Muslimah News, NAFSIYAH — Apa itu self-esteem atau nilai diri? Apakah itu sesuatu yang kita bisa kontrol, kembangkan, atau kurangi? Apakah itu sesuatu yang bisa mengubah jalan hidup kita? Apakah itu menentukan akhirat kita?
Self-esteem mengacu pada perasaan umum seseorang tentang nilai atau martabat. Ini menentukan seberapa besar seseorang menghargai, menyukai, menyetujui, maupun mengapresiasi dirinya sendiri. Individu dengan self-esteem yang tinggi, atau apresiasi total pada dirinya sendiri, dilaporkan terkait dengan segala macam output positif, seperti prestasi akademik, kesuksesan interpersonal, dan—yang disebut—“kebahagiaan”.
Sebaliknya, ilmu pengetahuan telah menemukan hubungan sebab-akibat antara self-esteem yang rendah dan berbagai output negatif. Depresi, penyalahgunaan zat, perilaku antisosial, penolakan teman sebaya (pengucilan), prestasi akademik yang rendah, gangguan makan, aktivitas seksual sejak dini, dan upaya bunuh diri, merupakan akibat-akibat yang paling umum.
Aspek terpenting dalam memahami self-esteem adalah bahwa ia bukanlah subjek yang agnostik ataupun bebas nilai dengan pendekatan universal. Ia tidak seperti 1+1=2 maupun hukum gerak atau air yang mendidih pada 100 derajat Celsius—yang merupakan prinsip universal yang tidak tergantung pada sistem nilai apa pun.
Oleh karenanya, tatkala self-esteem diukur dalam kerangka sekuler, yakni diukur berdasarkan persepsi seseorang dan kepentingan pribadi, di sinilah letak masalah serius, bahaya, dan konsekuensinya. Self-esteem akan ditentukan dan diukur oleh ekspektasi dan norma masyarakat, seperti atribut fisik, kekayaan, dan status—sehingga mendorong sifat-sifat semisal narsisme, amoralitas, arogansi, dan eksploitasi.
Di bawah sistem sekuler saat ini, kurangnya kontribusi pada setiap hal yang dihargai, menargetkan pada self-esteem. Hal ini memberikan arti penting pada hal yang tidak semestinya. Terlalu tingginya fokus pada kehidupan dunia dan perasaan kurang dalam hal apa pun yang nyata atau dirasakan, pasti akan berdampak buruk pada kesehatan mental.
Sementara itu, dalam Islam, self-esteem adalah komponen utama dari ajaran Islam sebab Islam memberikan nilai yang nyata pada umatnya. Firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At-Tin: 4).
Hasilnya dapat dilihat sebagai tolok ukur perkembangan, tetapi bukan sebagai dasar untuk menilai, memahami bahwa seseorang bisa saja sudah melakukan yang terbaik, tetapi Allah Swt. sedang mengujinya.
Di kalangan kaum muslim, kita kerap mendengar ucapan “insyaallah”, “masyaallah”, maupun ‘subhanallah”, yang atinya tunduk pada kehendak Allah. Jika kita percaya pada segala yang sudah tertulis, kita tentu tidak akan menghina harga diri kita. Jika seseorang berkata, “Saya akan lulus ujian, insyaallah,” lalu kemudian ternyata tidak lulus, ia akan berpikir, “Saya tidak berhasil karena Allah tidak menghendakinya dan hal itu lebih baik bagi saya.” Jadi, percaya pada keputusan Allah akan membantu kita mengatasi kesedihan dan penolakan.
—
Berbeda dengan sistem sekuler, Islam mengajarkan untuk melihat diri kita berdasarkan kedekatan kita kepada Allah Swt.—yang menjadi dasar tingkah laku dan pemikiran kita. Definisi hakiki dari “siapa kita” dan “apa tujuan dan prioritas kita” adalah bahwa nilai diri kita sesungguhnya berasal dari Allah Taala. Lalu, siapakah yang lebih baik untuk menilai diri kita, kalau bukan Dia yang Menciptakan diri dan jiwa kita? Yang pada akhirnya menentukan sukses atau tidaknya kita.
Seseorang yang sukses menurut kriteria sistem sekuler akan jauh berbeda dalam tingkah laku dan pemikirannya dibandingkan dengan orang yang mengikuti ajaran Islam dan yang mencari kedekatan dengan Allah Taala.
Abdullah bin Mas’ud ra., contohnya. Ketika para sahabat menertawakannya atas kelemahan dan kaki kecilnya, Rasulullah saw. dengan tegas bertanya kepada mereka yang tertawa. Mendengar jawaban mereka, beliau saw. bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betis itu lebih berat di timbangan daripada Gunung Uhud.” (HR Ahmad 3991 dan disahihkan Syuaib al-Arnauth).
Kisah inspiratif lainnya yang diceritakan dalam Tafsir Ibnu Katsir, yakni kisah Sahabat Julaibib ra. (yang silsilahnya tidak diketahui). Namanya berarti ‘cacat’ karena penampilannya dan orang-orang sezamannya menggambarkannya sebagai orang yang sangat pendek, miskin, dan menjijikkan. Nabi saw. kemudian menikahkannya dengan seorang gadis bangsawan dari Anshar. Setelah itu, ia syahid dalam ekspedisi bersama Nabi.
