[Kabar] Aktivis: Tidak Boleh Membiarkan Nilai dan Harapan Kita Didefinisikan oleh Sumber-Sumber Non-Islam

[Kabar] Aktivis: Tidak Boleh Membiarkan Nilai dan Harapan Kita Didefinisikan oleh Sumber-Sumber Non-Islam

Muslimah News, INTERNASIONAL — Sky Sports dan media berita lainnya melaporkan berita utama pada Rabu (30-10-2024) bahwa seorang pemain sepak bola muslimah yang dilarang bermain karena mengenakan celana panjang olahraga, alih-alih celana pendek, menerima permintaan maaf dari The Football Association (FA).

Insiden ini terjadi pada Iqra Ismail, pemain sepak bola muslimah yang tidak diizinkan bermain untuk klub sepak bola lokalnya di Inggris. Saat itu, ia menolak mengorbankan keyakinan agamanya dengan mengenakan celana pendek. Pelatih mengatakan kepadanya bahwa celana panjang merupakan pelanggaran aturan berpakaian dalam pertandingan.

Dalam sebuah pernyataan, Ismail berkata, “Mereka bertanya kepada saya mengapa sepak bola perempuan kurang beragam, mengapa sulit menemukan perempuan yang mirip dengan saya dalam permainan kompetitif. Hal-hal seperti ini adalah alasannya.”

Dalam sebuah video yang diunggah di media sosial, Ismail berkata, “Liga Sepak Bola Perempuan London Raya telah menghentikan saya bermain karena keyakinan agama saya, karena saya menolak mengenakan celana pendek sebagai perlengkapan bermain saya.”

Pada Selasa, FA meminta maaf kepada Ismail secara langsung setelah diberitahu oleh seorang wasit dalam pertandingan Liga Sepak Bola Perempuan London Raya bahwa ia tidak akan diizinkan berada di lapangan jika ia tidak mengenakan celana pendek.

Pada Rabu, Liga Sepak Bola Perempuan London Raya (Greater London Women’s Football League) merilis pernyataan, “Liga Sepak Bola Perempuan London Raya berkomitmen penuh untuk memastikan bahwa sepak bola adalah lingkungan yang inklusif dan ramah bagi semua orang. Kami ingin terlibat secara positif dengan Iqra seperti yang kami lakukan dengan semua anggota kami”.

Tampak seperti Kemenangan

Menanggapi peristiwa tersebut, aktivis muslimah Imrana Muhammad, Senin (4-11-2024), menyatakan kepada Kantor Berita Ideologis bahwa insiden ini mungkin tampak seperti kemenangan bagi perempuan muslim dan hak-haknya.

“Namun, kita, sebagai pengikut Al-Qur’an dan Sunah, tidak boleh membiarkan nilai-nilai dan harapan kita didefinisikan oleh sumber-sumber non-Islam. “Permintaan maaf” ini diberikan secara bersyarat. Itu berarti bahwa nilai-nilai liberal adalah ukuran baik dan buruk, bukan apa yang menyenangkan Allah Swt.,” tegasnya.

Ia menjelaskan, ada banyak aspek lain dari perilaku dan moral perempuan muslim yang akan ditentang oleh entitas seperti Asosiasi Sepak Bola. Pertunjukan publik seorang perempuan dan auratnya, ungkapnya, termasuk gerakan fisik dalam kapasitas olahraga dengan penonton laki-laki di sana, memiliki kontradiksi yang jelas dalam hukum-hukum syariat.

“Selain itu, “izin” dapat diberikan dan dicabut atas kemauan opini publik. Perlu dicatat bahwa Khilafah adalah satu-satunya otoritas yang sah yang akan memastikan bahwa hak-hak muslimah tidak akan pernah dicabut atau dilanggar dari generasi ke generasi,” paparnya.

Sebagai muslimah, lanjutnya, kita tidak boleh memiliki warisan saat anak perempuan kita diperlakukan seperti pilihan dalam permainan yang tidak dihormati dan dipermalukan menurut tren olahraga atau mode dalam ide-ide sosial.

“Allah Swt. telah memberikan pola pikir yang jelas tentang bagaimana kita memandang kemajuan identitas Islam dan bagaimana amir mengamankannya sebagai pemimpin politik negara Islam yang sah yang akan mengawasi semua bidang sistem, mulai dari kesehatan, kekayaan, keadilan, dan pendidikan,” ungkapnya.

Tidak Pantas

Tidaklah pantas, jelas Imrana, orang beriman mengemis kepada otoritas non-Islam untuk segala jenis “izin”.

Kemudian, ia membacakan QS Ali-Imran ayat 7, “Dialah yang telah menurunkan Kitab kepadamu (Muhammad); di dalamnya ada ayat-ayat yang jelas yang menjadi dasar Kitab itu, dan ada pula yang tidak jelas. Adapun orang-orang yang hatinya menyimpang, maka mereka akan mengikuti ayat-ayat yang tidak jelas itu, mereka mencari perselisihan dan mencari penafsiran yang sesuai. Dan tidak ada yang mengetahui penafsirannya (yang benar) selain Allah. Namun, orang-orang yang yakin dalam ilmunya berkata, ‘Kami telah beriman kepadanya. Semuanya dari Tuhan kami.’ Dan tidak ada yang diberi peringatan kecuali orang-orang yang berakal.”

Dengan peringatan yang jelas ini, bebernya, muslimah harus melihat bahwa kemenangan bukan sebagai prestasi olahraga sesaat karena neraka dan surga sebagai tujuan tidak boleh dianggap permainan.

“Kemenangan sejati datang dari ketundukan penuh kepada Al-Qur’an dan Sunah, bukan penerapan Islam secara parsial,” pungkasnya. [MNews/AH]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *