Anak-Anak Tidak Terjaga Tanpa Khilafah

Anak-Anak Tidak Terjaga Tanpa Khilafah

Penulis: Najmah Saiidah

Muslimah News, FOKUS KELUARGA — Kita sering mendengar bahwa anak adalah titipan Allah, terutama bagi ayah dan bundanya. Namun, kadang tidak sedikit di antara kita yang lupa atau abai. Layaknya titipan, ia adalah sesuatu yang berharga yang harus dijaga dengan baik karena kelak akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.

Hanya saja, saat sistem sekuler kapitalisme tengah mencengkeram negeri ini, orang tua harus berjuang keras dalam mendidik dan membina anak-anaknya sesuai tuntunan Islam. Pasalnya, lingkungan di sekitar mereka sudah tercemar oleh pemikiran-pemikiran yang merusak.

Potret Buram Anak Indonesia

Nasib anak-anak hari ini berada dalam dunia serba gelap. Berbagai tekanan mental, sosial, psikologi, bahkan ekonomi, telah merampas dunia ceria mereka. Angka kekerasan terhadap anak terus meroket. Pada 2023, jumlah anak yang menjadi korban kekerasan lebih dari 800 tiap bulannya. Puncak tertinggi terjadi pada Mei 2023 yang mencapai 1.197 anak. (Katadata, 15-8-2023).

Ironisnya, pelaku kekerasan terhadap anak justru orang terdekat mereka. Keluarga bukan lagi tempat aman untuk anak. Seorang ayah di Jagakarsa tega membunuh empat anaknya karena cemburu pada istrinya. Bahkan, di beberapa tempat, ada kasus ayah yang tega memerkosa anaknya berulang kali hingga hamil.

Belum lagi kasus terabaikannya hak anak, termasuk hak memperoleh pendidikan karena mahalnya biaya. Anak-anak tidak punya pilihan selain tidak bersekolah karena tuntutan ekonomi dan kondisi keuangan keluarga yang minim. Ini menjadi salah satu pemicu banyaknya pekerja anak dan anak jalanan.

Juga masih banyak anak Indonesia yang kurang gizi. Angka prevalensi stunting mencapai 21,6%. Hal ini menunjukkan bahwa satu dari lima anak Indonesia mengalami stunting.

Situasi ini diperparah dengan pesatnya teknologi internet dan mobile phone. Banyak konten medsos tanpa sensor yang sering tidak memberi kebaikan bagi anak-anak. Bahkan, konten di TikTok bisa membuat kecanduan pada orang dewasa. Tidak sedikit orang tahan berlama-lama “menikmati” TikTok, tetapi giliran membaca Al-Qur’an atau mendengarkan tausiah, lima menit sudah menguap.

Serangkaian kasus ini semestinya membuka mata kita bahwa persoalan anak di negeri ini ibarat puncak gunung es. Ini semua menjadi peringatan bagi semua pihak. Bagaimana kita bisa mempercayakan masa depan di pundak anak-anak bermasalah itu?

Akibat Ketiadaan Khilafah

Berbagai macam keburukan yang menimpa anak-anak negeri ini muncul sebagai akibat penerapan sistem hidup sekuler yang melahirkan nilai-nilai hidup yang salah di masyarakat. Pelaku kekerasan seksual pada anak yang mayoritasnya adalah orang dekat korban, menggambarkan masyarakat yang sakit.

Kebebasan yang diagungkan sistem ini menjadi racun mematikan bagi akal dan naluri hingga ayah kandung tega menggauli darah dagingnya sendiri. Ketika pemahaman agama tidak menjadi standar, hawa nafsu pun menjadi penentu. Liberalisme telah menghilangkan ketakwaan individu.

Ini semua menunjukkan betapa lemahnya jaminan keamanan bagi anak, bahkan orang tua yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi ancaman bagi anak. Keluarga tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai tempat yang aman bagi anak. Kondisi ini makin berat ketika ayah-ibu sibuk bekerja yang membuat mereka lupa mengawasi anak-anak mereka. Kemiskinan membuat kaum ibu harus ikut bekerja mencari nafkah sehingga mengabaikan perannya sebagai pengasuh dan pendidik anak.

Lingkungan dan negara juga telah abai memberikan jaminan keamanan kepada anak. Kehidupan masyarakat yang diwarnai oleh kehidupan materialistis dan hedonistik telah membentuk individu yang mengutamakan pemenuhan kebutuhan jasmani. Ringannya hukuman bagi pelaku kejahatan terhadap anak menjadi bukti tambahan lemahnya jaminan negara atas keamanan anak.

