[Sur’atul Badihah] Masalah Seputar Sur’atul Badihah (Bagian 2/3)

[Sur’atul Badihah] Masalah Seputar Sur’atul Badihah (Bagian 2/3)

Penulis: Syekh Taqiyudin an-Nabhani

Sambungan dari Bagian 1/2

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Barat berpikir dan meneliti segala sesuatu dan memberikan filosofi kepada segala sesuatu, hal itu menimbulkan dua perkara:

Pertama, bahwa ia berpikir dalam masalah-masalah yang sudah jelas dan memberikannya filosofi. Ia memberikan filosofi pada kursi, apa itu kursi; juga memberikan filosofi pada piring, apa itu piring; dia juga memberikan filosofi pada gelas, apa itu gelas sehingga benda-benda ini keluar dari tabiatnya dan dari posisinya yang sebenarnya dan alami. Oleh karena itu, sesungguhnya benda-benda itu makin kabur, bahkan muncul kekaburan darinya yang menjauhkannya dari makna yang sebenarnya sehingga menjadikan pendengar atau pembaca tidak mengetahui apa itu kursi, apa itu gelas, dan apa itu piring.

Seandainya ia hanya menyebutkan namanya, ia akan mengetahui dengan pengetahuan yang sebenarnya meskipun ia tidak memberikannya filosofi untuk mengetahuinya apa adanya. Yang menjadikannya kabur tiada lain adalah memikirkannya atau memberikan filosofi. Oleh karena itu, filosofi itu harus dihilangkan darinya, ini dalam hal-hal yang bersifat materi dan juga dalam hal yang bersifat manawi.

Kata “petualangan (mughamarah)” jika cukup menyebutkan namanya akan diketahui apa itu. Akan tetapi, jika diberikan filosofi pada petualangan dan disebutkan sebagai petualangan yang direncanakan atau petualangan yang telah dipelajari, dan petualangan yang tidak ada tujuan, maka kata petualangan tidak lagi dikenal, tetapi telah berubah menjadi khiththah (sesuatu yang direncanakan).

Seperti itu juga kata sur’atul badihah, penggunaan akal, kecerdasan, dan sebagainya. Sesungguhnya kata-kata tersebut makin dijelaskan dan diberi filosofi, akan makin menimbulkan kekaburan. Oleh karena itu, kata-kata tadi akan selalu kabur kecuali jika filosofinya dibuang atau dicabut pemikiran darinya.

Kerugian akibat berpikir di sini hanya datang dari pencakupannya dan menjadikannya mencakup segala sesuatu, mencakup segala sesuatu yang jelas. Oleh karena itu berpikir dalam segala sesuatu yang jelas atau memberikannya filosofi, itulah yang mewujudkan kerugian akibat berpikir.

Kedua, bahwa berpikir mencakup segala sesuatu, mencakup juga apa yang dicakup oleh sur’atul badihah atau mengadakan apa yang diadakan oleh berpikir lambat. Sur’atul badihah membutuhkan berpikir cepat, dan berpikir lambat dikuasai oleh penelitian dan pengujian. Oleh karena itu, membiasakannya dan kristalisasi perasaan atasnya akan menjadikannya sebagai asal dan yang harus berlaku.

Oleh karena itu, berpikir lambat akan menjadi kebiasaan yang menjadi asal yang perasaan terkristalisasi atasnya, dan selama terjadi demikian maka segala sesuatu harus dipelajari dan diuji. Dengan demikian, tidak ada tempat bagi kecepatan dan sesuatu tidak dianggap jika belum dipelajari dan belum diuji.

Hal ini akan menghilangkan sur’atul badihah karena selama segala sesuatu membutuhkan pada penelitian dan pengujian maka sur’atul badihah tidak mungkin ada dan tidak boleh berlaku karena hal itu berarti berpikir tanpa penelitian dan pengujian dan ini perkara yang tidak jelas dan dicela.

Dengan demikian, sur’atul badihah merupakan sesuatu yang telah terpolusi maka tidak boleh demikian dan seorang pun tidak berusaha untuk memilikinya. Sur’atul badihah menjadi tidak disukai dan selanjutnya akan tidak ada atau tidak boleh ada.

Akibat perang pemikiran dari Barat ini, menjadi masalah. Masalahnya bukan pemikiran, tetapi kerugian yang dihasilkan dari berpikir. Dengan demikian, masalahnya adalah kerugian akibat berpikir. Solusi dari masalah ini adalah dengan menghilangkan kerugiannya itu. Pertanyaan yang muncul sekarang adalah, bagaimana menghilangkan kerugian akibat berpikir?

Inilah pertanyaannya dan membutuhkan jawaban karena berpikir itu ada, berpikir adalah sesuatu yang alami dan bukan merupakan masalah. Akan tetapi, masalahnya adalah bagaimana menghilangkan kerugian akibat berpikir ini?

Jawaban atas pertanyaan ini adalah yang pertama dan sebelum yang lainnya, agar kita mengetahui bahwa Barat adalah musuh, dan seluruh pemikiran-pemikirannya ada keraguan di dalamnya. Oleh karena itu, pastilah keraguan akan menyusup terlebih dahulu dan sebelum yang lainnya ke dalam pemikiran-pemikiran Barat maka seharusnya tidak boleh diterima satu pemikiran pun kecuali setelah pemikiran itu dipelajari dan diteliti, apa itu, apa yang dimaksud dengannya, dan apa tujuan dilontarkannya.[MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 3/3

Sumber artikel: Syekh Taqiyudin an-Nabhani, Sur’atul Badihah (Berpikir Cepat dan Produktif)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *