Penulis: Doni Riwayanto
Muslimah News, NAFSIYAH — Diskusi atau perdebatan idealnya adalah adu argumen untuk mencari pendapat yang paling kuat. Hal ini akan tercapai jika kedua belah pihak sama-sama matang secara intelektual dan emosional.
Jika salah satu pihak ada yang tidak matang, baik secara intelektual maupun emosional, sering kali diskusi berujung pada Ad Hominem.
Ad Hominem muncul ketika seseorang yang tidak matang tadi tidak mampu menandingi argumen lawan debat, tetapi ia ingin tampak hebat di depan publik. Hal yang biasa dilakukan adalah dengan mengalihkan ke serangan bentuk lain.
Setidaknya ada tiga jenis Ad Hominem,
1. Abusive Ad Hominem. Alih-alih meng-counter dengan argumen yang lebih kuat, tetapi malah menyerang pribadi.
Contohnya, “Berani ngomong agama, kamu mondok di mana?” “Kamu merasa paling benar!” “Mainmu kurang jauh!”
2. Circumstance Ad Hominem. Alih-alih menjawab substansi diskusi, tetapi malah mengalihkan pada lingkungan diskusi.
Contohnya, “Bagaimana mungkin teorimu tercapai, sedangkan organisasimu dibubarkan?”
3. Tu Quoque Ad Hominem. Alih-alih menunjukkan kesalahan argumen lawan debat, tetapi justru menyatakan bahwa lawan debat tidak melakukan apa yang dibicarakan.
Contohnya, “Sok-sokan mengkritik, apa yang sudah kamu disumbangkan untuk negeri ini?
Ad Hominem sesungguhnya adalah sikap pengecut dalam dunia intelektual. Oleh karenanya, sikap seperti ini wajib dihindari.
Berikut beberapa tip untuk menghindari Ad Hominem,
1. Buang hasad (penyakit hati).
2. Jaga tawadu.
3. Sadari bahwa diskusi adalah untuk mencari kebenaran, bukan untuk gaya-gayaan saat menang.
4. Jika memang belum sepakat tetapi belum bisa membalas argumen, mending diam ketimbang Ad Hominem.
Semoga saya dimudahkan oleh Allah untuk menjauhi sikap semacam ini. [MNews/YG]
Sumber: Telegram @doniriw_channel
