Muslimah News, NASIONAL — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan berbalik melemah pada perdagangan Rabu (9-10-2024) di rentang Rp15.640–Rp15.740 per dolar AS setelah sempat menguat menguat 32 poin atau 0,20% pada penutupan perdagangan Selasa (8-10-2024) di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang menyebabkan harga minyak pun ikut terkerek naik.
Walaupun demikian, pemerintah Indonesia menjamin bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak akan terpengaruh karena telah mempertimbangkan semua elemen risiko yang dapat mempengaruhi sentimen tersebut. Ini karena Kemenkeu telah membuat proyeksi defisit yang merangkak ke level 2,7% saat menyampaikan laporan semester I-2024 ke Banggar DPR, jauh sebelum konflik di Timur Tengah memanas sehingga defisit yang meningkat telah dicatat.
Kompleks
Dosen ekonomi Dr. Hj. Hastin Umi Anisah, S.E., M.M. kepada MNews, Rabu (9-10-2024), menyatakan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, terutama dolar AS, memiliki dampak yang sangat kompleks terhadap ekonomi Indonesia, baik dari sisi positif maupun negatif.
“Dampak tersebut mencakup dampak terhadap inflasi dan daya beli masyarakat; peningkatan beban utang luar negeri; kinerja investasi dan pasar modal; respons kebijakan moneter dan fiskal; skenario jangka panjang; dan skenario jangka pendek,” urainya.
Ia mencontohkan dampak positifnya adalah meningkatnya daya saing ekspor dan pariwisata jika memiliki ekspor dan pariwisata yang diandalkan. “Sedangkan dampak negatifnya terlihat pada peningkatan inflasi, beban utang luar negeri, dan ketakpastian investasi,” bebernya.
Selain itu, sambungnya, akan berdampak pula terhadap keadilan dalam distribusi kekayaan. “Ketika nilai tukar rupiah melemah, sering kali yang lebih merasakan dampaknya adalah kelompok masyarakat berpendapatan rendah,” ucapnya.
Dalam hal ini, ia menerangkan, kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok akibat inflasi membuat kehidupan masyarakat makin sulit, sedangkan kelompok masyarakat kaya yang memiliki aset dalam bentuk dolar atau investasi luar negeri relatif lebih aman.
Dampak lain, tambahnya, adalah meningkatnya beban utang luar negeri, baik bagi pemerintah maupun sektor swasta.
Ajaran Islam
Sebaliknya, Hastin menuturkan, Islam mengajarkan bahwa utang harus dihindari, kecuali dalam situasi darurat. “Prinsip kemandirian ekonomi bertentangan dengan utang yang terlalu besar, terutama yang berbasis bunga atau riba. Ini juga dapat membuat seseorang atau negara merasa terbebani,” jelasnya.
Tidak hanya itu, jelas Hastin, melemahnya nilai tukar rupiah juga dapat menyebabkan volatilitas di pasar keuangan dan ketakpastian dalam transaksi ekonomi. “Hal ini dapat menyebabkan spekulasi yang tidak sehat yang dilarang oleh Islam karena mengandung unsur gharar atau ketakpastian dan maysir atau perjudian,” ungkapnya.
Oleh karena itu, ujarnya, pelemahan rupiah membawa berbagai konsekuensi bagi ekonomi Indonesia sehingga respons kebijakan yang tepat, baik dari sisi moneter maupun fiskal, sangat krusial dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah fluktuasi nilai tukar.
“Ini tantangan serius bagi perekonomian Indonesia. Namun, hal tersebut tidak akan terjadi jika sistem ekonomi yang diterapkan adalah sistem ekonomi Islam. Ini karena dalam sistem ekonomi Islam ada kunci utama, yakni perlindungan terhadap kesejahteraan umat, penghindaran spekulasi dan riba, kemandirian ekonomi, dan pengelolaan utang yang bijaksana,” tutupnya. [MNews/RA]