Semua itu adalah buah dari sistem sekuler kapitalisme. Sistem ini membawa kerusakan pada masyarakat dan meruntuhkan sendi-sendi kehidupan manusia. Sistem ini membuat manusia tidak lagi menjadi mulia karena perilakunya seperti binatang. Sistem ini hanya memperhatikan aspek individualisme semata yang akhirnya menjadikan negara abai terhadap tugas dan perannya sebagai pelindung bagi rakyatnya. Oleh karenanya, sudah seharusnya sistem rusak ini dibuang jauh-jauh dan digantikan dengan sistem Islam dalam tatanan daulah Khilafah Islamiah.

Butuh Khilafah

Upaya mewujudkan keluarga yang tenteram dan bahagia membutuhkan peran sistem yang mendukung. Bagaimanapun kuatnya kita memproteksi keluarga dengan ide-ide Islam dan pembinaan intensif kepada anak-anak kita, jika sistem yang berlaku di tengah kehidupan keluarga tidak menggunakan hukum syariat, sulit bagi bangunan keluarga yang kukuh bisa bertahan.

Gempuran dari luar akan senantiasa mengadang, baik pemikiran-pemikiran yang merusak maupun rintangan berupa kesulitan ekonomi yang berdampak pada sulitnya pemenuhan kebutuhan fisik dan nonfisik anggota keluarga. Dari sinilah biasanya muncul berbagai penyimpangan.

Untuk itu, penataan kehidupan yang benar berkaitan dengan semua urusan, sangat diperlukan. Dengan sistem politik Islam, semua itu bisa terwujud. Sistem politik Islam memiliki kemampuan untuk memberikan solusi atas semua persoalan, baik individu, keluarga, maupun masyarakat.

Sistem Islam mampu membendung serangan musuh-musuh Islam dan menjaga masyarakat agar tetap dalam keimanan dan tatanan yang sesuai dengan aturan Islam. Hal ini dilakukan dengan penerapan aturan Islam secara kafah yang dengan itu akan tercipta tatanan masyarakat yang baik, damai, dan sejahtera; yang dipenuhi ampunan dan rida-Nya.

Penerapan sistem Islam juga akan meringankan beban orang tua. Pasalnya, sistem Islam akan menyediakan pendidikan islami yang berkualitas dengan cuma-cuma dan membendung semua ideologi rusak masuk ke tengah umat.

Oleh karenanya, hendaknya seluruh keluarga muslim menguatkan tekad dan bergandengan tangan bersama mengembalikan tegaknya aturan Islam sehingga tercapai kebahagiaan hakiki dalam naungan Khilafah Islamiah.

Khilafah Islamiah—yang dipimpin oleh seorang khalifah—adalah junnah (perisai). Layaknya perisai, ia bertanggung jawab sepenuhnya dalam melindungi rakyatnya. Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh, imam (khalifah) itu laksana perisai.” (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Negara atau khalifah harus bisa menjadi junnah bagi orang yang ia pimpin. Artinya, ia harus bisa melindungi rakyatnya, termasuk anak-anak. Anak-anak dapat tumbuh dengan aman, menjadi calon-calon pemimpin, calon-calon pejuang dan calon generasi terbaik.

Dalam Khilafah, jangankan nyawa dan kehormatan manusia, nasib seekor keledai pun amat diperhatikan oleh pemimpin. Ini sebagaimana perkataan Khalifah Umar bin Khaththab ra. yang masyhur, “Jika ada anak domba mati sia-sia di tepi Sungai Eufrat (di Irak), sungguh aku takut Allah akan menanyaiku tentang hal itu.”

Demikianlah keunggulan sistem kehidupan Islam. Masihkah berharap pada sistem sekuler kapitalisme yang sungguh telah gagal melindungi rakyatnya?

Inilah saatnya keluarga muslim berjuang bersama untuk mewujudkan sistem kehidupan yang unggul dalam institusi Khilafah. Hanya dengan Khilafah, seluruh aturan Islam akan bisa tegak di muka bumi ini. Lalu apa langkah nyata yang bisa dilakukan oleh keluarga muslim hari ini?

Langkah Nyata

Hanya dengan penerapan syariat Islam secara kafah, potret buram anak-anak muslim akan berubah menjadi ceria. Ini semua hanya akan terwujud jika Khilafah tegak.

Khilafah adalah ajaran Islam. Umat Islam wajib untuk menegakkannya. Khilafah bahkan dikatakan sebagai taaj al-furuudh (mahkota kewajiban). Oleh karenanya, setiap keluarga muslim harus terlibat dalam upaya mewujudkan kembali Khilafah. Apa langkah nyata yang bisa dilakukan?

  1. Menjadikan hukum syariat sebagai pijakan.

Setiap anggota keluarga muslim wajib memahami dan mengamalkan hukum-hukum syariat yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunah. Oleh karena itu, penting bagi setiap anggota keluarga membina diri dengan tsaqafah Islam sehingga menjadikan halal-haram sebagai standar kehidupan. 

Dengan memahami hukum syariat, setiap anggota keluarga tidak hanya paham posisinya dalam keluarga, tetapi ia pun paham sebagai individu muslim dan sebagai bagian dari masyarakat. Ketika hukum syariat mewajibkan dirinya untuk berjuang menegakkan Khilafah, ia akan bersemangat melakukan itu semata-mata karena perintah Allah.

  1. Membina diri dan keluarga dengan Islam kafah.

Setiap anggota keluarga muslim wajib memahami Islam kafah. Mereka juga wajib menerapkan Islam kafah dalam kehidupan mereka. Hanya saja, penerapan syariat Islam secara kafah hanya bisa diwujudkan dalam institusi Khilafah. Oleh karenanya, memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah menjadi bagian dari bentuk kepedulian keluarga muslim terhadap permasalahan yang menimpa umat Islam.

  1. Mendakwahkan Islam kafah.

Rasulullah saw. adalah contoh terbaik bagi umatnya. Kita wajib mengikuti apa pun yang Rasulullah perintahkan dan contohkan. Demikian sebagaimana firman Allah Swt., “Apa saja yang Rasul bawa untuk kalian, ambillah. Apa saja yang ia larang atas kalian, tinggalkanlah.” (QS Al-Hasyr [59]: 7).

Ayat ini memerintahkan kita untuk meneladan seluruh apa yang dibawa oleh Rasulullah (saw.). Oleh karena itu, kita wajib mengikuti seluruh syariat yang beliau bawa, termasuk metode dan uslub dakwah beliau. Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat ini, “Apa pun yang beliau perintahkan kepada kalian, kerjakanlah. Apa yang beliau larang atas kalian, maka tinggalkanlah.”

  1. Menjadi bagian dari jemaah dakwah.

Menegakkan Negara Islam atau Khilafah merupakan “proyek besar” yang tidak bisa dilakukan oleh individu. Kewajiban ini harus dilakukan oleh umat Islam secara berjemaah. Rasulullah saw. telah memberikan contoh kepada kita bahwa yang harus kita lakukan dalam menapaki jalan dakwah saat ini adalah melakukan dakwah berjemaah.

Menjadi bagian jemaah dakwah wajib dilakukan. Oleh karena itu, harus ada upaya pembinaan di tengah umat untuk melahirkan kader-kader baru yang menjadi mutiara-mutiara umat. Lalu mereka melakukan pergolakan pemikiran dan membongkar pemikiran yang merusak, mengungkap rencana busuk musuh-musuh Islam, tetap bertumpu pada dakwah pemikiran dan menghindari aktivitas fisik, serta melakukan kontak kepada tokoh-tokoh umat yang bisa memperkuat dakwah, bahkan melindungi dakwah.

  1. Saling mendukung.

Memadukan tugas dalam keluarga dengan dakwah akan terasa berat jika tidak saling mendukung bahkan membantu. Oleh karena itu, setiap anggota keluarga harus terus saling menguatkan satu sama lain agar aktivitas dakwah berjalan dengan baik. Mereka pun harus saling meringankan pekerjaan di antara anggota keluarga.

Dengan demikian, saat harus keluar rumah untuk berdakwah, pengelolaan rumah tangga/keluarga tidak ada yang terlalaikan. Allah Swt. berfirman, “Saling bantulah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan ketakwaan dan jangan saling bantu dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS Al-Maidah [5]: 2).

  1. Memahami betul hakikat Negara Islam.

Wawasan dan pemahaman keluarga muslim tentang hakikat Khilafah penting untuk terus ditingkatkan. Dengan itu, pemahaman anggota keluarga tentang peradaban Islam yang mulia akan makin utuh dan sempurna. Termasuk tentang penerapan Islam yang dilakukan oleh Khilafah, kehidupan bermasyarakatnya, sosok pemimpinnya, juga aktivitas jihad yang dilakukan oleh kaum muslim pada masa Islam berjaya.

Ini semua akan menambah wawasan, sekaligus menambah keimanan dan kesungguhan untuk menerapkan Islam secara kafah. Akan makin cinta dan rindu akan tegaknya Khilafah di muka bumi ini. Akhirnya, semangat perjuangan untuk kembali berada dalam peradaban Islam yang mulia akan makin menggelora.

Khatimah

Demikianlah, kenestapaan anak-anak dan keluarga muslim akan terus dialami selama sistem kehidupan Islam belum tegak di muka bumi ini. Alhasil, keberadaan Khilafah merupakan hal yang urgen untuk diperjuangkan oleh umat Islam hari ini. 

Saatnya seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia bersatu padu untuk mewujudkan Khilafah dengan mengikuti jalan dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah (saw.). Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]

Sumber artikel: Al-Wa’ie Edisi 15-4-2024

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *