[Dunia Remaja] Serunya “War Takjil”, Esensi Ramadan Jangan Sampai Terkikis, ya!

[Dunia Remaja] Serunya “War Takjil”, Esensi Ramadan Jangan Sampai Terkikis, ya!

Penulis: Shezan A. Gerung

Muslimah News, DUNIA REMAJA — Ramadan adalah bulan yang penuh rahmat dan ampunan-Nya. Bulan ketika para hamba melipatgandakan ibadahnya dan Allah Sang Khalik melipatgandakan pahala bagi hamba-Nya. Saat Ramadan ini pula kita bisa menyaksikan ukhuah islamiah yang begitu kental dan empati sesama muslim begitu terasa.

Hal menarik pada Ramadan tahun ini adalah fenomena perang takjil atau lazim disebut “War Takjil”. Ini menjadi salah satu tren yang menjadi sorotan pada Ramadan 1445 H/2024 M. Di dunia maya, beragam konten berburu takjil menyemarakkan suasana Ramadan. Dalam video yang beredar di media sosial, banyak juga, lo, umat nonmuslim yang kerap disebut “nonis”, berlomba-lomba berburu atau belanja takjil bersama kaum muslim yang hendak berbuka puasa.

Seru, sih, keharmonisan yang terpancar dari keberkahan Ramadan. Meski demikian, ada beberapa hal yang perlu Sobat sekalian perhatikan. Mengapa? Ya, agar momen Ramadan ini enggak kehilangan esensinya. Sebaliknya, kian menguatkan akidah dan keberkahannya pun tetap terasa.

Tetap Jaga Vibes Ramadan, ya!

Sobat, vibes Ramadan memang seseru itu. Kaum papa berbahagia bersama mereka yang berkecukupan. Mereka yang memiliki kelebihan harta siap siaga berbagi iftar dan kebutuhan sahur bagi yang berpuasa. Suasana spiritual begitu terasa. Tidak dimungkiri, suasana ini pun berpengaruh pada nonmuslim.

Beragam konten bertajuk “War Takjil” berseliweran. Di tengah vibes Ramadan ini, tidak sedikit juga komentar warganet yang meresahkan. Mungkin niatnya untuk seru-seruan, hanya saja komentar bernada bias akidah kudu diperhatikan.

Contoh, nih, komentar terkait perayaan Natal yang seharusnya bagi seorang muslim sudah jelas kedudukannya dalam Islam. Demikian pula komentar-komentar sejenis dalam balutan toleransi antarumat beragama. Hem, sepertinya harus kita pahami kembali, ya, batasan toleransi dalam Islam. Intinya, sih, “War Takjil” boleh-boleh saja, tetapi akidah tetap terjaga, ya.

Catat, ya, Ramadan bukan hanya bulan untuk melipatgandakan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Lebih dari itu, bulan suci ini juga merupakan bulan amal dan jihad untuk menyebarluaskan agama Allah.

Masyhur pada sepanjang sejarah kaum muslim, kisah-kisah heroik Rasulullah saw. dan para sahabat yang memanfaatkan Ramadan sebagai bulan perjuangan. Mulai dari kisah peperangan/jihad, hingga penaklukan negeri-negeri di sekitar wilayah Kekhalifahan. Semua ini dalam rangka membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia, menuju penyembahan kepada Allah Swt. semata.

So, justru bagus banget, momen Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk mendakwahkan Islam. Intinya, sih, tetap waspada terhadap berbagai ide atau pemikiran yang menjadi “penumpang gelap” di balik fenomena “War Takjil”. Alih-alih “War Takjil”, yang ada justru perang pemikiran. Nah, lo. Pastikan untuk memahami hal ini, ya!

Memaknai Ramadan

Serunya Ramadan sesungguhnya terletak pada ibadah yang kita lakukan pada bulan ini, Sobat. Pada hari-hari biasa, bisa jadi ibadah mahdhah saja yang terlaksana. Nah, pada Ramadan ini tentu ibadah kita kudu melampaui hari-hari di luar Ramadan.

Apalagi pada sepuluh malam terakhir, kaum muslim berbondong-bondong mengisinya dengan berbagai ibadah. Bahkan, Rasulullah saw. mengencangkan ikat pinggang beliau dan senantiasa membangunkan keluarganya untuk beribadah bersama. 

Tahukah Sobat sekalian bahwa beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan memiliki keistimewan tersendiri? Ya, malam lailatulqadar adalah malam spesial. Malam seribu bulan, ketika Allah secara royal memberikan pahala dan membuka pintu tobat selebar-lebarnya. Barang siapa yang mengisi sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah, Allah menjanjikan ampunan atas dosa yang telah lalu dan yang akan datang.

Setiap detik dalam Ramadan begitu berarti bagi hamba Allah yang bertakwa. Tiada waktu berlalu, kecuali untuk beribadah kepada Allah Taala. Sayang banget kalau puasa terlewati dengan aktivitas yang sia-sia. Seperti, scrolling ponsel seharian, jalan bareng teman usai salat Subuh yang justru berpotensi mendulang dosa, atau tidur seharian tanpa ada tambahan amal ibadah.

Sobat sekalian, Ramadan memang selalu menghadirkan suasana semarak. Hanya saja, semarak ini jangan sekadar secara harfiah. Sekadar seru-seruan, tetapi lebih banyak berkutat dalam perkara mubah. Sesungguhnya, ada bejibun amalan sunah yang bisa dilaksanakan sebagai jalan untuk mendulang pahala.

Ya, fenomena “War Takjil” ini salah satu contohnya. Meski semarak dan seru berburu takjil saat Ramadan, tetapi seorang muslim harus tetap mendudukkan fenomena ini dalam batasan syariat, ya. Jangan sampai, Ramadan yang seharusnya menjadi momentum memperkuat akidah, justru menjadi celah masuknya racun pemikiran yang mengikis fondasi akidah. So, “War Takjil” enggak masalah, tetapi urusan akidah? No compromise! Setuju? [MNews/YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *