Syuhdah ad-Dinawariyah, Kaligrafer Berjuluk Fahrunnisa’

Syuhdah ad-Dinawariyah, Kaligrafer Berjuluk Fahrunnisa’

Penulis: Chusnatul Jannah

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Bukan hanya ilmuwan, peradaban Islam juga banyak melahirkan seniman berbakat dengan karya hebat dan bermakna. Kapasitas mereka di bidang seni dan sastra dikenal sangat berkualitas. Seni Islam yang dulu berkembang pesat ialah khat atau kaligrafi. Banyak di antara tokoh-tokoh muslim yang berupaya mempelajari seni menulis indah ini, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan. Para ahli kaligrafi ini disebut khathath.

Beberapa sumber menyebutkan, jumlah kaligrafer perempuan tidak lebih dari 20 orang. Hanya saja, sumber sejarah lainnya menyatakan ada ribuan kaligrafer perempuan yang tersebar di dunia, terutama di wilayah Andalusia. Ribuan kaligrafer muslimah ini tidak tercatat karena kabarnya mereka sengaja menyembunyikan identitasnya. Di antara kaligrafer atau khathath yang masyhur ialah Syuhdah ad-Dinawariyah. Bagaimana kisahnya?

Kehidupan Syuhdah

Syuhdah lahir dari keluarga ulama. Ayahnya, Abu Nashr Ahmad bin Al-Farj bin Umar ad-Dinawari (w 506 H) merupakan seorang ahli hadis (muhaddis) dan murid dari banyak ulama besar pada masanya. Kakek Syuhdah ialah seorang pedagang yang senang belajar hadis. Syuhdah lahir di Baghdad, dari keluarga Dinawar, Kurdistan pada 484 H atau 1091 M.

Syuhdah belajar berbagai ilmu pengetahuan Islam kepada ayahnya. Ia mulai menghafal riwayat-riwayat hadis sejak berusia 8 tahun. Dalam diri Syuhdah terhimpun banyak keutamaan. Oleh karenanya, tidak salah jika ia dijuluki sebagai fahrunnisa’ (kebanggaan kaum perempuan) karena kehebatannya dalam ilmu hadis dan seni kaligrafi.

Selain memiliki tulisan (khat) yang sangat indah, ia merupakan ulama muhaddisah (ahli hadis), penulis produktif, serta pemegang banyak riwayat dan sanad kitab-kitab hadis, termasuk kitab-kitab karya Imam Malik, Imam Ibnu Abi Dunya, Imam Abu ‘Ubaid, dan kitab-kitab lainnya. Banyak ulama yang belajar darinya untuk mendapatkan riwayat kitab tertentu.

Syuhdah memiliki banyak murid hebat, seperti Ibnu Asakir, As-Sam’ani, Ibnu al-Jauzi, Abdul Ghani, dan lainnya. Menurut penuturan salah satu muridnya, Ibnu al-Jauzi, Syuhdah bergumul dengan ilmu dan bergaul dengan para ulama untuk mencerap ilmu dari mereka.

Setelah 40 tahun menjalankan bahtera rumah tangga, suami Syuhdah meninggal dunia. Saat menjanda, ia mengisi hari-harinya dengan belajar dan mengajar. Bahkan, Khalifah Al-Muqtadi bi Amrillah dari Dinasti Abbasiyah memberinya tanah yang luas.

Syuhdah memanfaatkan tanah pemberian tersebut untuk membangun madrasah dan pusat pendidikan Islam yang berlokasi di tepi Sungai Tigris. Murid yang belajar di sana berjumlah lebih dari seribu orang. Mereka mendapatkan beasiswa dari Syuhdah sendiri.

Khatimah

Syuhdah wafat pada 574 H saat berusia 90 tahun. Jenazahnya disalatkan di pusat kota Baghdad dan dihadiri ribuan orang, di antaranya para murid dan mahasiswa, ulama, serta pejabat pemerintah Daulah Islam.

Kehidupan Syuhdah, sang kaligrafer dan ahli hadis ini sangat dekat dengan ilmu. Dari tangannya, lahir banyak ulama sekaliber dirinya. Semoga kisah Syuhdah memberi inspirasi bagi para muslimah agar terus berkarya untuk umat, serta melahirkan ilmuwan dan cendekiawan hebat yang mampu membangun kembali peradaban Islam yang sangat kita nantikan. [MNews/YG]

*Dinarasikan ulang dari berbagai sumber

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *