Penulis: Chusnatul Jannah
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Peristiwa Baiat Aqabah II memang menjadi momen bersejarah bagi kaum muslim. Dari sanalah perkembangan dakwah Islam membumi di Madinah al-Munawwarah hingga ke seluruh jazirah Arab. Dari sana pula para penolong agama Allah ini lahir sebagai generasi Anshar yang menjadi teladan sepanjang masa. Di antara 70 orang yang melakukan Baiat Aqabah II, terdapat satu keluarga yang mengucap sumpah setia. Mereka memberikan pembelaan dan loyalitasnya tanpa batas kepada Rasulullah ﷺ dan Islam. Mereka adalah Nusaibah binti Ka’ab, Zaid bin Ashim, dan kedua putranya, yakni Habib bin Zaidd dan Abdullah bin Zaid. Bagaimana kisah keluarga ini?
Tameng Rasulullah ﷺ
Keluarga Habib bin Zaid dari awal rela berkorban untuk Islam. Ibunya, Nusaibah merupakan perempuan pertama yang mengangkat senjata untuk membela Rasulullah dan kemuliaan Islam. Ayahnya, Zaid bin Ashim menjadi salah satu rombongan 70 orang yang berbaiat Aqabah kedua kepada Rasulullah ﷺ. Sementara saudaranya, Abdullah bin Zaid adalah pemuda yang mempertaruhkan lehernya sebagai tebusan dalam Perang Uhud, untuk melindungi Rasul yang mulia.
Habib bin Zaid adalah seorang anak yang mengulurkan tangannya yang mungil kepada Rasulullah sambil mengucapkan sumpah setia pada malam gelap gulita di Aqabah. Sejak hari itu, ia lebih mencintai Rasulullah daripada orang tuanya sendiri. Baginya, Islam di atas segalanya melebihi dirinya sendiri. Keimanan telah melekat kuat di hati Habib sejak usia belia.
Karena usianya yang masih terlalu muda, ia tidak mengikuti Perang Badar dan Uhud. Namun setelah kedua perang tersebut, ia selalu membersamai Rasulullah ﷺ dalam setiap peperangan yang diikuti beliau. Ia bertugas sebagai pemegang ar-royah yang menjadi kebanggaan kaum muslim. Tidak heran jika Rasulullah berdoa untuk keluarga ini yang telah menjadi tameng bagi Rasulullah ﷺ, “Semoga Allah melimpahkan berkah dan rahmat-Nya bagi kalian sekeluarga.”
Menjadi Utusan Rasul
Suatu hari di selatan Jazirah Arab, muncul dua pimpinan pembohong yang mengaku sebagai nabi dan menggiring manusia ke dalam kesesatan. Mereka adalah Al-Aswad bin Ka’ab al-Ansi dan Musailamah al-Kadzdzab. Suatu hari, Rasul menerima surat dari utusan Musailamah. Surat itu berisi pengakuan Musailamah sebagai nabi. Rasulullah ﷺ pun langsung membalas surat Musailamah melalui utusannya. Namun, balasan surat Rasulullah tersebut justru membuat Musailamah makin sesat dan menyebarkan kesesatannya.
Untuk menghentikan kesesatannya, Rasulullah mengirim surat kepada Musailamah. Beliau mengutus Habib bin Zaid untuk membawa surat tersebut kepada Musailamah. Habib bin Zaid berangkat melaksanakan tugas yang diberikan Rasulullah kepadanya dengan penuh semangat tanpa menyia-nyiakan waktu. Akhirnya, sampailah ia ke perkampungan Najd. Surat Rasulullah itu langsung diberikan kepada Musailamah. Ketika membaca surat tersebut, dada Musailamah turun naik karena iri dan dengki. Mukanya memerah menandakan kemurkaannya.
Ia memerintahkan pengawalnya mengikat Habib bin Zaid. Keesokan harinya, Habib diseret ke hadapannya. Musailamah bertanya kepadanya, “Apakah kamu mengaku Muhammad itu Rasulullah?” “Ya, benar! Aku mengakui Muhammad sesungguhnya Rasulullah!” jawab Habib tegas. Musailamah terdiam karena marah. “Apakah kamu mengakui aku sebagai Rasulullah?” tanya Musailamah lagi. Habib bin Zaid menjawab dengan nada menghina dan menyakitkan hati. “Agaknya telingaku tuli. Aku tidak pernah mendengar yang begitu.” Wajah Musailamah berubah. Bibirnya gemetar karena marah. Kemudian, ia meminta algojonya memotong bagian tubuh Habib. Musailamah pun mengajukan pertanyaan yang sama berulang kali. Habib dengan keyakinan sepenuh hati menjawab pernyataan dengan jawaban yang sama hingga tubuhnya terpotong-potong. Ia pun syahid karena peristiwa tersebut.
Ketika kabar kematian Habib telah sampai di telinga sang ibu, Nusaibah hanya mengatakan, “Seperti itu pulalah aku harus membuat perhitungan dengan Musailamah al-Kadzdzab. Kepada Allah juga aku berserah diri. Anakku, Habib bin Zaid telah bersumpah setia kepada Rasulullah ﷺ sejak kecil. Sumpah itu dipenuhinya ketika ia muda belia. Seandainya Allah memungkinkanku, akan kusuruh anak-anak perempuan Musailamah menampar pipi bapaknya.”
Khatimah
Inilah potret keluarga yang menjadi pembela Rasulullah ﷺ. Loyalitas mereka terhadap Rasul dan Islam sangat totalitas. Mereka mempersembahkan diri untuk mengabdi kepada Allah dan Rasul-Nya. Sungguh keluarga pejuang yang patut menginspirasi kita semua. Jadikanlah keluarga kita sebagai penolong agama Allah untuk menegakkan kemuliaan Islam dan kaum muslim. Wallahualam. [MNews/YG]
*Dinarasikan ulang dari berbagai sumber
