Oleh: Ustaz Fatih Karim
Muslimah News, NAFSIYAH — Menunda adalah kebiasaan kita. Sering kali kita merasa masih ada waktu nanti, besok, lusa, dan sebagainya untuk menunda sesuatu. Menunda kebaikan pasti akan menghancurkan hidup kita.
Sesungguhnya, hidup kita di dunia terbatas waktunya. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Usia umatku berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit sekali di antara mereka yang melebihi usia tersebut.”
Seharusnya kita sadar bahwa waktu, umur, dan kesempatan kita terbatas. Kalau kita terbiasa menunda, berarti kita sudah membuang-buang peluang amal saleh.
Banyak contoh bersegera dalam kebaikan yang bisa kita jadikan pelajaran. Nabi saw. selalu bersegera dalam kebaikan. Diriwayatkan, ketika sedang salat Asar, setelah mengucap salam, Nabi saw. membalikkan badan dan bergegas ke kamar istrinya. Para sahabat kaget dan bertanya-tanya karena tidak biasanya beliau seperti itu. Ternyata Nabi saw. mengambil sebongkah emas dan berkata, “Saat sedang salat, aku teringat ada emas yang belum aku sedekahkan.”
Masyaallah. Nabi tidak menunda-nunda bersedekah, padahal emas tersebut tidak hilang dan bisa disedekahkan besok, lusa atau minggu depan. Akan tetapi, Nabi mencontohkan tidak menunda kebaikan.
Kisah lainnya tentang seorang sahabat, Hanzhalah bin Abi Amir. Saat malam pertama bersama istrinya, ada panggilan jihad. Ia bersiap menyongsong jihad di medan Uhud. Akan tetapi ia lupa, belum mandi junub. Jenazahnya ditemukan oleh Rasulullah saw. dalam keadaan hancur dan tidak dikenali. Istri Hanzhalah mengenali bahwa itu jenazah suaminya.
Pelajaran dari kisah ini, Hanzhalah bersegera dalam jihad fisabilillah. Bersegera dalam kebaikan menjadi habits, value, dan budaya Baginda Nabi saw. dan para sahabat.
Begitu pula suatu ketika Nabi saw. salat awalnya kiblat menghadap Masjidilaqsa, lantas Jibril memberitahukan, “Ya Muhammad, kiblat sudah dipindahkan ke Masjidilharam.” Nabi saw. langsung mengubah arah kiblatnya tanpa menunda.
Kisah lainnya ketika para sahabat mendengar perintah telah diharamkannya khamar. Mereka langsung memecahkan kendi-kendi khamar dan tidak lagi meminum sisa khamar mereka.
Mental bersegera dalam kebaikan adalah mental warisan Baginda Nabi saw., para sahabat, dan para salaf saleh. Tidak mengherankan, mereka memiliki peradaban dan risalah mulia, serta bisa menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.
Jadi, mengapa kita masih sering menunda melakukan kebaikan? Sesungguhnya tahun depan, belum tentu kita berjumpa kembali dengan Ramadan. Jika kita mempunyai rencana baik, segera eksekusi dengan eksekusi terbaik.
Ramadan bulan penuh keberkahan dan ampunan. Bersegeralah mohon ampunan-Nya. Allah Swt. berfirman, “Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran: 133).
Semoga kita juga bisa memiliki kebiasaan, budaya, dan karakter untuk tidak menunda-nunda kebaikan. Sebaliknya, kita selalu bersegera dalam kebaikan. Sambut ampunan Allah Swt. dalam Ramadan mulia ini dengan bersegera melakukan berbagai kebaikan. [MNews/YG]
*Disarikan dari channel YouTube Cinta Qur’an Foundation
