[Nafsiyah] Komunikasi yang Baik Lewat Chat

[Nafsiyah] Komunikasi yang Baik Lewat Chat

Muslimah News, NAFSIYAH — Komunikasi saat ini tidak lagi terbatas oleh jarak. Kecanggihan teknologi digital telah memudahkan banyak orang berinteraksi. Namun, apakah setiap muslim dibebaskan begitu saja berinteraksi meski lewat media digital, seperti media sosial dan aplikasi percakapan lainnya?

Jawabnya, tentu tidak. Setiap muslim di mana pun dan kapan pun harus terikat dengan aturan Islam. Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya, adab-adab syar’i tentang telepon dikategorikan fikih ke dalam adab-adab berkunjung, meminta izin, berbicara dengan orang lain, baik dalam aspek kadarnya, waktunya, tempatnya, jenis pembicaraannya, dan sifatnya.”

Dengan demikian, misalnya, saat kita chat lewat WA, sebaiknya dimulai dengan menuliskan salam. Ini sebagaimana kita berkunjung ke rumah orang lain, mengawali dengan mengucapkan salam. Kemudian, kita bisa mengetahui beberapa adab dalam mengirim pesan.

Pertama, mengucapkan salam (Assalamualaikum wr. wb.) sebelum menyampaikan isi pesan kepada orang lain. Kedua, menyebut dengan nama atau panggilan hormat, seperti Kakak, Ibu, Bapak, Ustazah, dll saat menyampaikan isi pesan.

Ketiga, mengucapkan terima kasih jika orang yang dihubungi sudah menjawab berbagai pertanyaan yang kita ajukan atau telah bersedia membantu kita. Terkadang kita mengirim pesan kepada guru dengan berbagai pertanyaan. Namun setelah dijawab, justru kita tidak mengucapkan apa pun. Keempat, mengetahui waktu yang tepat untuk berkirim pesan. Jika waktu telah larut malam, hendaklah ditunda esok paginya.

Kelima, jika chat belum dijawab, sebaiknya bersabar dan tidak “memaksa” untuk segera dibalas. Berprasangka baik, jangan baper dan mudah marah karena pesan belum dibalas. Keenam, biasanya kalimat-kalimat di chat dibaca sesuai suasana hati penerimanya. Tulisan dalam chat bisa saja menimbulkan banyak persepsi. Dalam hal ini, kita harus mengedepankan sikap husnuzan. 

Oleh karena itu, jika kondisi hati sedang tidak baik-baik saja, sebaiknya ditunda untuk membalas pesan. Saat hati sudah kembali membaik, barulah menulis kalimat yang baik pula untuk membalas pesan. Ini untuk menghindari salah paham dan konflik dengan orang lain.

Jagalah Lisan dan Tulisan

Rasulullah saw. bersabda, “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hadis di atas semestinya menjadi alarm pengingat bagi setiap muslim. Kita harus senantiasa menjaga diri dari berbicara atau menuliskan sesuatu yang tidak jelas manfaatnya. Kita tidaklah berbicara atau menulis, kecuali dalam hal-hal yang bermanfaat untuk agama.

Ulama mengatakan, “Jika ingin melihat isi hati seseorang, lihatlah ucapan yang keluar dari lisannya.” Yahya bin Mu’adz rahimahullah mengatakan, “Hati itu bagaikan periuk dalam dada yang menampung isi di dalamnya. Sedangkan lisan itu bagaikan gayung. Lihatlah kualitas seseorang ketika ia berbicara. Ini karena lisannya itu akan mengambil apa yang ada dari dalam periuk dalam hatinya, baik rasanya itu manis, asam, segar, asing, atau selain itu. Rasa (kualitas) hatinya akan tampak dari perkataan lisannya.” (Hilyatul Auliya, hlm. 63).

Sebagian orang bersikap ceroboh karena tidak memperhatikan apa yang dibicarakannya dan dituliskannya dalam komentar, juga pesan chat. Sahabat ‘Uqbah bin ‘Aamir ra. bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?” Rasul menjawab, “Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (artinya, betahlah untuk tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR Tirmidzi).

Saudariku, jangan sampai kita menulis banyak hal, tetapi berbuah penyesalan karenanya. Semestinya, kita selalu menimbang dan berpikir atas setiap ucapan dan tulisan. Nasihat Rasulullah saw., “Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan membuatmu harus meminta maaf pada kemudian hari.” (HR Ibnu Majah). [MNews/YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *