[Tarikh Khulafa] Sultan Bayazid I (791—805 H), “sang Petir” dalam Penaklukan

[Tarikh Khulafa] Sultan Bayazid I (791—805 H), “sang Petir” dalam Penaklukan

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Setelah Sultan Murad I meninggal dunia dalam keadaan syahid, maka pemerintahan Daulah Utsmaniyyah dipimpin oleh putranya yang bernama Bayazid. Dia adalah seorang pemberani, berwibawa, dan sangat bersemangat dalam melakukan penaklukan-penaklukan. Oleh karena itu, dia memberikan perhatian yang besar terhadap urusan-urusan kemiliteran.

Sultan Bayazid I berencana untuk menundukkan pemerintahan-pemerintahan Kristen di Anatolia. Selang setahun kemudian, pemerintahan-pemerintahan Kristen di Anatolia tunduk kepada Daulah Utsmaniyyah.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَاتِلُوا الَّذِيْنَ يَلُوْنَكُمْ مِّنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوْا فِيْكُمْ غِلْظَةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

“Wahai orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang yang bertakwa.” (QS At-Taubah: 123).

Strategi Sultan Bayazid I

Sultan Bayazid I laksana kilat dalam pergerakan militernya di dua wilayah, Balkan dan Anatolia. Oleh karena itu, ia dijuluki sebagai “Sang Petir”.

Pertama kali yang dilakukan Sultan Bayazid I adalah menjalin kesepakatan persekutuan dengan Serbia. Sebelumnya, Serbia adalah sponsor utama terjadinya koalisi pasukan Salib Balkan melawan Daulah Utsmaniyyah. Tujuan Sultan Bayazid I mengambil strategi ini adalah agar Serbia menjadi penghalang Kerajaan Hongaria  dan tidak lagi berada di pihak pasukan Salib Balkan.

Setelah terjadi kesepakatan dengan Serbia, Sultan Bayazid I segera melakukan penyerangan yang dasyat ke Bulgaria. Ini terjadi pada tahun 797 H. Pasukan Sultan Bayazid I berhasil menguasai kerajaan Bulgaria dan penduduknya pun tunduk kepada Daulah Utsmaniyyah. Dengan demikian Bulgaria kehilangan kedaulatan politiknya.

Jatuhnya Kerajaan Bulgaria ke dalam genggaman Daulah Utsmaniyyah memberi pengaruh yang besar bahkan sampai menakutkan di Eropa. Akhirnya kekuatan-kekuatan Kristen salibis mulai bersatu dan  bergerak kembali untuk menumpas eksistensi Daulah Utsmaniyyah di Balkan.

Menghadapi  Pasukan Aliansi Salibis Eropa

Sigismund, Raja Hongaria dan Paus Bonifasius IX menyerukan persatuan negara-negara Kristen Eropa salibis untuk melawan Daulah Utsmaniyyah. Ini merupakan gabungan terbesar yang dihadapi Daulah Utsmaniyyah pada abad ke 14, ditinjau dari jumlah yang bergabung di dalamnya, serta jumlah negara yang menyumbangkan persenjataan, logistik, harta benda, dan bala tentara. Jumlah keseluruhan pasukan aliansi salibis saat itu mencapai 120.000 personel dari berbagai negara.

Pasukan aliansi salibis bergerak menuju Hongaria. Akan tetapi, para pemimpin dan panglima pasukan berselisih pendapat dengan Raja Sigismund sebelum peperangan terjadi. Raja Sigismund lebih memilih taktik bertahan, menunggu tentara Utsmani datang menyerang. Sebaliknya, para panglima dan komandan pasukan ingin segera melakukan penyerangan. Mereka menuruni Sungai Danube hingga sampai di Nicopolis, wilayah utara Balkan. Mereka mulai melakukan pengepungan.

Meraih Kemenangan

Pada awal peperangan, pasukan aliansi salibis berhasil unggul atas pasukan Utsmani. Akan tetapi, Sultan Bayazid I tiba-tiba muncul bersama seratus ribu pasukan. Jumlah yang sedikit lebih kecil dari jumlah pasukan aliansi salibis Eropa. Namun, pasukan Bayazid I lebih unggul dalam strategi dan persenjataan. Oleh karena itulah, sebagian besar tentara Kristen dapat dikalahkan dan mereka lari berhamburan. Sebagian di antara mereka terbunuh dan ada beberapa panglima salibis yang tertawan.

Pasukan Turki Utsmani berhasil keluar dari perang Nicopolis sebagai pemenang, serta memperoleh harta rampasan perang yang melimpah dan mampu menguasai harta-harta simpanan musuh. Setelah kemenangan yang gemilang ini, Sultan Bayazid I mengatakan bahwa ia akan menaklukkan Italia dan memberi makan kudanya dengan gandum di altar Santo Petrus di Roma.

Banyak pembesar Prancis yang tertawan dalam pertempuran ini, di antaranya adalah Count de Nevers (Charles II). Sultan Bayazid menerima tebusan yang dibayarkan dan melepaskan Charles II. Charles II bersumpah untuk tidak kembali memerangi Daulah Utsmani.

Sultan Bayazid I berkata kepadanya, “Saya membolehkanmu untuk tidak menepati sumpah ini. Kamu boleh saja untuk kembali berperang melawan saya. Sebab tidak ada satu hal pun yang saya senangi daripada memerangi semua orang Kristen Eropa dan saya menang atas mereka.”

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS Al-Hujurat : 15). [MNews/Rgl]

Sumber: Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura

Share

One thought on “[Tarikh Khulafa] Sultan Bayazid I (791—805 H), “sang Petir” dalam Penaklukan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *