[Ath-Thariq] Persyaratan Partai Ideologis (Bagian 6/6)

[Ath-Thariq] Persyaratan Partai Ideologis (Bagian 6/6)

Penulis: Syekh Ahmad Athiyat

Sambungan dari Bagian 5/6

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — c. Memahami metode yang benar dalam mengikat para anggota dengan partainya.

Adapun syarat yang ketiga, berkaitan dengan tata cara penerimaan anggota partai dan perkara-perkara yang bisa menghimpun dan mengikat anggotanya itu berdasarkan asasnya.

Berdasarkan penelitian kami atas metode Rasulullah saw. dan juga realitas beberapa harakah lain, kami mencatat bahwa ketakkonsistenan beberapa harakah tadi terhadap tata cara yang benar untuk menerima anggota partai, menghimpun, dan mengikat mereka, menjadi faktor mendasar kegagalan partai tersebut. Hal itu tiada lain karena berbagai harakah dan partai yang menemui kegagalan tersebut dalam mengikat orang-orang (atau anggotanya) berpijak pada asas yang salah. Harakah atau partai tersebut menjadikan status politik (seperti menteri dan anggota eksekutif), kemampuan ekonomi (seperti para pemilik modal), atau kedudukan di masyarakat (seperti ketua suku dan pangkat militer) sebagai asas diterimanya seseorang sebagai anggota partai, tanpa memperhatikan kondisinya, apakah layak atau tidak menjadi anggota partai.

Tampak pula pada sebagian harakah adanya karakter menghimpun massa. Harakah tersebut memusatkan perhatiannya pada upaya mengumpulkan anggota sebanyak mungkin dengan mengabaikan sifat dan kepribadian mereka, apakah mampu atau tidak. Dengan demikian, semua perilaku seperti ini menjadi penyebab gagalnya harakah tersebut.

Yang benar adalah bahwa asas yang digunakan dalam mengikat pribadi-pribadi atau menerima mereka sebagai anggota partai, untuk mewujudkan partai yang benar sehingga mampu mencapai tujuan, harus ditetapkan berdasarkan kelayakan atau kompetensi pribadi mereka sendiri. Adapun kompetensi mereka itu digambarkan dalam dua hal utama berikut:

1. Iman dan ikhlas dengan ideologi partai dan tujuannya serta memahami keduanya.

2. Mampu melaksanakan konsekuensi dan kewajiban yang berkaitan dengan anggota partai.

Berkaitan dengan poin pertama, dan ini menjadi hal yang sangat penting, yakni anggota partai harus meyakini ideologi partai secara sempurna, memahami pedoman yang digariskan, dan meyakini fikrah (pemikiran) partai dan tujuannya dengan sempurna pula sehingga tidak bisa ditembus oleh keraguan, dan harus memahami pedoman yang digariskan oleh ideologi, batas terendahnya adalah ia memahami bagian-bagian pemikiran yang ingin diwujudkan dalam realitas.

Jika beberapa karakter atau sifat ini tidak terpenuhi, ia tidak mungkin bisa menjalankan aktivitas dengan benar karena keimanan merupakan energi yang menggerakkan seseorang untuk bisa melaksanakan sebuah aktivitas, dan pemahaman menjadi sebab ia bisa mengetahui berbagai perkara yang harus diimani, dan pemahaman ini menjadi sebuah perkara yang memungkinkan seorang anggota (pengemban dakwah) menularkan atau mengemban pemikiran dan perasaannya pada orang lain sehingga bisa mengubah mereka dan bersama-sama mengubah masyarakat seluruhnya.

Berdasarkan hal ini, betapa pentingnya syarat ini dan sangat perlu untuk menyadari dan memperhatikannya sehingga kalaulah boleh dengan berbagai sebab mempermudah syarat lainnya, maka sebuah partai tidak boleh bertoleransi dengan syarat ini. Ini bukan berarti sebuah partai harus menolak seseorang hanya karena adanya indikasi ia tidak ikhlas, tetapi partai harus bertindak hati-hati dan membuktikan dengan pasti sebelum menghukumi seseorang yang tidak ikhlas, karena bila seseorang memiliki karakter ini (tidak ikhlas), berarti dia harus dijauhkan sama sekali dari partai, dan hal itu sama sekali tidak akan mengundang perselisihan.

Adapun poin kedua, yakni mampu melaksanakan segala konsekuensi dan kewajiban yang berkaitan dengan partai. Maksud dari poin ini adalah bahwa seseorang mampu melaksanakan—serendah-rendahnya—konsekuensi kepartaian, atau sedikitnya, beberapa tugas kepartaian seperti memberikan pengajaran, khotbah, kunjungan dari rumah ke rumah, dan kunjungan umum lainnya.

d. Memahami dunia dan berbagai peristiwa yang terjadi secara politis dan mampu melihat berbagai indikasi politik.

Sesungguhnya aktivitas untuk mewujudkan Islam dalam kancah kehidupan dengan cara menegakkan negara Islam merupakan aktivitas politik dan menuntut pelaksanaan dari aktivitas politik tersebut. Terlebih lagi di medan perjuangan politik yang mengharuskan sebuah partai untuk memahami sepenuhnya berbagai permainan internasional dan para penguasa yang merencanakan langkah-langkah, siasat, dan makar untuk memukul umat Islam dan menjauhkan umat dari agamanya itu.

Dengan demikian, sebuah partai harus memahami politik dalam negeri yang didiaminya dan politik dunia internasional. Hal itu tiada lain agar bisa memberikan perlawanan terhadap musuh-musuh ideologi. Ia juga harus memahami politik negara-negara yang saat ini sedang mengatur jalannya dunia sehingga bisa mengetahui tata cara hubungan dengan mereka dan menggagalkan langkah-langkah mereka sebelum dan sesudah tegaknya negara Islam.

Pemahaman politik menuntut partai untuk memahami dan menyingkap permainan negara penjajah kafir, terlebih lagi yang berkaitan dengan umat Islam dan harakah Islam. Hal ini penting sekali agar partai tidak masuk ke dalam perangkap (jerat) penjajahan dan para budaknya yang dengan berbagai cara mereka berusaha membinasakannya, atau sedikitnya membelokkan umat atau harakah Islam, serta menyimpangkan dan menjauhkan mereka dari niat dan tujuannya.

Pemahaman politik menuntut partai agar memiliki pandangan politik yang spesifik (khusus) terhadap dunia dan berbagai peristiwa politik yang terjadi di sana. Pandangan ini harus bertolak dari ideologi Islam sehingga peristiwa politik bisa dipahami dan bisa ditetapkan status hukum syaraknya.

Akibat dari ketiadaan pemahaman politik adalah timbulnya konsekuensi yang menyulitkan dan bahaya yang akan menghancurkan partai dan umat. Di antara beberapa langkah berbahaya tersebut adalah sikap menerima untuk bekerja sama dengan negara-negara kafir penjajah atau para pengekornya sehingga sikap tersebut bisa mengakibatkan partai jatuh dalam cengkeraman kuku penjajah dan hilangnya kepercayaan umat terhadap partai tersebut.

Inilah persyaratan yang paling penting yang harus dipenuhi sebuah partai ideologis sehingga ia mampu mencapai tujuan yang diinginkan. Bila syarat-syarat ini terpenuhi oleh sebuah partai, wajib bagi kaum muslim untuk menggabungkan diri ke dalam partai tersebut sebagai sambutan atas perintah Allah Swt.. [MNews/Rgl]

Sumber artikel: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *