Penulis: Dedeh Wahidah Achmad
Muslimah News, KELUARGA — Aktivitas dakwah atau amar makruf nahi mungkar memiliki posisi penting dalam Islam. Bahkan, dakwah menjadi salah satu penentu agar gelar khayru ummah layak disematkan pada umat ini (Lihat QS Ali Imran [3]: 110). Namun, dalam kehidupan yang dicengkeram ideologi kapitalisme liberalisme, budaya nan mulia ini kian ditinggalkan.
Kapitalisme telah menjadikan keuntungan materi sebagai standar sebuah perbuatan dilakukan atau ditinggalkan, bukan halal dan haram. Adapun liberalisme berbuah budaya serba bebas dan tidak mengenal batas-batas kebenaran. Ia melahirkan sikap individualisme yang terwujud pada ketakpeduliaan terhadap orang lain sehingga tidak merasa berkewajiban memperhatikan aturan ditegakkan atau diabaikan.
Upaya kritik, peringatan, dan nasihat justru sering dicap sebagai perbuatan tidak terpuji karena dianggap mencampuri urusan orang lain. Jika ketakacuhan terhadap pelaksanaan dakwah dan amar makruf nahi mungkar ini dibiarkan terus terjadi, tegaknya syariat secara kafah menjadi kemustahilan. Sudah pasti kita akan terkena ancaman azab-Nya. Doa-doa kita pun tidak dikabulkan-Nya. Baginda Rasulullah saw. bersabda,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ الله أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَاً مِنْ عِنْدِهِ ثُمَّ لَتَدْعُنَّهُ فَلا يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ
“Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaknya kalian betul-betul melaksanakan amar makruf nahi mungkar atau (jika kalian tidak melaksanakan hal itu) Allah benar-benar akan mengirim kepada kalian siksa dari sisi-Nya. Kemudian, kalian berdoa kepada Dia (agar dihindarkan dari siksa tersebut), tetapi Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengabulkan doa kalian.” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).
Allah Swt. memperingatkan,
وَٱتَّقُواْ فِتۡنَةٗ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةٗۖ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٢٥
“Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya.” (QS Al-Anfal [8]: 25).
Oleh karena itu, mengembalikan aktivitas dakwah dan amar makruf nahi mungkar harus senantiasa ditegakkan oleh umat Islam. Ini menjadi keharusan yang tidak bisa ditunda lagi. Aktivitas yang tidak kalah penting adalah menanamkan budaya ini sejak dini pada anak-anak kita sehingga mereka siap melanjutkan estafet perjuangan menegakkan syariat dan Khilafah di muka bumi.
Konsep Amar Makruf Nahi Mungkar yang Harus Dipahami Anak
Pertama, memahamkan anak bahwa hidup wajib terikat pada aturan Allah Taala. (Lihat QS Al-Anfal [8]: 24). Anak harus menyadari bahwa hidupnya tidak bebas aturan. Ada rambu-rambu yang harus diikuti. Siapa yang taat aturan, ia layak mendapatkan balasan pahala. Sebaliknya, siapa saja yang melakukan pelanggaran, ia akan diazab secara pedih di akhirat kelak. (Lihat QS Az-Zalzalah [99]: 7—8). Pemahaman ini akan menjadi kontrol pada diri anak supaya tetap berada di jalan ketaatan dan menjauhkannya dari perbuatan maksiat.
Kedua, memahamkan anak bahwa Islam menuntut umatnya menjadi orang yang baik. Islam juga mewajibkan kita melakukan dakwah menegakkan kebenaran, mengajak pada kebaikan, dan mencegah manusia melakukan kemungkaran atau amar makruf nahi mungkar. (Lihat QS Ali Imran [3]: 104). Kewajiban ini dibebankan kepada siapa pun yang mengaku beriman. Tidak ada perbedaan satu sama lain. Anak pun akan terkena taklif tersebut ketika masa balig telah tiba.
Ketiga, memahamkan anak bahwa amar makruf nahi mungkar adalah aktivitas mulia yang akan menjadikan pelakunya orang beruntung di sisi Allah. (Lihat QS Ali Imran [3]: 104 dan Fushshilat [41]: 33). Aktivitas ini juga akan menghantarkan umat Islam menjadi umat terbaik yang akan memimpin dunia dengan penerapan syariat secara kafah. Sebaliknya, mengabaikan kewajiban ini akan mendatangkan siksa yang akan ditimpakan bukan kepada orang-orang zalim saja. (Lihat QS Al-Anfal [8]: 25). Pengabaian ini pun akan menyebabkan umat mendapatkan laknat Allah Taala. Ini dinyatakan dalam firman-Nya,
لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ٧٨ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ٧٩
“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain senantiasa tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sungguh amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS Al-Maidah [5]: 78—79).
Imam Abu Ja’far ath-Thabari rahimahulLâh dalam tafsirnya berkata, “Dahulu, kaum Yahudi dilaknat Allah ‘Azza wa Jalla karena mereka tidak berhenti dari kemungkaran yang mereka perbuat. Sebagian mereka juga tidak melarang sebagian lainnya (dari kemungkaran tersebut).” (Tafsîr Ath-Thabari, 10/496).
Kiat Membiasakan Dakwah dan Amar Makruf Nahi Mungkar pada Anak
Pemahaman yang benar tidak akan berbuah amal saleh jika tidak diikuti dengan dorongan untuk melaksanakannya. Demikian pula tidak akan menjadi budaya jika tidak ada upaya pembiasaan. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk melakukan pembiasaan dakwah dan amar makruf nahi mungkar pada diri anak. Berikut kiat-kiat pembiasaannya.
1. Pengenalan aturan syariat secara kafah.
Setelah anak dibekali konsep-konsep terkait amar makruf nahi mungkar, berikutnya anak harus dikenalkan dengan aturan-aturan syariat yang harus dilaksanakan. Dengan demikian, mereka mengetahui batasan perbuatan berupa halal dan haram. Pengetahuan ini akan menjadi modal untuk menilai perbuatan mana yang boleh ia lakukan dan mana yang harus ditinggalkan. Demikian juga, ia menjadi tahu ketika terjadi pelanggaran di sekitarnya yang menuntutnya melakukan amar maruf nahi mungkar.
2. Penerapan aturan syariat.
Anak akan familier dengan aturan-aturan syariat manakala aturan tersebut dilaksanakan. Mulailah dari aturan terkait pribadi (misalnya, menutup aurat, tata cara salat, aturan makan dan minum, dll). Selanjutnya, ajari anak aturan pergaulan (misalnya, adab bicara, kepemilikan barang, pinjam meminjam, anjuran berbagi, dsb). Ketika anak dibiasakan dengan penerapan syariat, ia akan peka ketika ada pelanggaran sekecil apa pun. Ia akan bereaksi manakala melihat kemaksiatan di sekitarnya. Paling tidak, ia akan bertanya mengapa hal itu terjadi. Sebagai contoh, anak sudah dipahamkan bahwa muslimah wajib menutup seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan. Melihat perempuan yang tidak menutup auratnya, anak akan spontan bertanya, “Apakah perempuan itu orang Islam? Mengapa ia tidak menutup rambutnya? Apakah ia tidak takut kepada Allah? Mungkin masih ada celotehan lain yang menggambarkan keheranannya terhadap pelanggaran yang terjadi. Sebaliknya, anak yang tidak dibiasakan dengan keterikatan pada syariat akan cuek terhadap kemaksiatan yang ada di sekelilingnya. Tidak akan ada dorongan untuk melakukan perubahan dengan amar makruf nahi mungkar.
3. Melatih kedisiplinan anak pada aturan.
Biasakan anak menerima konsekuensi disebabkan pelanggaran yang ia lakukan. Sebaliknya, beri apresiasi terhadap kebaikan yang ia kerjakan. Konsistensi dan keseriusan orang tua terhadap kedisiplinan anak pada aturan akan melahirkan sikap tanggung jawab dan perhatian anak pada aturan tersebut.
Sebaliknya, sebaik apa pun aturan yang telah ditanamkan akan sia- sia dan tidak berbekas andai orang tua tidak peduli dengan ketaatan dan penentangan yang dilakukan anak. Mereka akan terbiasa melanggar dan merasa nyaman dengan kesalahan karena tidak pernah mendapatkan dampaknya, baik berupa teguran, peringatan, maupun sanksi. Mereka pun akan kehilangan semangat beramal kebaikan andai orang tua tidak pernah memberikan perhatian, seperti belaian, pujian, doa, atau sesekali memberikan hadiah. Anak merasa tidak ada bedanya antara melakukan kebaikan dengan mengerjakan pelanggaran, sama-sama tidak diperhatikan oleh orang tuanya. Sebaliknya, anak yang mendapatkan kepedulian dari orang tuanya akan memberikan perhatian pada lingkungan di sekitarnya. Mereka tidak akan membiarkan kebaikan ditinggalkan. Mereka tidak akan diam menyaksikan pelanggaran sekecil apa pun. Insyaallah mereka akan tergerak melakukan amar makruf nahi mungkar.
4. Pemberian contoh nyata dari orang tua.
Semangat melakukan dakwah dan amar makruf nahi mungkar akan bergelora pada diri anak jika aktivitas ini sudah terbiasa ia lihat dilakukan oleh orang tuanya. Boleh jadi orang tuanya akan menjadi inspirator, bahkan sosok idola dalam dakwah yang akan diikuti anak. Dakwah dan amar makruf nahi mungkar bukan lagi teori, tetapi sudah menjadi gambaran nyata dalam kesehariannya. Oleh karena itu, siapa pun yang bercita-cita memiliki keturunan yang terlibat melakukan dakwah dan amar makruf nahi mungkar harus memulainya dengan terjun langsung dalam dakwah secara optimal dan sungguh-sungguh.
5. Menceritakan kisah para pengemban dakwah.
Ceritakan kisah para ulama dan para pengemban dakwah, lalu ajak anak mengunjungi mereka. Kisah sukses para pengemban dakwah akan menjadi energi luar biasa bagi anak untuk tertarik mengikuti jejak perjuangan mereka. Cerita pengorbanan dan kesulitan yang dialami mereka juga akan menjadi obat pelipur duka tatkala kita sedang menghadapi rintangan dalam dakwah. Doa dan penjelasan yang diberikan langsung oleh para ulama bisa menjadi penyemangat kita dan anak-anak dalam menempuh jalan dakwah yang penuh cobaan dan kesulitan.
6. Mendoakan anak supaya menjadi pengemban dakwah.
Doa yang dipanjatkan orang tua untuk anak-anaknya merupakan gambaran kesungguhannya terhadap cita-cita dan harapan yang ingin dicapai. Upaya-upaya lahiriah yang telah dilakukan dalam membina mereka akan makin kukuh manakala dibarengi dengan lantunan doa kepada Allah, Zat Yang Maha Kuasa dalam merealisasikan segala keinginan. Salah satu doa yang penting dipanjatkan adalah, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi kaum yang bertakwa.” (QS Al-Furqan [25]: 74).
Penutup
Kezaliman dan kemaksiatan yang kian merajalela tidak mungkin bisa dihentikan, kecuali dengan penerapan syariat Islam secara kafah dalam institusi Khilafah. Tegaknya Khilafah membutuhkan hadirnya para pengemban dakwah yang ikhlas dan bersungguh-sungguh. Semoga kita dan anak-anak kita berada dalam barisan terdepan para pengemban dakwah. Amin.
Wallahualam bissawab. [MNews/YG]
Sumber: alwaie[dot]net
