Muslimah News, NASIONAL— Akademisi Prof. Dr. Masroro Liliek Ekowanti, M.Si. menyerukan agar berhenti berpikir melakukan perubahan melalui jalan demokrasi.
Hal itu ia sampaikan saat menjadi panelis di acara FGD Intelektual dan Aktivis Muslimah Indonesia dengan tajuk “Tinggalkan Demokrasi, Perjuangkan Islam Kafah untuk Perubahan Hakiki,” yang diselenggarakan secara hibrida di Jakarta, Ahad (7 -7-2024).
Di hadapan peserta yang mencapai seribu orang Prof. Masroro mengatakan, “Saya katakan demokrasi sejak kemerdekaan sampai dengan hari ini merupakan sebuah sistem yang memabukkan atau sihir. Oleh karena itu, hadirnya sistem pemerintahan Islam merupakan keniscayaan, berhenti berpikir melakukan perubahan melalui jalan demokrasi. Sudah saatnya kembali ke sistem Islam.”
Mengawali pemaparannya, ia menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam terhadap saudara sesama muslim di Palestina.
“Kalau menyelesaikan masalah Palestina harus dengan tegaknya Khilafah, mudahkan ya Allah! Saya di sini masih bisa makan, masih bisa salat dengan baik. Tetapi saudara-saudara di Palestina luar biasa. Saya merasa sedih! ‘ Segerakan ya Allah hadirnya Khilafah’, itu doa saya setiap selesai salat Subuh,” tuturnya penuh kesedihan.
Perspektif Sejarah
Prof. Masroro lalu mengulas diadopsinya demokrasi di negeri-negeri Islam kaitannya dengan keruntuhan sistem Islam (baca: Khilafah) dalam perspektif historis. “Penghapusan sistem Khilafah dilakukan sebagai bagian dari syarat yang diajukan oleh Inggris untuk mengakui kekuasaan Mustafa Kemal Attaturk atas negara Turki,” jelasnya.
Mengutip dari kitab Târîkh al-Islâm karya Mahmud Syakir, ia menyebut empat syarat yang diajukan Inggris, yaitu menghapus sistem Khilafah, mengasingkan keluarga Utsmaniyah di luar perbatasan, memproklamirkan pendirian negara sekuler, serta pembekuan hak milik dan harta milik keluarga Utsmaniyah.
“Begitu empat syarat ini disahkan, mereka bersama-sama membentuk negara demokrasi sekuler. Sekuler adalah memisahkan agama dengan negara,” terangnya.
Ia menceritakan, keruntuhan Khilafah disambut sukaria oleh Inggris, bahkan Lord Curzon (Menlu Inggris pada 1924-penj.) mengatakan bahwa inti permasalahannya adalah bahwa Turki telah dihancurkan dan tidak akan bangkit kembali karena kita telah menghancurkan jantung kekuatan spiritualnya yaitu Khilafah dan Islam.
Dalam ulasannya, ia menyampaikan bahwa hampir semua negara di dunia masuk spider trap (jebakan laba-laba) demokrasi melalui nation-state (negara bangsa).
“Hampir 193 negara di dunia semua sudah dikotak-kotak dengan nation- state. Kalau jebakan itu kan ada ujungnya dan yang megang ujungnya [adalah] mereka, yaitu Amerika dan PBB. Jadi, kita kembang-kempis di tengah jaring laba-laba,” tamsilnya.
Demokrasi, jelasnya, diaruskan melalui kebijakan yang membuat dunia menjadi tidak baik-baik saja. Menurutnya, jika Indonesia masih mengadopsi demokrasi, tidak menutup kemungkinan akan dibuat seperti di Gaza.
“Apakah dengan cara ditembaki? Mungkin tidak, tetapi kita akan dibuat maksiat, dibuat sampai murtad. Itu yang akan dilakukan Amerika terhadap kita, kita makin jauh dari harapan yang dituangkan dalam Al-Qur’an dan hadis,” sesalnya.
Ia menambahkan, kebijakan negara sekuler membuat sistem sosial menjadi rusak, L68T merajalela, sistem ekonomi diribakan, bukan hanya bank ribawi tetapi judol dan pinjol juga tumbuh subur.
“Oleh karena itu stop berharap kepada demokrasi. Allah tidak menghendaki seperti itu. ‘Kamu lahir di bumi ini sebagai ciptaan-Ku, maka kalau ingin berjalan di jalan ihdinash shirâtal mustaqîm, maka penuhi semua aturan-Ku,’ kata Allah dalam Al-Quran,” bebernya.
Dalam Al-Qur’an, lanjutnya, perintahnya adalah terapkan Islam kafah! Bukan yang lain, tidak ada demokrasi dalam Al-Qur’an.
“Saya akan menyampaikan kepada saudara-saudara yang hadir di sini maupun yang online. Bangkitlah! Sudah waktunya kita bangkit menjalin sebuah jemaah yang besar, kemudian kita akan menggerakkan perubahan yang bersifat hakiki menuju Islam kafah,” ajaknya memungkasi penuturan. [MNews/IA]
