[Sur’atul Badihah] Mewujudkan Sur’atul Badihah pada para Pemikir

[Sur’atul Badihah] Mewujudkan Sur’atul Badihah pada para Pemikir

Penulis: Syekh Taqiyudin an-Nabhani

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Adapun mewujudkan sur’atul badihah pada orang-orang yang bekerja dengan pemikiran seperti para guru dan politikus ideologis, sesungguhnya mewujudkannya pada diri mereka lebih mudah dari segala sesuatu, yaitu dengan mendorong mereka untuk melakukan sur’atul badihah.

Sur’atul badihah, meskipun merupakan perkara-perkara yang mendalam dan dapat dimasuki filsafat atau pemikiran, tetapi pada waktu yang sama merupakan perkara-perkara yang spontan, dengan kata lain termasuk filsafat spontan. Oleh karena itu, cukup diminta apa adanya, yaitu dikatakan pada orang-orang yang bekerja dengan menggunakan pemikiran bahwa kalian harus memiliki sur’atul badihah. Ketika itu mereka akan memahami yang dimaksud dengan sur’atul badihah dan yang harus dilakukan dengannya tanpa perlu masuk ke dalam detail maupun pada jawaban pertanyaan, sampai-sampai tidak perlu menjelaskan makna sur’atul badihah.

Hal ini karena mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan pemikiran dan sebagian besar pekerjaan mereka adalah berpikir, ilmu, dan pengetahuan. Mereka terbiasa dengan itu dan kebiasaan itu menumbuhkan suatu kebiasaan yaitu mereka selalu menggunakan pemikiran dalam menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, dalam diri mereka tumbuh kelambatan berpikir arau berpikir lambat yang mengharuskan adanya pendalaman, penelitian, dan pengujian.

Jika dikatakan kepada mereka bahwa mereka harus memiliki sur’atul badihah, mereka segera berpikir sehingga kecepatan mereka untuk berpikir ini akan membentuk sur’atul badihah dalam diri mereka. Dengan demikian, sesungguhnya orang-orang yang bekerja dengan pemikiran dan dalam pemikiran cukup dengan menjadikan mereka cepat dalam berpikir.

Yang demikian itu dengan mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus memiliki sur’atul badihah. Dengan demikian, sur’atul badihah pada mereka ini yaitu orang-orang yang pekerjaan mereka adalah berpikir seperti para pengajar, politikus ideologis, dan orang-orang seperti mereka terbentuk dari pencarian mereka terhadap sur’atul badihah.

Dengan kata lain, agar dikatakan kepada mereka bahwa kalian harus memiliki sur’atul badihah dan ini saja sudah cukup untuk menciptakan sur’atul badihah. Mereka tidak membutuhkan bantuan atau sesuatu yang baru karena mereka sendiri telah bekerja dengan pemikiran atau di lapangan pemikiran sehingga mereka tidak membutuhkan apa pun karena pekerjaan mereka adalah berpikir.

Akan tetapi, karena mereka langsung berhubungan dengan pemikiran dan karena itu adalah pekerjaan mereka sehari-hari sehingga dengan latihan dan kebiasaan, menjadikan berpikir sebagai keistimewaan mereka atau sifat berpikir lambat, oleh karena itu mereka mengatakan tentang segala sesuatu yang diungkapkan kepada mereka, “Ini membutuhkan penelitian dan pendalaman sehingga hal itu menghilangkan hakikat yang sebenarnya, padahal tidaklah demikian.

Agar mereka terbiasa dengan kecepatan berpikir dan agar mereka dapat membedakan apa-apa yang membutuhkan pemikiran dan apa-apa yang tidak membutuhkan studi, menuntut mereka untuk berpikir cepat. Dengan kata lain, menuntut mereka untuk melakukan sur’atul badihah dan mendorong mereka untuk melakukan sur’atul badihah.

Kecepatan berpikir ini adalah sama dengan sur’atul badihah, dan kecepatan itu ketika tidak berbenturan dengan tembok atau dengan kendala, akan menghasilkan segera hukum atas sesuatu itu dengan cepat dan diketahui kemudian bahwa hal itu adalah sur’atul badihah atau merupakan sur’atul badihah yang tidak membutuhkan pada penelitian dan pemeriksaan. Ketika berbenturan dengan tembok atau kendala, diketahuilah bahwa hal itu termasuk dalam jenis yang membutuhkan penelitian dan pemeriksaan dan tidak termasuk sur’atul badihah. [MNews/Rgl]

Sumber artikel: Syekh Taqiyudin an-Nabhani, Sur’atul Badihah (Berpikir Cepat dan Produktif)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *