Muslimah News, LENSA DAERAH – Dalam rangka meningkatkan komersialisasi hasil riset inovasi, Universitas Riau (Unri) melaksanakan kunjungan kerja sama ke PT LEN Industri (Persero), Holding of SOE Defend Industri Indonesia (DEFEND ID).
Pada kesempatan tersebut, atas arahan Rektor Unri melalui Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Sistem Informasi Dr. Ir. Sofyan Husein Siregar, M.Phil., menyampaikan harapan, melalui kerja sama dengan DEFEND ID, hasil riset inovasi dari Unri dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Lebih lanjut Sofyan menjelaskan, selain bidang komersialisasi hasil riset, terbuka juga peluang kerja sama untuk program riset bersama, praktisi mengajar, dan magang mahasiswa.
Hasil riset inovasi Unri yang dipresentasikan pada PT. LEN Industri adalah Manpack Radar. Yusnita Rahayu, S.T., M.Eng., Ph.D., selaku ketua Tim Riset menjelaskan bahwa Manpack Radar merupakan sebuah perangkat yang berfungsi untuk mendeteksi objek dengan jangkauan kurang dari 3 km pada manusia, dan kurang dari 10 km untuk kendaraan besar.
“Manpack Radar didesain dalam bentuk yang compact dan dapat diintegrasikan dengan kendaraan tempur,” papar Yusnita. Lebih lanjut Yusnita menyampaikan, Manpack Radar dapat membantu aparat keamanan, Tentara Nasional Indonesia (TNI) maupun Polri dalam mengawasi wilayah Kesatuan Republik Indonesia.
Jauh
Meski riset inovasi ini ditujukan agar masyarakat luas bisa memanfaatkan hasil risetnya, tetapi praktisi dan pengamat pendidikan Islam Afrahul Fadilah, M.Pd. menilai, ini justru jauh dari kebutuhan masyarakat.
“Jika persepsinya adalah mendapatkan laba (profitabilitas), maka riset yang akan dipilih untuk dikembangkan tentu yang sesuai dengan kepentingan para pemodal dan makin jauh dari kebutuhan masyarakat yang mendesak,” tuturnya kepada MNews, Kamis (27-6-2024).
Menurutnya, tren untuk melakukan hilirisasi hasil riset di perguruan tinggi dengan melakukan kerja sama dengan pihak swasta, sekilas terlihat sangat logis karena swasta adalah pihak yang memiliki modal untuk mengembangkan riset ke tahap komersial hingga dapat diperjualbelikan.
“Namun jika didalami yang mendasari komersialisasi ini adalah konsep Knowledge Based Economy (KBE) yang memiliki target untuk membangun kerjasama kampus di antaranya dengan pemerintah dan swasta dengan konsep triple helix dan pentahelix,” ulasnya.
Dengan konsep ini, sambungnya, maka arahannya adalah mengembangkan riset yang bernilai ekonomi untuk meraih keuntungan yang tidak selalu berkorelasi dengan kebutuhan masyarakat luas.
“Sementara saat ini begitu banyak masalah masyarakat yang butuh solusi, seperti masalah kesejahteraan, banjir, maraknya korupsi, sulitnya mendapat perumahan, dan lainnya,” bebernya.
Islam
Dalam penilaiannya, ini berbeda dengan konsep Islam tentang pengembangan riset. “Islam memiliki perangkat aturan yang lengkap termasuk pengelolaan pendidikan tinggi dan penelitian yang dilakukan,” jelasnya.
Ia menerangkan, kemajuan peradaban Islam selama 13 abad sebagai mercusuar dunia menjadi bukti bahwa penerapan Islam secara totalitas (kafah) telah membawa Daulah Islam mencapai kemajuan ilmu dan teknologi yang menyebar ke seluruh dunia bahkan mengakhiri dark ages di Eropa dengan kemajuan teknologi kaum muslim.
Riset yang dilakukan oleh perguruan tinggi masa kekhalifahan Islam, ucapnya, bersifat mandiri dan berdaulat, steril dari kepentingan profit para pemodal karena dibiayai secara penuh dan berkelanjutan dari kas negara (baitulmal).
“Fokusnya adalah dunia untuk akhirat sehingga segala potensi para pemikir diarahkan untuk mencari solusi bagi masalah masyarakat untuk kemajuan ilmu dan teknologi yang menyejahterakan masyarakat luas, baik muslim maupun nonmuslim,” terangnya.
Ia meyakini, sistem pendidikan Islam yang berbasis akidah dan dibiayai secara penuh dan berkualitas oleh Daulah Islam mewujudkan para pakar berbagai bidang ilmu yang juga merangkap ulama karena memahami syariat dan melakukan berbagai riset produktif yang lillahi ta’ala.
“Namun, tidak berarti para peneliti tidak mendapatkan reward dari hasil kreativitas dan pemikirannya karena Daulah Islam memberikan reward yang luar biasa dan tidak tertandingi sepanjang sejarah untuk para penemu. Daulah Islam kemudian mengembangkan hasil riset tersebut untuk kepentingan masyarakat luas,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, konsep Islam ini merupakan arahan wahyu Allah sehingga sangat kontras dengan kondisi sekarang.
“Saat ini, hasil riset para peneliti harus dikembangkan oleh pihak pemodal swasta, bahkan mungkin swasta asing untuk mendapatkan profit sehingga masyarakat sulit mengakses berbagai inovasi yang mereka butuhkan dengan harga yang terjangkau,” ucapnya.
Ia berharap, sudah waktunya kaum muslim bersegera pada penerapan aturan Allah yang sempurna, termasuk dalam pengelolaan riset dan inovasi sehingga Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dapat terwujud kembali. [MNews/IA]
