Muslimah News, NASIONAL — Pengamat pendidikan dan isu generasi Yusriana mengingatkan agar pendidikan vokasi jangan hanya untuk kebutuhan dunia industri.
Hal ini diutarakannya kepada MNews, Jumat (17-5-2024), mencermati perkembangan SMK sebagai sekolah vokasi yang saat ini makin menjadi primadona bagi lulusan SMP.
“Para lulusan SMP berharap dengan sekolah di SMK, mereka akan memiliki keterampilan untuk siap memasuki dunia kerja. Inilah yang menjadi impian dan tujuan generasi muda kita saat ini. Sekolah hanya demi bisa memasuki dunia kerja alias menjadi buruh,” ungkapnya.
Ia menyatakan, Kemendikbudristek tampak makin shorih (gamblang-red.) menyebutkan bahwa pendidikan vokasi memiliki peran penting untuk menyiapkan individu-individu yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan dunia kerja dan dunia industri (DUDI).
Untuk mencapai hal tersebut, ujarnya, dibutuhkan kemitraan yang strategis ‘link and match’ antara satuan pendidikan dengan DUDI. “Kemendikbudristek pun terus mendorong satuan pendidikan vokasi untuk berkolaborasi dengan industri. Konsepnya tidak hanya menghubungkan antara industri dengan satuan pendidikan vokasi, tetapi juga memastikan apa yang diajarkan di satuan pendidikan vokasi relevan dengan kebutuhan dan tuntutan pasar kerja,” urainya.
Menurutnya, inilah konsekuensi pendidikan vokasi dalam sistem kapitalisme sekuler. “Pendidikan hanya diarahkan untuk penyedia tenaga kerja bagi dunia usaha dan dunia industri, baik terserap atau tidak. Faktanya, lulusan SMK justru menjadi penyumbang pengangguran terbesar di Indonesia dibandingkan dengan lulusan yang lain, yakni 9,6% per Februari 2023,” kritiknya.
Dalam hal ini, lanjutnya, dunia industri akan menggiring sistem pendidikan agar mau melaksanakan pendidikan dan pelatihan-pelatihan yang menyediakan tenaga kerja siap pakai di dunia usaha dan industri.
“Tentu saja pendidikan vokasi ini akan memberikan keuntungan bagi korporasi dengan mendapatkan insentif super tax deduction (pengurangan pajak-red.). Bagi korporasi, dana yang mereka keluarkan hakikatnya adalah investasi yang pasti sudah diperhitungkan keuntungannya. Sebabnya, tidak mungkin mereka mau bekerja sama jika tidak menguntungkan,” ucapnya.
Itu artinya, ia menilai, pendidikan vokasi saat ini telah membajak potensi lulusannya karena seharusnya pendidikan itu menghasilkan individu tenaga terapan terampil yang bermanfaat bagi masyarakat luas dengan kualifikasi keilmuan yang dilandasi keimanan serta fakih dalam agama.
“Hasilnya adalah menjadikan sosok individu yang berkepribadian Islam, yaitu mempunyai pola pikir dan pola sikap Islam, serta mengabdikan dirinya untuk kepentingan masyarakat dalam mewujudkan peradaban mulia,”tuturnya.
Kemajuan Peradaban
Generasi muda, sambungnya, seharusnya disiapkan dengan mindset yang mengarah pada kemajuan peradaban, bukan hanya untuk kemajuan perusahaan.
“Generasi seharusnya disiapkan tidak hanya dalam level tenaga kerja, tetapi pada level menjadi generasi yang akan menciptakan peradaban gemilang. Tentu hal ini harus didukung oleh pendidikan vokasi yang memahamkan pada generasi pendidikan terapan yang dibutuhkan dalam masyarakat,” tukasnya.
Pendidikan vokasi, ungkapnya, seharusnya diselenggarakan untuk kepentingan masyarakat luas, termasuk untuk berjalannya fungsi negara sebagai pengelola urusan rakyat. “Oleh karena itu, seharusnya negara tidak bermental bisnis dalam mengelola pendidikan vokasi ini,” cetusnya.
Tidak hanya itu, jelasnya, sistem pendidikan yang dilaksanakan pun harus sahih agar bisa menghasilkan SDM yang mampu mengelola bidang yang digeluti.
“Kepribadian SDM ini tentu akan terbentuk dengan tata kelola sistem yang sahih yang tidak lain adalah sistem pendidikan Islam. Sistem yang datang dari Allah Robbul ‘alamin yang paling mengetahui mana yang baik dan buruk untuk seluruh makhluk di muka bumi ini,” paparnya. [MNews/Ruh]
