[Nafsiyah] Hari Raya, Dakwah dan Ukhuah Jalan Terus

[Nafsiyah] Hari Raya, Dakwah dan Ukhuah Jalan Terus

Oleh: Ustaz M. Rahmat Kurnia

Muslimah News, NAFSIYAH — Semoga Allah Swt. selalu memberikan barokah-Nya kepada kita semua. Alhamdulillah, kita masih diberikan usia untuk menjalankan Ramadan tahun ini. Ketika Idulfitri, kita bersedih sekaligus berbahagia. Mengapa? Ini karena ada satu janji-Nya yang kita yakini dan sudah kita dapatkan.

Rasulullah saw. bersabda,

“Barang siapa yang berpuasa saat Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya pada masa lalu akan diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim).

Oleh karenanya, ketika Idulfitri tiba, hati kita bahagia. Bukan bahagia karena mempunyai makanan atau karena kewajiban Ramadan sudah berlalu. Akan tetapi kita bahagia karena pada Idulfitri kita terlahir sebagai manusia baru yang diampuni oleh Allah Swt., insyaallah. Semoga kita termasuk orang-orang yang seperti itu.

Jadi, wajar jika kita bahagia. Bahagia yang murni dan hakiki, bukan bahagia yang bersifat materi. Di antara wujud rasa syukur kita kepada Allah Swt., umumnya kita melakukan silaturahmi dengan famili, karib, kerabat, dan sebagainya. Ini suatu hal yang luar biasa.

Allah Swt. berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.” (QS Al-Hujurat: 10).

Ayat ini menjelaskan, bahwa orang-orang mukmin itu bersaudara. Oleh karena itu, kita diperintahkan mendamaikan di antara mereka, jangan ada perselisihan. Yang menarik pada bagian akhir ayat ini yang memerintahkan kita bertakwa kepada Allah Swt. agar kita dirahmati dan disayangi-Nya.

Sesungguhnya ketika Ramadan, kita diperintahkan meraih takwa agar diberi kasih sayang-Nya. Kita juga diperintahkan menjalin kasih sayang dengan sesama muslim, yakni dengan silaturahmi.

Lihatlah Idulfitri pada masa awal. Kita ketahui bahwa Ramadan diwajibkan pada 2 H. Saat itu terjadi perang Badar, setelahnya Idulfitri untuk pertama kali. Banyak sahabat yang salat Idulfitri dalam keadaan terluka. Artinya, Idulfitri bukan sekadar bahagia dan silaturahmi, tetapi merayakan kemenangan dalam dakwah dan perjuangan Islam.

Idulfitri bukan sekadar momen kebahagiaan, akan tetapi juga momen dakwah dan silaturahmi. Oleh karena itu, Lebaran datang, dakwah dan silaturahim jalan terus. [MNews/YG]

*Disarikan dari channel YouTube Khilafah Channel Reborn.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *