Muslimah News, NASIONAL — Cinta kepada Nabi Muhammad saw. harus diwujudkan dengan mengikuti semua ajarannya, termasuk di dalamnya sistem kepemimpinan Islam kafah yang dicontohkannya. Demikian disampaikan cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) dalam dialog “Mencintai Nabi saw., Meneladani Kepemimpinan Nabi saw.” dan Launching Buku “KHILAFAH” Memahami Sistem Politik dan Pemerintahan Islam, Ahad, (27-10-2024).
Ia merasa prihatin, banyak masyarakat yang belum itibak kepada Rasulullah saw. secara kafah. “Masih banyak masyarakat yang berpikir sekuler sehingga warisan seputar kepemimpinan dan sistem yang ditinggalkan Rasulullah saw. tidak memiliki harga di hadapan seorang muslim,” terangnya.
Sebagai contoh, ungkapnya, ada banyak yang masih mengikuti pola kepemimpinan sekuler yang terbukti telah menciptakan kerusakan multidimensi. Padahal, katanya, Rasulullah saw. telah mencontohkan kepemimpinan Islam secara kafah dalam bingkai Khilafah Islamiah dan terbukti telah ada selama 13 abad.
Ia menegaskan, langkah yang ditempuh untuk menata pemahaman masyarakat terkait kepemimpinan dan sistem warisan Rasulullah saw. adalah dengan mengedukasi tentang Khilafah dan hal itu lengkap terangkum dalam buku Khilafah: Memahami Sistem Politik dan Pemerintahan Islam. “Sehebat apa pun kita bicara sistem dan kepemimpinan, tidak akan pernah bisa memberikan impresi atau kesan sebagaimana yang ditinggalkan Nabi Muhammad saw.,” ucapnya.
Itibak
Cinta kepada Nabi Muhammad saw., jelas UIY, buktinya adalah itibak. Makna itibak, paparnya, adalah mengagungkan, mengikuti, dan meneladan Nabi Muhammad saw.. “Ini artinya, mengikuti ajaran, perkataan, dan tindakan Rasulullah Muhammad saw. dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ciri paling utama cinta kepada Rasulullah saw.,” jelasnya.
Seorang muslim, paparnya, yang mengaku betul-betul itibak harus mau mengikuti ajaran Rasulullah saw. secara keseluruhan. “Namun, jika tidak mau mengikuti perintah dan larangan-Nya, maka orang itu disebut al-kadzib atau pendusta,” ucapnya.
Seorang muslim, bebernya, sangat penting mencurahkan rasa cinta dan kekaguman terhadap Rasulullah saw. melebihi kepada makhluk lain. “Inilah haqqul itibak yang seharusnya ditampakkan seorang muslim kepada Nabinya,” tegasnya.
Nomor Satu
UIY menjelaskan, orang nonmuslim saja, Michael H. Hart (28 April 1932) menempatkan Nabi Muhammad saw. nomor satu dalam buku The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (100 Tokoh Paling Berpengaruh: Dalam Sejarah). “Bentuk subjektivitas Michael H. Hart sebagai seorang Nasrani ingin menempatkan Yesus sebagai nomor satu. Namun, objektivitasnya mengatakan Nabi Muhammad nomor satu,” katanya.
Lanjutnya, Michael H. Hart tidak ragu-ragu menempatkan Nabi Muhammad di nomor satu karena Beliau saw. menikah, memimpin keluarga, memimpin negara, hingga peperangan. “Selain itu, Nabi Muhammad saw. bahkan memimpin sebuah masyarakat, mengaturnya, menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi, dan Yesus tidak melakukan hal itu,” tandasnya. [MNews/IK]
