[Dunia Remaja] Manajemen Rasa, Muslimah Bertakwa

[Dunia Remaja] Manajemen Rasa, Muslimah Bertakwa

Penulis: Shezan A. Gerung

Muslimah News, DUNIA REMAJA — Menjadi remaja muslimah tentu tidak luput dari godaan. Sebagai remaja—terlebih dengan kondisi hari ini—seakan mudah terjebak dalam atmosfer yang jauh dari pengawasan Allah. Mungkin kita pernah membaca atau mendengar tentang seorang remaja muslimah tergoda rayuan penuh syahwat. Ada yang pacaran hingga bablas melakukan hubungan layaknya pasangan sah. Ada pula yang terjebak cinta buta hingga rela melakukan hal di luar nalar yang juga full syahwat.

Tentu saja, getir rasanya menyaksikan kelakuan remaja hari ini. Terlebih lagi, godaan syahawat pada masa pubertas seakan sulit dihindari. Pasalnya, gaya hidup remaja tidak jauh dari urusan asmara. Memang, sih, ketertarikan terhadap lawan jenis ini gampang-gampang susah dihalau. Ibarat virus, butuh imunitas tinggi untuk menghalaunya.

Menjaga Rasa

Kata orang, Allah menganugerahi kaum hawa dengan sifat halus dan lemah lembut. Oleh karenanya, wajar jika cewek itu dominan perasaannya ketimbang rasionalnya, termasuk dalam urusan cinta. Kalau sudah kepincut, seakan ikhlas melakukan apa pun. Mungkin ini juga yang membuat remaja muslimah rela melakukan apa pun demi sang pujaan hati.

Lihat saja model pacaran remaja, bukan hanya secara langsung, tetapi hingga ke dunia maya. Istilah sleep call, hingga video call penuh syahwat kian menjadi celah bagi setan untuk datang menggoda. Mirisnya, ada yang kecanduan hingga orang tua harus putar otak mencari cara mengarahkan anaknya kembali ke jalan yang benar.

Saking addicted berpacaran, punya gebetan adalah perkara wajib. Sehari saja enggak bertemu gebetan, dunia serasa runtuh. Ketika ada gangguan sinyal hingga tidak bisa berkontak dengan doi saja, bisa berefek uring-uringan. Wah, wah, wah. Ini, sih, bukannya bahagia, malah bikin galau.

Ada juga fakta lain yang mengungkapkan bahwa pacaran bisa membuat seorang remaja membangkang terhadap orang tua. Para cewek yang telanjur tergila-gila dengan sang pacar ternyata bisa lebih memilih doi ketimbang orang-tua sendiri. Ortu memberi nasihat, dianggapnya sedang dimusuhi. Malah kadang balik membentak sampai pakai acara mogok makan, hingga kabur dari rumah bersama pacar. Walah.

Enggak mikir kali, ya, bahwa hidup ini butuh orang lain? Lebih dari seorang cowok bermodal cinta buta. Makan tuh cinta. Kalau sudah hidup berdua, baru terasa susahnya. Ujung-ujungnya kembali menyusahkan orang tua. So, penting banget mengelola rasa. Mengapa? Ya, jika seorang terbuai cinta, tahi kucing bisa terlihat seperti cokelat. Satu sisi menimbulkan binar, sisi yang lain menimbulkan nyeri. Aduhai. Saat rasa nyeri hadir, sampai nekat mengakhiri hidup. Kok, bisa, sih sampai begitu? Bagaimana agar muncul keberanian untuk tidak terseret dalam rasa?

Revisi Pemahaman, yuk!

Coba berpikir, pacaran itu memang tidak seindah kenyataan. Pasti ada saja fakta mengenaskan tentang pacaran. Lantas kalau sudah seperti ini, kudu bagaimana, dong?

Sobat muslimah, perbuatan kita dikendalikan oleh pemahaman. So, pemahaman ini yang harus kita revisi, tentu dengan pemahaman Islam. Baik di dunia nyata, maupun di dunia maya sama saja. Bukan alasan untuk membenarkan interaksi penuh syahwat yang terlarang. Meski terpisah jarak dan waktu, aktivitas kita tetap dalam pantauan Allah Taala. Islam memiliki seperangkat aturan mengenai hubungan antara antara laki-laki dan perempuan nonmahram di dunia maya. Sama dengan di dunia nyata, syariat Islam memperbolehkan interaksi antara laki-laki dan perempuan jika terdapat hajat (keperluan). Dengan sendirinya, pembicaraan yang terjadi tidak menjurus pada pembicaraan yang mengedepankan rasa. Jika pembicaraan di dunia maya sudah di luar batasan tersebut, artinya mereka sudah melakukan interaksi yang tidak diperbolehkan syarak alias haram. Oleh karenanya, sleep call, video call, virtual date, atau sejenisnya jelas haram dalam timbangan syariat.

Kok, haram? Ya, iya haram. Ini karena hukum asal laki-laki dan perempuan nonmahram itu wajib infishal (terpisah), baik dalam kehidupan umum (seperti di jalan raya, sekolah, kampus), maupun dalam kehidupan khusus (seperti di rumah).

Kewajiban infishal ini telah ditunjukkan oleh sejumlah dalil, seperti hadis yang mengatur saf salat kaum wanita di belakang saf kaum laki-laki. Juga hadis yang memerintahkan kaum wanita keluar masjid lebih dahulu setelah salat jemaah. (Taqiyuddin An Nabhani, An Nizham Al Ijtima’i fil Islam, hlm. 38–39; Muqaddimah Ad Dustur, 1/317–318).

Nah, sekarang identifikasi tuh pembicaraan virtual yang dilakukan pasangan-pasangan online. Pembicaraan mereka penuh gombalan, pembicaraannya pun mengumbar perasaan yang memancing syahwat.

Pemahaman inilah yang harusnya menjadi acuan remaja muslimah dalam beraktivitas. Meski masa remaja merupakan fase yang penuh godaan, ini bukan dalih untuk memanjakan syahwat melalui aktivitas terlarang. Ingat, Allah senantiasa mengawasi kita. Ingat pula, ada orang tua yang telah mengorbankan segala yang mereka miliki untuk membesarkan kita. Jangan hanya karena seorang yang baru bertemu, pandangan kita menjadi buta.

Ciri remaja muslimah seharusnya lekat dengan sosok salihah. Jaga diri dari pandangan yang tidak terjaga. Hiasi diri dengan rasa malu untuk menjaga kemuliaan dan kehormatan seorang muslimah. Jangan mudah tergoda gombalan yang membuai rasa. Perkuat keimanan, pastikan rasa itu kelak hanya untuk ia yang Allah halalkan. Setuju? [MNews/YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *