Penulis: Syekh Taqiyudin an-Nabhani
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Sesungguhnya, ketika dikatakan, “sur’atul badihah”, yang dimaksud tiada lain adalah sur’atul badihah yang alami dan spontan. Tidak disebut sur’atul badihah, kecuali atas hal itu.
Hal ini karena sur’atul badihah adalah kecepatan dalam menghukumi sesuatu dan hal ini tidak akan diperoleh kecuali secara alami, bukan buatan (artifisial). Sintesis sur’atul badihah merupakan suatu kondisi antara berpikir lambat dengan berpikir cepat, bahkan merupakan kondisi transformasi dari berpikir lambat kepada berpikir cepat. Kondisi ini bersifat sementara, merupakan sarana dan bukan tujuan. Ia wajib merupakan sarana dan tetap hanya sarana.
Dari sini kita mendapatkan bahwa sur’atul badihah yang alami merupakan asal atau wajib seperti itu dan tetap hanya asal. Oleh karena itu, sesungguhnya pembicaraan ini tiada lain mengenai sur’atul badihah yang alami dan bukan tentang sur’atul badihah artifisial.
Akan tetapi, realitas manusia di kawasan ini atau khususnya kaum muslim masih berpegang teguh dengan berpikir lambat dan masih jauh dari sur’atul badihah. Dengan demikian, perlu mewujudkan sur’atul badihah artifisial dan wajib berusaha untuknya dan dengannya. Oleh karena itu, harus ada pembicaraan tentang sur’atul badihah artifisial sebagai suatu sarana dan alat, bukan sebagai tujuan.
Proses sur’atul badihah artifisial dimulai dengan penggunaan kecerdasan dan penggunaan kecerdasan itu meskipun harus alami, tetapi sebagai akibat adanya perang pemikiran dan perang politik, menjadikan penggunaan kecerdasan bersifat artifisial.
Dengan kata lain harus ada sintesis penggunaan kecerdasan dan sintesis untuk mewujudkan sur’atul badihah. Harus ada sintesis dalam segala sesuatu, yaitu harus ada kesengajaan dan rencana untuk mewujudkan sintesis ini. Juga harus ada sintesis untuk mewujudkan kecerdasan dan selanjutnya untuk mewujudkan sur’atul badihah dan terus berkesinambungan dalam usaha ini sehingga sur’atul badihah alami tercapai, setelah penggunaan kecerdasan merupakan perkara yang alami.
Ketika sintesis adalah menyengaja dan merencanakan, kemudian harus ada sintesis, berarti harus ada kesengajaan dan rencana. Pertanyaan yang muncul sekarang adalah, “Dengan apa kita menyengaja dan merencanakan?” Artinya,”Aapa yang kita sengaja dan rencanakan?”
Jawaban atas pertanyaan ini adalah bahwa pembicaraan dimulai dengan penggunaan kecerdasan dan karena penggunaan kecerdasan dimulai dengan perhatian, maka harus ada kesengajaan dan rencana untuk memperhatikan. Kesengajaan dan rencana ini meskipun dapat diperoleh dengan latihan dan belajar, tetapi lebih baik jika diperoleh secara alami.
Oleh karena itu, sesungguhnya kesengajaan untuk memperhatikan ini diperoleh dengan jalan melontarkan pemikiran-pemikiran dan menjadikan manusia mengambilnya jika mereka meyakini kebenarannya. Dengan kata lain, jika pemikiran-pemikiran itu telah berubah menjadi mafahim bagi mereka.
Lalu dikatakan pada manusia bahwa mereka harus memiliki kesengajaan dan rencana untuk memperhatikan. Jika mereka menghadapi segala sesuatu, harus menyengaja dan merencanakan untuk memperhatikannya sehingga mereka memahami segala perkara.
Dengan kata lain, mereka memulai dengan menggunakan kecerdasan secara artifisial, kemudian hal itu menjadi nyata bagi mereka. Hal ini dengan pengulangan dan berlalunya waktu akan mewujudkan pada diri mereka sur’atul badihah.
Oleh karena itu, menyengaja dan merencanakan merupakan pilar yang pertama, tetapi bukan dengan latihan dan belajar, melainkan dengan melontarkan pemikiran-pemikiran kepada manusia agar berubah menjadi mafahim bagi mereka, yaitu memberikan pemikiran-pemikiran itu dengan disertai dengan bukti-buktinya (barahin), baiksecara lafaz atau dengan cara yang menjadikan pemikiran-pemikiran itu jelas hanya dengan menyebutkannya.
Ketika telah berubah menjadi mafahim bagi mereka sehingga terjamin pengadopsiannya dan penggunaannya, dan ketika itu terjamin pula proses penggunaan kecerdasan, dan ketika hal ini terjamin, maka akan terwujud sur’atul badihah yang meskipun pada awalnya merupakan sesuatu yang dibuat (disintesis), tetapi dengan pengulangan dan berlalunya waktu akan berubah alami. Oleh karena itu sesungguhnya niat dan maksud menjamin diperolehnya sur’atul badihah yang alami dan bukan hanya yang artifisial. [MNews/Rgl]
Sumber artikel: Syekh Taqiyudin an-Nabhani, Sur’atul Badihah (Berpikir Cepat dan Produktif)

One thought on “[Sur’atul Badihah] Sur’atul Badihah Alami dan Sur’atul Badihah Artifisial (Bagian 2/3)”