[Kabar] Akademisi: Perguruan Tinggi Diarahkan Menjadi PTN-BH untuk Meningkatkan Pendapatan dan Reputasi

[Kabar] Akademisi: Perguruan Tinggi Diarahkan Menjadi PTN-BH untuk Meningkatkan Pendapatan dan Reputasi

Muslimah News, LENSA DAERAH – Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Riau (Unri) Dr. Mexsasai Indra S.H., M.H. mewakili Rektor Unri Prof. Dr. Sri Indarti, M.Si. membuka acara Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat (SNPM) ke-6 Unri dalam rangka implementasi peningkatan kegiatan di bidang pengabdian kepada masyarakat dan publikasi ilmiah, Rabu (23-10-2024). 

Mexsasai menyatakan, upaya hilirisasi telah menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. “Upaya ini sudah harus dilakukan agar nilai tambah suatu nilai karya dapat dinikmati oleh masyarakat. Nilai tambah ini pada akhirnya juga dapat menambah kekuatan ekonomi negara. Dalam memperkuat ekonomi, perwujudannya adalah perlu kerja sama dan sinergi yang baik antarsemua elemen yang ada, baik antara masyarakat, unsur dari perguruan tinggi dari hasil risetnya dan aktivitas pemberdayaan kepada masyarakat, pemerintah daerah, dan berbagai elemen lainnya,” tandasnya.

Menyoroti hal di atas, akademisi dan pengamat sosial ekonomi Yeni Asropi, Ph.D. menilai, saat ini perguruan tinggi negeri diarahkan menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) yang mandiri dan mampu mengelola potensi sumber dayanya agar mampu meningkatkan pendapatan dan reputasinya.

“Hal ini sejalan dengan standar World Class University (WCU) yang salah satunya mensyaratkan perguruan tinggi untuk berbadan hukum. Dalam meningkatkan pendapatan dan reputasi, konsep yang digagas adalah sinergi pentahelix (perguruan tinggi, dunia industri, pemerintah, masyarakat, dan media) untuk memberdayakan hasil riset perguruan tinggi melalui proses hilirisasi,” ungkapnya kepada MNews, Senin (4-11-2024).

Ia mengutip pernyataan Dirjen Dikti Kemendikbud (periode 2017—2020) Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC., Ph.D., “Sinergi merupakan prinsip untuk kita bisa naik terus ke atas ibaratnya seperti garuda yang terbang. Paruhnya ini kita respresentasikan dengan perguruan tinggi yang kita fokuskan pada World Class University. Sayapnya yang lebar, yaitu pendidikan yang menjadi tulang punggung penggerak ekonomi, sebagai pengembangan sumber daya manusia yang terampil dan siap dalam membangun daerah dan kakinya yang siap mencengkeram untuk mengambil setiap peluang agar bisa maju ke depan. Dari berbagai forum diskusi yang dilakukan dengan mitra industri dan perguruan tinggi, banyak mutiara-mutiara di kampus yang seharusnya bisa menjadi solusi bagi industri.”

“Terkait persepsi ini, perlu kita cermati bahwa konsep world class university ini berbasis pada knowledge-based economy. Dalam konsep ini maka ilmu pengetahuan dan riset merupakan fondasi untuk menghasilkan nilai komersial,” ujar Yeni.

Menurutnya, sepintas tidak ada masalah dengan komersialisasi riset melalui link and match antara kampus dengan industri. Kampus, ucapnya, butuh dana untuk mengembangkan hasil temuan dari risetnya menjadi produk atau jasa yang bernilai jual dan industri tentunya memiliki modal untuk mengembangkannya sehingga terjadi simbiosis yang saling menguntungkan antara kampus dan industri.

Kapitalisme

Yeni mengingatkan, intelektual muslim harus memahami bahwa sinergi pentahelix ini merupakan konsep yang diadopsi dari luar dunia Islam yang berasal dari prinsip kapitalisme.  “Wajar jika konsep yang ditawarkan steril dari fondasi akidah dan terlepas dari koridor syariat Islam karena tidak menjadi faktor yang mereka pertimbangkan,” kritiknya.

Konsep pentahelix ini, menurutnya, telah menyebabkan dominannya kepentingan dan arahan industri di dunia pendidikan tinggi.

“Pendanaan riset didominasi juga oleh dunia industri sehingga fokus riset saat ini adalah mencari solusi bagi masalah-masalah industri pemberi dana yang ini sifatnya komersial mengejar laba dan sering kali tidak sejalan dengan masalah yang dihadapi oleh masyarakat,” kritiknya.

Selain itu, ia melanjutkan, berbagai inovasi yang dihasilkan di perguruan tinggi selanjutnya dikembangkan dan dikomersialisasi untuk target laba semata sehingga masyarakat luas sulit untuk mengaksesnya, kecuali dengan membayar harga tinggi yang tidak bisa dijangkau oleh semua level masyarakat.

“Jadi, link and match riset perguruan tinggi dalam konsep pentahelix ini hanya menguntungkan pihak pemodal (pemilik kapital) sesuai dengan sistem ekonomi kapitalisme karena hilirisasi yang terjadi adalah komersialisasi, bukan menjadikannya bermanfaat bagi masyarakat luas,” simpulnya.

Islam

Yeni lalu membandingkan dengan konsep Islam dalam pengembangan riset perguruan tinggi. “Islam memiliki konsep yang khas dalam mengelola riset dan inovasi yang telah terbukti mewujudkan abad keemasan Islam sebagai mercusuar kemajuan iptek global,” jelasnya.  

Belajar dari masa penerapan Islam, lanjutnya, negara (daulah) Islam menjadi penanggung jawab penuh, bukan sekadar regulator atau fasilitator karena belajar (thalabul ‘ilmi) dalam Islam adalah kewajiban setiap muslim yang wajib dijamin negara.

“Negara melalui baitulmal mengelola dana dari SDA untuk digunakan bagi kepentingan masyarakat termasuk pembiayaan pendidikan dan riset inovasi. Semua lapisan masyarakat mendapat akses pendidikan sehingga potensi keilmuan dan inovasi seseorang tidak dibatasi oleh dana yang dimiliki orang tuanya,” bebernya.

Oleh karena itu, Yeni tidak heran jika pada masa keemasan pendidikan Islam muncul mutiara sesungguhnya yang menghasilkan penemuan yang dikembangkan oleh negara untuk kepentingan masyarakat.

“Terbukti dunia Islam di bawah naungan syariat menjadi mercusuar inovasi dunia. Masyarakat dapat menikmati berbagai kemajuan iptek karena memang disediakan oleh negara. Islam memandang pengetahuan dan teknologi sebagai sarana memajukan kehidupan sekaligus meraih reward di akhirat, bukan sebagai mesin penghasil uang,” urainya.

Ia menerangkan, link and match dalam peradaban Islam akan terwujud melalui aliran dana untuk riset yang kontinyu dari Khilafah kepada para intelektual di perguruan tinggi.

“Kebutuhan ini akan disesuaikan dengan kebutuhan negara dalam berbagai departemen yang ada dalam struktur daulah Khilafah yang tugasnya mengurusi masyarakat. Selanjutnya inovasi yang dicapai dikembangkan lagi oleh negara untuk diakses secara gratis oleh masyarakat. Para intelektual di perguruan tinggi akan menjadi solusi bagi problematika masyarakat, menjadi insan yang paling bermanfaat bagi masyarakat sekaligus membawa keberkahan di dunia dan di akhirat,” tutupnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *