Muslimah News, NASIONAL — Dalam sepekan terakhir, terjadi beberapa peristiwa kekerasan yang dilakukan orang tua—ayah dan ibu—terhadap anak. Di Badung, Bali, seorang balita (4 tahun) disiksa hingga patah tulang oleh ibu kandung dan ayah tirinya.
Sementara itu, di Pasar Rebo, Jakarta Timur, bocah laki-laki berusia 5 tahun mengalami luka sekujur tubuhnya karena dianiaya oleh ibu kandung dan ayah tirinya. Mirisnya, penganiayaan sudah berlangsung lima bulan.
Pengamat masalah perempuan, anak, dan generasi dr. Arum Harjanti menyatakan, maraknya kekerasan orang tua terhadap anak sejatinya menggambarkan rusaknya kehidupan dalam berbagai segi.
“Dua kasus tersebut menambah panjang kekerasan orang tua terhadap anaknya sendiri, bahkan besar kemungkinan banyak yang tidak tercatat oleh media. Makin miris karena anak yang dianiaya adalah anak yang masih balita yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan perlakuan yang lemah lembut,” tuturnya kepada MNews, Jumat (1-11-2024).
Terlebih, ungkapnya, anak usia balita adalah anak yang masih belum mampu berpikir sempurna. “Oleh karena itu, kekerasan terhadap anak balita, apalagi oleh orang tuanya adalah kejahatan yang sangat tidak berperikemanusiaan,” ucapnya.
Ia mengakui bahwa mengurus balita memang tidak mudah. “Dengan kemampuan komunikasi dan berpikirnya yang belum matang, mengurus anak usia tersebut memang menguras kesabaran. Inilah yang membutuhkan kesiapan orang tua dalam mengasuh anaknya dengan penuh kelembutan, kasih saying, dan kesabaran,” jelasnya.
Ketakmampuan
Ketakmampuan orang tua dalam mengendalikan emosi dalam menghadapi anak usia ini, lanjutnya, akan berakibat fatal, baik pada masa sekarang maupun pada perkembangan tahap selanjutnya.
“Pengalaman masa kecil akan memberikan pemgaruh besar terhadap masa depannya. Orang tua harus memahami cara pengasuhan yang baik dan tidak mengakibatkan adanya luka batin masa anak-anak yang dapat berpengaruh buruk ketika ia dewasa,” paparnya.
Kemampuan orang tua dalam memberikan pengasuhan yang tepat, urainya, memang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor keluarga, lingkungan, maupun pendidikan.
“Interaksi dan pola pengasuhan dalam keluarga sangat berperan penting dalam membentuk kepribadian seseorang termasuk kematangan emosinya. Bahkan, ia menjadi dasar perkembangan kepribadian pada masa yang akan datang,” imbuhnya.
Demikian pula, sambungnya, lingkungan masyarakat dan pendidikan yang ditempuh memberikan pengaruh besar dalam proses menjadi orang tua.
“Sayangnya, kondisi hari ini justru kontra produktif dalam pembentukan kepribadian yang kuat, termasuk dalam membentuk individu menjadi orang tua yang baik, penuh kasih sayang, dan mampu memberikan pengayoman kepada buah hatinya dan penghidupan yang sejahtera,” ucapnya.
Orang tua hari ini, tuturnya, harus berjuang keras mendapatkan kehidupan yang layak. “Kesejahteraan sangat sulit terwujud meski para ibu juga ikut berjuang dalam mencari nafkah. Perjuangan ibu pun makin berat karena kadang harus meninggalkan buah hati,” ujarnya.
Ia menilai, munculnya berbagai persoalan dan makin jauhnya tuntunan agama menjadikan tekanan hidup makin meningkat.
“Dalam situasi kehidupan seperti ini, wajar jika emosi makin mudah tersulut. Situasi ini makin berat ketika harus dihadapkan pada balita yang membutuhkan kesabaran kuat. Berbagai kondisi ini ketika bertemu pada satu titik akan menghantarkaan terjadinya kekerasan terhadap anak,” urainya.
Buah Sekularisme
Dalam pandangan Arum, fenomena tersebut menggambarkan rapuhnya ketahanan keluarga di tengah masyarakat. “Kondisi ini adalah buah dari sistem kehidupan yang diterapkan hari ini. Negara menjadi pihak yang paling bertanggung jawab karena negaralah yang menerapkan sistem kehidupan yang rusak ini, yaitu sistem sekuler kapitalisme,” cetusnya.
Sistem ini, terangnya, terpancar dalam setiap kebijakan yang ditetapkan negara dalam pengaturan urusan umat atau layanan publik, seperti mahalnya kebutuhan pokok, dihapusnya berbagai subsidi, juga kapitalisasi layanan kesehatan dan pendidikan, serta terbatasnya lapangan kerja.
“Selain itu, negara juga membuat kebijakan yang mengakibatkan umat makin jauh dari aturan agama, di antaranya pengarusan moderasi beragama dan legalisasi pinjol. Akibatnya, umat makin lemah keimanannya dan akhirnya membuat keluarga menjadi rapuh,” ulasnya.
Keyakinan kepada Allah
Ia menuturkan, rapuhnya keluarga dapat dicegah ketika keluarga memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah Taala. “Demikian pula, jika fungsi keluarga berjalan sesuai dengan seharusnya sehingga terwujud keluarga sakinah, mawadah, wa rahmah,” katanya.
Namun, sambungnya, semua itu tentu membutuhkan peran negara, baik dalam membina individu, memudahkan rakyat mengakses kebutuhan pokok, maupun menerapkan sistem kehidupan yang menjamin kehidupan yang sejahtera, aman dan nyaman, serta penuh ketenangan.
“Kehidupan seperti ini hanya akan terwujud ketika negara menerapkan aturan Allah secara kafah. Penerapan aturan yang berasal dari Pencipta manusia. Aturan terbaik untuk manusia tentu akan membawa kebaikan. Allah sudah menjanjikan penerapan aturan Allah secara kafah dalam bingkai Khilafah Islamiah akan membawa rahmat bagi seluruh alam,” jelasnya.
Bahkan, ungkapnya, Will Durant, seorang sejarawan Barat, dalam bukunya Story of Civilization menyatakan, “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.”
Oleh karenanya, ia mengingatkan melalui firman Allah Taala dalam QS Thaha ayat 124 untuk menguatkan umat Islam agar menerapkan aturan Allah secara kafah, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. [MNews/RA]
