Muslimah News, NASIONAL — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menegaskan, kalimat tauhid merupakan inti sekaligus pusat kekuatan agama.
“Kalimat thayibah, yaitu kalimat laa ilaaha illallah Itu sesuatu yang fundamental. Ia boleh disebut sebagai inti, tetapi sekaligus sebagai pusat dari kekuatan agama kita,” tuturnya dalam Fokus to The Point: “Toleransi Bukan Partisipasi” di kanal UIY Official, Senin (25-12-2023).
UIY menjelaskan, dalam Al Qur’an surah Ibrahim ayat 24, Allah Swt. mengumpamakan kalimat thayibah itu seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit, mengeluarkan buah di setiap musim dengan izin Allah.
“Bagaimana pohon itu terus tumbuh, lalu berbuah itu sangat tergantung kepada akar,” tandasnya.
Terkait akidah, ucapnya, Allah Swt. secara eksplisit bukan hanya sekadar menyatakan bahwa Allah itu ahad, tetapi menjelaskan bahwa Allah tempat bergantung segala sesuatu. “Artinya kalau ia satu, maka ia satu-satunya juga tempat bergantung segala sesuatu,” tegasnya.
Allah, sambungnya, juga menegaskan lam yalid walam yuulad ‘tidak beranak dan tidak diperanakkan’ sebab begitu beranak dan diperanakkan, terangnya, maka Dia tidak lagi ahad, Dia pasti serupa dengan makhluk-Nya.
“Padahal ketika Dia itu ahad, maka semestinya tidak ada yang menyerupai Dia. Ketia Dia punya anak, maka apa bedanya dengan manusia? Di situ saya kira mengapa Allah Swt. melalui lisan Baginda Rasulullah saw. begitu mengistimewakan surah Al-Ikhlas,” terangnya.
Keistimewaan surah Al-Ikhlas itu, lanjutnya, sampai-sampai ketika ada salah seorang sahabat yang begitu cinta kepada surah Al-Ikhlas, Rasul mengatakan bahwa kecintaannya terhadap surah al-Ikhlas menghantarkannya masuk surga.
“Seseorang yang memahami surah Al-Ikhlas kemudian mengamalkan, akan memiliki tauhid yang kokoh. Begitu tauhidnya kokoh tidak mudah mengalami gangguan khususnya di bulan Desember yang sering mengalami gangguan luar biasa,” urainya.
UIY menegaskan, penting untuk dicatat ketika ada manusia yang menuduh Allah punya anak, itu dikatakan di dalam Al-Qur’an sebagai kemungkaran yang sangat besar.
“Sebegitu mungkarnya sampai digambarkan di dalam ujung surah Maryam ayat 90 itu, langit yang begitu kukuh pecah, bumi terbelah, gunung runtuh hancur berkeping-keping karena tuduhan Allah punya anak,” tandasnya.
Tidak Sesuai Fakta
Dalam penilaian UIY, kelahiran Nabi Isa yang dikatakan bulan Desember, lalu pohon yang lekat dengan kelahiran Nabi Isa adalah pohon cemara itu sebagai sesuatu yang tidak sesuai fakta.
“Kalau merujuk kepada Al-Qur’an, maka jika ada pohon yang lekat dengan kelahiran Nabi Isa itu adalah pohon kurma,” tandasnya.
Ia lalu menceritakan, setelah tahu Siti Maryam hamil kaumnya mengusir Maryam, kemudian Maryam pergi ke arah Timur, kemungkinan besar ke Jericho yang di sana memang kota kurma.
“Dalam surah Maryam ayat 22 sampai 26 disebutkan bahwa ketika kehamilannya makin besar, saat Maryam gelisah Jibril mengatakan, kalau engkau butuh minum Allah sudah mengalirkan air, kalau butuh makan goyangkan pohon kurma,” ucapnya.
UIY juga menjelaskan, periode kelahiran Nabi Isa itu pada fase pertumbuhan kurma, mulai dari penyerbukan hingga menjadi ruthab butuh waktu 120 sampai 130 hari (4 bulan).
“Kalau dihitung mulai dari Mei, Juni, Juli, Agustus, September, besar kemungkinan Nabi Isa itu lahir bulan September saat kurma (ruthab) matang. Oleh karena itu, pohonnya bisa digoyang dan ruthabnya jatuh. Kalau bulan Desember musim kurma sudah lewat,” ulasnya.
Sangat Mengerti
Terkait sikap umat Islam terhadap penganut agama lain, UIY sangat yakin bahwa Islam adalah agama yang sangat mengerti bagaimana memberlakukan seseorang yang beragama selain Islam .
“Pertama, tidak boleh mereka dipaksa masuk Islam. Diserukan, didorong, dijelaskan tentang Islam itu boleh, tetapi tidak boleh dipaksa masuk Islam,” cetusnya.
Kedua, terangnya, tidak boleh mengganggu atau mencela keyakinan agama lain, mencela apa yang disebut sebagai tuhan.
“Ketiga tidak mengganggu perayaan hari besar mereka. Jadi ketika mereka merayakan Natal kita membiarkan, itulah toleransi kita, tidak sampai ikut serta. Jadi toleransi, bukan partisipasi!” tandasnya.
UIY menyesalkan, ada pemahaman toleransi yang kebablasan dari kaum muslim, kalau tidak ikut berpartisipasi seolah tidak toleran sehingga banyak umat Islam di berbagai instansi bukan hanya hadir di acara Natal, bahkan menjadi panitia.
“Menjadi sangat menakutkan ketika orang dituding tidak toleran saat tidak berpartisipasi karena sebutan lanjutannya teroris,” imbuhnya.
Ia menilai ada nuansa politis di balik tudingan itu, seperti mendesak umat Islam untuk menerobos batas-batas keyakinannya.
“Mereka yang seharusnya layak disebut tidak toleran. Mestinya mereka tahu kita tidak bisa ikut berpartisipasi. Tidak boleh dipaksakan apalagi kemudian disebut dengan aneka sebutan yang buruk,” sesalnya.
UIY mengingatkan, yang disebut natal bersama dalam sejarahnya adalah bersama antara Kristen Protestan dan Kristen Katolik.
“Kenapa sekarang diartikan natal bersama dengan umat Islam? Di sinilah penting mengingatkan bahwa fatwa MUI yang diterbitkan pada masa kepemimpinan Buya Hamka tahun 1980—1981 itu masih valid, haram umat Islam ikut serta dalam perayaan natal karena tidak sesuai dengan prinsip tauhid,” pungkasnya. [MNews/IA]
