[Kabar] UIY Ungkap Penyebab Naik Turunnya Harga Dolar

[Kabar] UIY Ungkap Penyebab Naik Turunnya Harga Dolar

Muslimah News, NASIONAL — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) mengungkap penyebab naik turunnya harga dolar yang memengaruhi nilai rupiah.

“Kalau secara ringkas, penyebabnya ketika orang banyak memerlukan dolar, maka dengan sendirinya [harga] dolar itu akan naik. Itu seperti hukum permintaan dan penawaran,” jelasnya dalam Focus to the Point: “Dolar Naik Turun, Ekonomi Terganggu, Ini Solusi Islam!” di kanal UIY Official, Senin (15-7-2024).

Ia menyampaikan, ada banyak alasan orang memerlukan dolar, seperti keperluan impor yang menggunakan dolar atau bisa juga spekulasi karena faktor-faktor politik, dan sebagainya.

“Ketika dolar mengalami kenaikan atau dolarnya mengalami apresiasi, sedangkan rupiah mengalami depresiasi, pasti akan memberikan implikasi secara ekonomi riil,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, setiap kali ada gejolak moneter, baik berupa apresiasi maupun depresiasi, pasti mengundang perhatian banyak pihak yang mengatakan bahwa bergantungnya dunia pada dolar selama ini itu telah menyebabkan berbagai krisis di beberapa negara, termasuk Indonesia, sehingga mendorong mencari cara melepaskan diri darinya.

Kapitalisme

Memang, menurut UIY, ini terus terjadi dan menjadi fenomena yang tidak bisa dilepaskan dari sistem ekonomi kapitalisme. “Ada dua faktor [penyebab], yaitu  ekonomi dan politik,” ucapnya.

Dari sisi faktor ekonomi, jelasnya, sepanjang dolar digunakan sebagai denominasi untuk transaksi-transaksi global, maka hegemoni dolar tetap akan terus terjadi. “Misalnya, ekspor impor migas yang jumlahnya sangat besar. Sepanjang menggunakan dolar, tetap dolar akan terus berjaya atau hegemonik,” urainya.

Kemudian faktor politik. Ia menerangkan, ketika Amerika memaksakan dolar, maka seperti yang terjadi terhadap Raja Farouk di Mesir dan Sadam Husein di Irak yang “dijatuhkan” AS.

“AS marah karena ada seruan [kedua pemimpin tersebut] untuk denominasi dolar dalam ekspor impor migas. Jika seruan itu dituruti akan membahayakan posisi dolar dalam konteks penggunaan mata uang global,” paparnya.

Faktor ekonomi dan faktor politik tersebut, tegasnya, menunjukkan cermin ketakadilan sistem keuangan dunia saat ini.

“Biaya produksi tiap satu dolarnya itu kurang lebih sekitar 1 sen atau sekitar Rp400, sedangkan kita beli [dengan harga] Rp15.000 atau Rp16.000. Itu kalau $1. Bayangkan kalau untuk lembaran $100 yang bisa mencapai sekitar Rp1,5 juta, padahal harga perlembarnya hanya kira-kira Rp400 sampai Rp600. Jadi, kita membeli barang dengan tingkat keuntungan yang luar biasa,” bebernya.

Kemudian, jelasnya, pemaksaan penggunaan mata uang dolar dalam transaksi global ini membuat AS akhirnya bisa mencetak dolar semau-maunya, bahkan tanpa henti dan tidak khawatir inflasi karena pasar uangnya global sehingga bisa diserap negara-negara lain.

“Itu menimbulkan ketakadilan karena negara-negara lain begitu rupa mempertahankan nilai mata uangnya ditambah kebijakan AS yang memaksa negara lain harus membeli dolar, misalnya dengan menciptakan krisis perang, lewat organisasi global, dan sebagainya,” urainya.

Ia memisalkan, di salah satu pasal letter of intent dinyatakan bahwa Indonesia berkomitmen untuk tidak mengubah denominasi mata uang rupiah ke dalam emas, misalnya. Juga, sambungnya, Indonesia harus selalu melaporkan penemuan dan produksi emas.

“Itu kan menunjukkan bahwa kita ini sebenarnya secara moneter tidak berdaulat karena kita tidak bisa menentukan apa yang harus kita lakukan untuk kebaikan kita sendiri,” ucapnya.

Emas

Padahal, ia menerangkan, yang benar-benar uang adalah emas, bukan dolar. “AS sekarang ini memang bisa mempertahankan hegemoni atau dominasi dolar, tapi ini kan bukan sesuatu yang tidak mungkin berakhir. Misalnya, AS kalah atau dolar bisa berakhir dominasinya,” tukasnya.

Ia mempertanyakan, apa yang bisa diharapkan dari dolar apabila runtuh nilainya saat legal tender oleh pemerintah?

“Kalau pemerintah mengatakan ini tidak berlaku, langsung hanya menjadi kertas berwarna merah. Oleh karena itu, untuk memastikan bahwa ekonomi kita tetap kuat adalah dengan the real money. Apa itu? Ya emas,” tandasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *