[Kabar] Gelar Temu Muslimah Muda, Pemuda Palembang Kritisi Pengerukan Batu Bara oleh Oligarki

[Kabar] Gelar Temu Muslimah Muda, Pemuda Palembang Kritisi Pengerukan Batu Bara oleh Oligarki

Muslimah News, LENSA DAERAH – Sekitar tiga ratus pemuda dan aktivis mahasiswa menghadiri gelaran Temu Muslimah Muda 2024 bertajuk “The Next Level Activism: We Aspire, We Engage, & We Stand for Islam Kaffah”, Ahad (27-10-2024) di Kota Palembang.

Agenda spektakuler itu merupakan bagian dari Temu Muslimah Muda 2024 yang diselenggarakan serentak secara hibrida dari berbagai penjuru Nusantara yang tercatat diikuti oleh sekitar 17 ribu peserta dari kalangan pemuda dan aktivis. Acara berlangsung epik dengan berbagai tampilan dan materi yang menggugah dari narasumber lintas negara.

Sementara di panggung Palembang, aktivis muslimah muda, Fuja Ayu Amalia tampil menggugah nalar kritis pemuda yang hadir dari berbagi wilayah di Sumatra Selatan (Sumsel), seperti Kota Indralaya, juga Lubuk Linggau, selain dilaksanakan pula di Kota Palembang. Dalam penampilannya, Fuja mengungkap fakta ironis Sumsel yang memiliki cadangan batu bara terbesar kedua di Indonesia, tetapi warganya masih miskin. Bahkan, menurutnya, di Kota Palembang masih ada 10 ribu kepala keluarga yang terbilang miskin ekstrem karena berpenghasilan hanya Rp10 ribu per hari.

Padahal, lanjutnya, tongkang-tongkang pengangkut batu bara setiap hari lalu-lalang di Sungai Musi. Tiga bulan pertama tahun ini saja, ungkapnya produksi batu bara Sumsel hampir 20 juta ton, sedangkan selama 2023 mencapai 105 juta ton. “Tapi, kok bisa wong Paembang masih ado yang penghasilannya Rp10 ribu per hari? Itu tongkang, jalan everyday, bawa berton-ton batu bara, dibawa ke mana? Ibarat gebetan nih, direbut temen depan mato. Sakit enggak? Sakitnya tuh di sini di dalam hatiku,” ujarnya seraya mengikuti nada lagu yang sempat viral.

Ia menilai, hal yang aneh ketika Sumsel yang bukan hanya kaya batu bara, melainkan juga minyak, gas, perkebunan, dan perikanan, tetapi masyarakatnya masih miskin. Menurutnya, ini karena keuntungan penjualannya dinikmati segelintir oligarki.

“Keuntungan penjualan batu bara ke mana larinya? Ya ke mana lagi? Ke para konglo (konglomerat) pemain tambang yang jumlah orangnya bisa dihitung jari. Orang bilang, ke oligarki,” katanya.

Makin miris dan mencemaskan, bebernya, karena fakta 10 juta Gen Z dikabarkan menganggur dan kehidupan serba sulit. “Hidup yang serba sulit ini akhirnya bikin stres. Enggak sedikit yang kena mental illnes, mulai yang dikit-dikit baper, dikit-dikit merasa paling menderita, dikit-dikit overthinking. Lari ke pinjaman online, judi online, gim online, prostitusi online,” sesalnya.

Kemudian, aktivis muslimah muda Pipit Hanifah, S.E. dalam penampilannya mengungkapkan bahwa fakta-fakta kesempitan hidup, mulai dari sulit cari kerja, uang kuliah tunggal mahal, harga-harga naik ugal-ugalan yang berimbas ke tingginya kejahatan, kebodohan, hingga pergaulan bebas, semuanya adalah problem sistemis akibat penerapan sistem kapitalisme demokrasi.

Ia menerangkan, demokrasi punya prinsip “suara rakyat suara Tuhan” yang artinya meletakkan kedudukan wakil rakyat disamakan dengan Tuhan sehingga aturan dibuat oleh wakil rakyat (manusia), tetapi tanpa berdasarkan wahyu dari Allah Taala. Ditambah lagi, lanjutnya, ongokos politik dalam demokrasi mahal sehingga membuka peluang kongkalikong dengan para pemilik modal dengan konsekuensi kebijakan dibuat berpihak kepada kepentingan pemodal, termasuk soal pengelolaan sumber daya alam tambang batu bara.

“Inilah kesalahan fatal demokrasi. Demokrasi bukan semata-mata soal musyawarah, tetapi kedaulatan membuat hukum ada di tangan rakyat. Padahal, yang berhak membuat hukum itu hanyalah Allah Taala,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya kembali kepada Islam. “Kalau dahulu dengan Islam Palembang Darussalam pernah berjaya, kenapa hari ini kita enggak berubah kembali kepada Islam?” tanyanya.

Kejayaan dan kesejahteraan masyarakat di masa Kesultanan Palembang Darussalam sebagai bukti Islam membawa rahmat pun dipaparkan aktivis muslimah muda Alifah Edmatiara Mashabi, S.E., yang makin menggugah pemikiran peserta. Dalam monolognya, ia mengungkap bahwa Kota Palembang adalah saksi sejarah penerapan syariat Islam.

“Pada 1659, diproklamirkan Kesultanan Palembang Darussalam dengan sistem pemerintahan yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan hadis. Islam benar-benar dijadikan landasan sistem pemerintahan. Sultan pertamanya bergelar Sri Sultan Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Iman,” ujarnya.

Antusiasme peserta tampak jelas. Mereka masih tetap hikmat memadati ruangan hingga acara usai. [MNews/Kontributor: Mia]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *