Penulis: Ummu Nashir N.S.
Muslimah News, KELUARGA — Alhamdulillah. Kita bersyukur kepada Allah Swt. karena Ramadan segera datang. Apa yang harus keluarga muslim persiapkan untuk menyambutnya? Tidak sedikit orang tua yang deg-degan menyambutnya, terlebih yang memiliki anak-anak berusia 5–6 tahun dan akan mulai belajar saum. Orang tua, terutama para ibu kerap khawatir, mampukah mengajari anak-anaknya? Apakah mereka akan kuat melaksanakan saum seharian? Bagaimana kalau mereka menjadi sakit atau kurus? Masih banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benak. Bahkan banyak juga ibu yang tidak tega sehingga menyerah mengajarkan anaknya saum. Mereka menunggu hingga tahun depan untuk mulai belajar, padahal anak sudah semakin besar dan menjelang balig.
Dengan demikian, dibutuhkan kesiapan dan kerjasama yang baik dari orang tua agar seluruh anggota keluarga sukacita menyambut Ramadan. Dengan demikian, anak-anak yang masih kecil pun antusias menyambutnya. Sesungguhnya, Islam memerintahkan keluarga muslim agar menyambut hadirnya Ramadan dengan gembira dan bahagia. Oleh karenanya, sudah seharusnya keluarga muslim mempersiapkan diri dengan baik.
Kehadiran Ramadan Harus Disambut dengan Gembira
Ramadan harus disambut penuh sukacita dan bahagia oleh setiap keluarga muslim. Ramadan adalah bulan yang mulia dan sangat istimewa, berlimpah keutamaan, pahala, dan keberkahan. Ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah saw., “Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan seribu bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, sungguh ia terhalangi.” (HR Ahmad).
Menurut ulama, hadis ini menunjukkan bahwa kita harus gembira menyambut Ramadan. Syekh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “Hadis ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yang saleh dengan datangnya Ramadan. Ini karena Nabi saw. memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadan. Ini bukan sekadar kabar, tetapi maknanya adalah gembira dengan datangnya momen yang agung.“
Ibnu Rajab al-Hambali dalam buku Ahaditsush Shiyam menjelaskan, “Bagaimana tidak gembira? Seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga dan tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak gembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu yang menyamai waktu ini (Ramadan)?”
Memotivasi Keluarga agar Gembira Menyambut Ramadan
Gembira menyambut Ramadan selain diperintahkan, juga merupakan sikap yang baik dan mulia. Sikap ini juga sangat penting, karena akan menjadikan setiap anggota keluarga muslim ikhlas menerima hadirnya bulan mulia ini. Selanjutnya, mereka akan memotivasi diri menjalani berbagai ibadah selama Ramadan dengan baik dan benar, serta selalu semangat, merasa nyaman, dan nikmat.
Bagaimana cara memotivasi diri dan keluarga, terutama anak-anak yang baru mulai berpuasa agar mereka menyambut Ramadan dengan gembiraan dan bahagia?
1. Memahamkan bahwa saum Ramadan adalah kewajiban.
Penting untuk memahami anggota keluarga muslim bahwa saum Ramadan adalah kewajiban bagi setiap muslim. Jelaskan konsekuensi kewajiban, yakni jika dilaksanakan akan mendapat pahala, sebaliknya jika ditinggalkan akan mendatangkan siksa. Ini harus ditanamkan kepada keluarga kita sehingga menjadi energi yang menyemangati. Dengan demikian, keluarga muslim akan bersukacita menyambut bulan mulia ini.
Kewajiban saum Ramadan disampaikan Allah Swt. dalam QS Al-Baqarah: 183. Juga dalam beberapa hadis Rasulullah saw., seperti, “Telah datang Ramadan, bulan penuh berkah. Allah mewajibkan kalian berpuasa pada bulan itu. Saat itu, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat, dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.” (HR Ahmad).
2. Memahamkan tujuan saum Ramadan dan keistimewaan orang bertakwa.
Saum secara fikih dimaknai dengan menahan diri dari makan dan minum, serta hal-hal yang membatalkannya, dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Saum bertujuan melahirkan insan-insan bertakwa, seperti dinyatakan dalam QS Al Baqarah: 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”
Di akhir ayat tersebut tertulis la’allakum tattaquun (agar kalian bertakwa) yang merupakan tujuan atau hikmah disyariatkannya saum. Kata takwa berasal dari kata waqa yang berarti melindungi. Kata tersebut kemudian digunakan untuk menunjukkan sikap dan tindakan melindungi diri dari murka dan azab Allah Taala. Rasulullah saw. pun bersabda, “Seorang mukmin tidak akan mencapai derajat takwa, hingga ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna karena khawatir terjerumus ke dalam hal-hal yang haram.” (HR Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim, dan Baihaqi).
Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa takwa identik dengan perasaan takut terjatuh ke dalam keharaman dengan didasarkan pada keimanan, seraya menjalankan berbagai kewajiban. Sabda Rasulullah saw., “Puasa itu bukanlah semata-mata menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang mencelamu atau jahil kepadamu, katakanlah, ‘Aku sedang saum, aku sedang saum.’” (HR Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim).
Seorang muslim harus paham bahwa puasa Ramadan akan mewujudkan manusia bertakwa. Dengan demikian, ia akan berusaha menjalankannya sesuai tuntunan Islam. Tentu saja ini akan menumbuhkan semangat baru untuk menggapai predikat takwa dan akan menyambut Ramadan dengan sukacita.
3. Menjelaskan keutamaan Ramadan.
Allah Swt. telah menetapkan Ramadan dengan keutamaan dan kekhususan tertentu dibandingkan bulan-bulan lainnya. Harus kita pahami dengan iman dan takwa, bahwa ini semua adalah bentuk nikmat dan karunia dari Allah Swt. untuk hamba-hamba-Nya. Dengan demikian, manusia senantiasa bersemangat mendekatkan diri kepada-Nya dan meninggalkan perbuatan yang dimurkai-Nya.
Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Swt. berfirman, “Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya itu untuk-Ku dan Aku yang akan mengganjarnya. Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi daripada wangi misk. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, yakni jika berbuka ia berbahagia, dan jika bertemu Tuhan-nya, ia berbahagia karena puasanya.” (HR Al Bukhari, Muslim, An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Hadis ini menunjukkan keistimewaan dan keutamaan puasa. Amal selain puasa adalah milik manusia, sedangkan puasa adalah milik Allah. Paling tidak ada dua penafsiran dalam hal ini. Pertama, puasa tidak menimbulkan ria seperti amal lainnya yang terjadi dengan gerakan (puasa dengan niat yang tidak tampak oleh orang lain). Kedua, amal selain puasa diungkap kadar pahalanya, sedangkan puasa hanya Allah yang mengetahuinya.
Dengan keistimewaan dan keutamaannya, sangat disayangkan apabila kita dan keluarga melalui Ramadan sebagai rutinitas tahunan belaka dan menyambutnya biasa saja. Ramadan tidak dimanfaatkan untuk mengubah kondisi yang buruk menjadi baik dan yang baik menjadi lebih baik lagi. Alangkah rugi apabila kesempatan yang Allah berikan kita sia-siakan. Oleh karena itu, kita harus memahami hakikat Ramadan dengan benar sehingga kita akan menyambutnya dengan sukacita. Kita pun akan senantiasa memanfaatkan momen Ramadan untuk meningkatkan kualitas diri sebagai manifestasi pemahaman kita terhadap makna puasa.
4. Menjelaskan bahwa amal kebaikan saat Ramadan akan diberi pahala berlipat.
Ramadan adalah kesempatan dari Allah agar kita memperbanyak amal kebaikan. Sekecil apa pun amal kebaikan akan bernilai pahala yang besar. Bahkan memberi seteguk air minum kepada orang yang berbuka puasa akan diberi pahala sebagaimana pahala orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut. Allah Swt. melalui Rasulullah saw. telah menjelaskan tentang berlimpahnya pahala saat Ramadan. Nabi saw. bersabda, “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR Tirmidzi).
“Barang siapa meringankan beban budak sahaya, niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka. Perbanyaklah empat perkara saat Ramadan, yaitu dua perkara untuk mendatangkan keridaan Tuhan-mu dan dua perkara lagi kamu sangat menghayatinya. Dua perkara pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya. Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah memohon surga dan perlindungan dari neraka. Barang siapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang ia tidak merasakan haus lagi sesudahnya hingga ia masuk surga.” (HR Ibnu Huzaimah).
Seorang muslim yang mengetahui bahwa kebaikan apa pun saat Ramadan akan dilipatgandakan pahalnya oleh Allah Swt., tidak akan menyia-nyiakan Ramadan. Sebaliknya, ia akan antusias dan bahagia menyambut Ramadan.
5. Menceritakan cara Rasulullah, serta para sahabat dan ulama menyambut Ramadan.
Merupakan hal yang baik jika kita menceritakan kepada keluarga, terutama kepada anak-anak kita cara Rasulullah, serta para sahabatnya dan ulama menyambut Ramadan. Ini akan menjadi contoh terbaik bagi keluarga kita. Rasulullah Muhammad saw. memberikan teladan paripurna mempersiapkan diri menyambut Ramadan. Salah satunya dengan menyemarakkan puasa sunah. Ini diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid, dikatakan, “Rasulullah saw. melakukan puasa sepanjang Syakban atau melakukan puasa pada bulan itu, kecuali beberapa hari saja beliau tidak melakukannya.” (HR Bukhari-Muslim). Selain itu, beliau juga memperbanyak doa. Di antara munajat beliau adalah, “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku pada Rajab dan Syakban, serta panjangkanlah usiaku agar aku sampai ke Ramadan.”
Begitu pun para sahabat yang menyambut Ramadan penuh sukacita dan keharuan. Mereka gembira sebab kesempatan memperbanyak pahala dan menggapai rida Ilahi terbuka lebar. Mereka juga terharu karena Allah memanjangkan usia mereka hingga dapat berjumpa dengan Ramadan. Pernah dilukiskan pula dalam sebuah tulisan bahwa para sahabat menunggu kedatangan Ramadan tidak ubahnya sepasang calon pengantin yang tengah menunggu hari pernikahan.
Dikatakan oleh para ahli sejarah, dahulu para salafush-shalih mempersiapkan diri sejak lima bulan setengah sebelum datangnya Ramadan. Kemudian, lima bulan setengah setelah Ramadan pun mereka selalu mengharapkan bertemu kembali dengan Ramadan. Mereka selalu memohon agar ibadah Ramadan yang telah lalu diterima Allah Taala. Dengan cara demikian, mereka mampu mempertahankan suasana Ramadan, bahkan kala melalui sebelas bulan sisanya. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan lagi dengan Ramadan. Kemudian, mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima amal-amal saleh mereka pada Ramadan yang lalu.'”
Khatimah
Demikianlah, keluarga muslim harus gembira dan bahagia menyambut kehadiran tamu istimewa, Ramadan. Semoga Allah mudahkan kita meraih berbagai amalan istimewa saat Ramadan sehingga kita bisa mendapatkan takwa sempurna seperti tujuan diwajibkannya puasa Ramadan.
Semoga Allah Swt. memberi kekuatan serta kesehatan lahir dan batin kepada kita dan keluarga. Semoga usia kita dipanjangkan dan diberikan kesempatan menapaki Ramadan seperti doa yang sering kita panjatkan sejak Rajab dan Syakban. Allahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya’bana wa ballighnaa Ramadan. “Ya Allah, berkahilah kami pada Rajab dan Syakban, serta pertemukanlah kami dengan Ramadan.” Wallahualam bissawab. [Mnews/YG]
