal perang telah dipublikasikan.
Korban jiwa tidak berhenti di situ karena jumlah yang menderita gangguan psikologis parah telah meningkat dengan beberapa di antaranya menderita kecenderungan bunuh diri.
Dilaporkan juga bahwa jumlah tentara cacat yang menerima perawatan di departemen rehabilitasi Kementerian Pertahanan telah meningkat menjadi 70 ribu tentara setelah 8.663 tentara yang terluka bergabung sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023.
Channel 7 milik Zion*s Yahudi mengindikasikan bahwa 35% dari yang terluka, dirawat karena penyakit mental. Sementara itu, analisis yang dilakukan oleh para spesialis menunjukkan bahwa sekitar 40% dari yang terluka yang akan dirawat di rumah sakit pada akhir tahun mungkin menderita berbagai penyakit mental, termasuk kecemasan, depresi, gangguan stres pascatrauma, serta kesulitan beradaptasi dan berkomunikasi.
The Jerusalem Post melaporkan bahwa lebih dari 10 ribu tentara cadangan telah meminta layanan kesehatan mental. Sebaliknya, surat kabar Yedioth Ahronoth merilis bahwa sedikitnya enam tentara bunuh diri dalam beberapa bulan terakhir, juga terjadi kondisi psikologis yang rapuh dari para tentara yang menderita gangguan stres pascatrauma. Selain itu, 98% keluarga tentara pendudukan melaporkan kerugian psikologis atau mental kepada anak-anak mereka sebagai akibat dari tugas sebagai pasukan cadangan.
Membenarkan Operasi Kriminal
Aktivis dakwah Bilal al-Muhajir dalam Kantor Berita ideologis internasional, Kamis (28-11-2024), menyatakan, Zion*s memunculkan statistik yang mengejutkan dengan menganggap diri mereka sebagai korban dan meratapi diri mereka sendiri untuk membenarkan operasi kriminal di Gaza dan Palestina.
“Tujuannya untuk menyesatkan opini publik dunia dan mendapatkan simpati, meskipun mereka adalah penjahat,” ungkapnya.
Padahal, sambungnya, para individu, partai, dan kekuatan negara Yahudi mengeklaim bahwa mereka adalah negara yang hebat dan tidak terkalahkan.
“Mereka membanggakan kemampuannya untuk membasmi siapa pun yang menentangnya. Mereka mencoba menyembunyikan kebenaran tentang kerugian yang dideritanya dalam perang biadab yang dilancarkannya terhadap orang-orang yang tidak berdaya di Gaza. Namun, saat ini mereka mencoba memutarbalikkan kisah tentang kekuatan “seekor singa”,” ujarnya.
Dalam pandangannya, kekalahan yang diumumkan ini menegaskan fakta bahwa orang-orang Zion*s tidak layak untuk diperangi maupun diteguhkan posisinya, meskipun mereka mengeklaim sebaliknya.
“Mereka telah kehilangan akal sehat selama pembunuhan dan pembersihan etnis yang mereka lakukan, dengan dukungan tentara Salib Amerika dan global terhadap wanita, anak-anak, dan orang tua yang tidak bersalah,” jelasnya.
Jadi, tegasnya, bagaimana jika mereka benar-benar diperangi dan dibunuh oleh tentara muslim mana pun yang saat ini ditempatkan di baraknya, dari dekat atau dari jauh?
“Yang membuat fakta ini pahit bagi kaum muslim adalah hal itu terjadi tepat di depan mata tentara muslim. Namun, para tentara muslim itu menggunakan alasan yang tidak akan diterima oleh orang waras karena mengabaikan kewajiban yang tidak sulit, yakni ketika menghadapi tentara yang lemah dan orang-orang yang pengecut,” bebernya.
Bilal mengingatkan dengan firman Allah dalam QS An-Nisa: 104, “Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan sebagaimana kamu rasakan, sedangkan kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
Ia menilai, kerugian ini dibesar-besarkan di media untuk memberi kesan bahwa Zion*s dirugikan dalam jumlah yang sama dengan apa yang mereka timpakan di Gaza.
“Hal ini dilakukan untuk meredam kemarahan umat atas apa yang terjadi pada kaum mereka di Palestina yang diberkati, untuk meredam kemarahan orang-orang yang tulus di pasukan muslim, dan untuk membenarkan pembantaian yang terus dilakukan oleh Zion*s,” ungkapnya.
Pandangan Syariat
Hanya saja, ia menekankan, pandangan hukum syariat adalah yang harus diutamakan dalam benak umat dan pasukannya bahwa tumpahnya darah seorang muslim lebih besar di sisi Allah Taala daripada Ka’bah yang suci, sedangkan darah seluruh penduduk bumi dari kalangan orang-orang kafir tidak dapat menyamainya.
“Oleh karena itu, wajib bagi umat dan pasukannya untuk menghormati darah para syuhada yang jumlahnya lebih dari 50 ribu dan bekerja keras untuk membalaskannya. Diperlukan persiapan untuk pertempuran besar yang dahsyat di saat umat akan memerangi kaum Yahudi dan mengalahkan mereka,” paparnya.
Ia pun menutup dengan sabda Rasulullah saw. riwayat Bukhari dan Muslim,“Kalian akan berperang melawan orang-orang Yahudi sampai sebagian dari mereka bersembunyi di balik batu. Batu-batu itu akan mengkhianati mereka sambil berkata, ‘Wahai hamba Allah Taala! Ada seorang Yahudi bersembunyi di belakangku, maka bunuhlah ia.” [MNews/RA]
