Penulis: Syamsuddin Ramadlan an-Nawiy dan M. Haris Adiningrat
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Kemunduran dan kelemahan kaum muslim sejak abad ke-18 di seluruh aspek kehidupan lebih disebabkan karena merosotnya taraf pemikiran mereka. Mayoritas kaum muslim kondisinya awam bahkan terasing dengan pemikiran-pemikiran Islam, baik yang menyangkut masalah keyakinan maupun amal perbuatan. Yang tersisa di benak dan hati mereka hanyalah kesadaran keislaman serta beberapa pemikiran Islam.
Keadaan ini makin diperparah dengan masuknya serangan pemikiran dan peradaban (ghazw al-fikr wa ghazw ats- tsaqafiy) yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam. Akibatnya, warisan berharga yang dimiliki oleh kaum muslim—yakni pemikiran Islam tentang kehidupan—mulai ditinggalkan, diabaikan, dilupakan, dan dimarginalkan oleh kaum muslim sendiri.
Mereka jadi lebih memahami keyakinan-keyakinan dan pemikiran-pemikiran kafir Barat daripada keyakinan-keyakinan dan pemikiran-pemikiran Islam. Mereka lebih memahami dan mengerti sistem-sistem kehidupan Barat yang notabene bertentangan dengan Islam, daripada memahami sistem-sistem kehidupan Islam. Mereka lebih memahami hingga taraf detailnya, baik sistem ekonomi, politik, hukum, dan sosial budaya ala kafir Barat.
Namun, jika mereka diminta untuk menjelaskan sistem ekonomi, politik, hukum, dan sosial budaya Islam, mereka terlihat asing, bahkan sedikit mencibir. Pada saat yang sama, mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri kehancuran peradaban umat manusia akibat diterapkan sistem kehidupan ala Barat.
Namun, mengapa mereka tetap belum juga meninggalkan sistem sekuler kapitalisme yang menyebabkan kerusakan dan kebinasaan peradaban umat manusia dan tidak segera berpaling kembali kepada sistem Islam yang agung dan mulia?
Namun demikian, nadir (sedikit, peny.) dari kaum muslim masih menyimpan dan menjaga warisan pemikiran itu hingga sekarang. Mereka juga terus berusaha dan berjuang untuk menjaga eksistensi dan kesuciannya serta menyebarluaskan ke tengah-tengah kaum muslim.
Mereka juga berusaha keras untuk menampilkan ketinggian dan keunggulan sistem Islam dibandingkan sistem-sistem yang lain. Mereka juga terus melakukan serangan-serangan pemikiran dan peradaban hingga umat Islam menyadari kembali betapa berharganya pemikiran dan peradaban Islam bagi umat manusia.
Mereka melakukan semua itu didorong oleh sebuah keyakinan bahwa umat Islam hanya akan bangkit dengan kebangkitan hakiki jika pemikiran-pemikiran Islam yang menyeluruh dan sempurna telah menyatu di dalam hati dan benak mereka. Dengan kata lain, mereka paham benar bahwa tugas menegakkan peradaban Islam harus dimulai dengan menanamkan pemikiran Islam di benak kaum muslim, selanjutnya diterapkan secara menyeluruh dalam konteks pribadi, masyarakat, dan negara.
Mereka juga meyakini bahwa persoalan yang melanda umat manusia semata-mata dikarenakan diterapkannya pemikiran dan sistem bukan Islam dan satu-satunya cara adalah menyingkirkan sistem ini dan diganti dengan sistem Islam. [MNews/Rgl]
Sumber: Syamsuddin Ramadlan an-Nawiy dan M. Haris Adiningrat, Kaidah-Kaidah Taklid, Tuntunan Islam dalam Memilih dan Mengikuti Pendapat

One thought on “[Kaidah-Kaidah Taklid] Implikasi-Implikasi Taklid bagi Kaum Muslim”