Beliau saw. berdiri di dekat tubuhnya dan berkata, “Julaibib telah berhasil membunuh tujuh orang musuh, sebelum akhirnya mereka berhasil membunuhnya. Ia adalah bagian dariku dan diriku adalah bagian darinya.” (Sahih Muslim). Beliau saw. kemudian mengangkatnya ke dalam pelukannya yang berkah.
Di bawah sistem sekuler pula, para perempuan, misalnya, menjadi makin bergantung pada tolok ukur masyarakat melalui media dan platform sosial. Sebuah studi menunjukkan, sepertiga perempuan dan wanita muda tidak akan mau mengepos foto selfie-nya secara online tanpa menggunakan filter, aplikasi, atau tanpa mengubah penampilannya. Pada saat yang sama, mereka juga akan menghapus foto-foto yang mendapat “likes” dan komentar minim. Survei lain menemukan bahwa setengah dari mereka tadi secara rutin mengubah foto mereka untuk “menyempurnakan” penampilan mereka secara online demi “memperoleh validasi”.
Dalam masyarakat kapitalistik, tidak ada batasan pasti; semuanya adalah “for sale”, bahkan tubuh dan harga diri perempuan. Seksualitas dieksploitasi sebagai alat marketing; ketakutan dan rasa insecure diciptakan untuk mendongkrak penjualan. Lingkaran sekuler yang sakit ini terus berlanjut tanpa peduli pada miliaran korbannya di seluruh dunia.
—
Sebagai orang tua dan guru, penting untuk membentuk fundamental untuk melestarikan dan membina individu muslim yang kuat dan terjamin, terutama membentuknya pada diri kita sendiri. Dalam membentuk lingkungan yang membantu membangun self-esteem yang tinggi, dilakukan melalui memperkuat akidah kita; meningkatkan keterampilan, kebiasaan, dan rutinitas yang positif; memiliki teman yang baik; dan yang terpenting adalah mendefinisikan dan mengembangkan tujuan kita. Melalui semua ini, penting untuk menghabiskan waktu dan energi kita untuk tujuan tersebut.
Sebagai umat Islam, tujuannya jelas, yakni meraih rida Allah Swt. dengan memperkuat akidah, berjuang mendapatkan rida dan kedekatan dengan-Nya dalam segala hal yang dilakukan, dan memiliki penerimaan diri. Akidah (Islam) mengajarkan bahwa setiap manusia diciptakan unik oleh Allah dengan segala kelebihan, kekurangan, dan kondisi hidup masing-masing.
Kita bertawakal pada Allah dan yakin akan ketetapan-Nya. Akidah yang kuat akan mendorong ketergantungan pada hikmah dan ketetapan Allah Swt., beriman pada hikmah-Nya yang hakiki, memberi kita kekuatan batin dalam mencari validasi dari Allah, bukan dari makhluk ciptaan-Nya.
Kita pun “merawat kendaraan” yang menjalankan hidup kita—tubuh kita—dari dalam, yakni dengan mematuhi aturan berpakaian, pola makan, rutinitas, olahraga, berjemur matahari, dan tidur. Hal ini dapat menuntun untuk meningkatkan mood, fungsi kognitif, dan kesejahteraan secara menyeluruh yang dapat berdampak positif pada cara kita memandang diri sendiri dan nilai diri.
Seiring dengan memasukkan semua elemen tersebut ke kehidupan sehari-hari, kita pun bisa meningkatkan self-esteem dan kesehatan mental kita, serta merasa lebih baik secara keseluruhan, dengan izin Allah.
—
Ada banyak cara untuk meningkatkan self-esteem pada generasi muda atau diri kita. Rasulullah saw. menyebutkan betapa pentingnya untuk mengelilingi diri dengan pergaulan yang baik. “Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memperhatikan siapa teman dekatnya.” (HR Ahmad).
Cara penting lainnya adalah memperkuat akidah dengan memiliki atau memahami tujuan hidup untuk apa kita diciptakan. Juga memahami bahwa waktu kita di dunia sangatlah terbatas. Selain itu, yakin pada ketetapan Allah dan senantiasa memohon ampunan-Nya. Hal ini dimulai sejak tahap awal berkembangnya seseorang dan diterapkan dalam kehidupan anak kita kelak untuk menghindari pencarian penerimaan dari sumber luar (selain Islam, red.).
Di manakah contoh cemerlang dari masyarakat Islam yang bebas dari kegelisahan dan tekanan, serta yang menghasilkan ketenteraman warganya yang bahkan tidak dapat dibayangkan oleh kaum sekuler? Jawabannya, ketenangan dan ketinggian self-esteem pada anak-anak dan orang dewasa akan terlihat dalam masyarakat ketika Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah tegak. Insyaallah, segera! [MNews/Gz]
Sumber: Diterjemahkan dari Ummah Voice Podcast
