Muslimah News, INTERNASIONAL — Sejak 7 Oktober, serangan Z1on1s Yahudi telah menewaskan sedikitnya 5.500 anak. Menurut pejabat P4lestin4. Artinya, satu anak P4lestin4 terbunuh setiap 10 menit atau sekitar satu dari setiap 200 anak di Jalur Gaza dalam enam minggu terakhir.
Sebanyak 1.800 anak lainnya hilang di bawah reruntuhan, sebagian besar dari mereka diperkirakan tewas. Sebanyak 9.000 anak-anak lainnya terluka, banyak diantaranya mengalami dampak yang mengubah hidup mereka. Banyak dari anak-anak ini mengalami trauma akibat berbagai perang.
Paradoks
Pengamat masalah perempuan, anak, dan generasi dr. Arum Harjanti mengakui, kondisi memprihatinkan ini merupakan paradoks perlindungan anak yang sangat nyata.
“Sungguh sangat miris, tragedi penderitaaan tak terperi menimpa anak-anak G4z4 pada saat dunia memperingati Hari Anak Sedunia (World Children’s Day),” tuturnya kepada MNews, Selasa (21-11-2023).
Ia mengemukakan, tahun ini adalah peringatan ke-69 kali karena sejatinya berawal pada 1954 dengan nama Universal Children’s Day dan berubah menjadi World Children’s Day pada tahun 1990 ketika Majelis Umum PBB mengadopsi Deklarasi dan Konvensi Hak Anak. “Deklarasi dan Konvensi Hak Anak ini diyakini akan menjamin anak-anak tumbuh dengan aman dan terpenuhi haknya di belahan bumi mana pun,” ujarnya.
Namun nyatanya, ia menilai, peringatan ini hanya sekadar selebrasi belaka. “Pun tema peringatan Hari Anak Sedunia tahun ini, yakni “For Every Child, Every Right” yang artinya “Bagi Setiap Anak, Setiap Hak” hanyalah ungkapan semata,” kritiknya.
Terbukti, lanjutnya, tema peringatan yang bermakna setiap anak memiliki hak atas beberapa hal, yakni setiap anak di mana saja berhak hidup dalam dunia yang damai; setiap anak berhak atas planet yang aman dan layak huni; serta setiap anak wajib didengarkan dan diikutsertakan dalam semua pengambilan keputusan yang akan memengaruhi mereka, tidak terwujud nyata.
“Sungguh menyedihkan, pada peringatan ke-69 ini, faktanya anak-anak masih dalam cengkeraman ancaman kematian, bahkan ketika masih dalam kandungan. Bayi-bayi terpaksa lahir prematur dan meninggal karena inkubator tak berfungsi akibat rumah sakit tak memiliki bahan bakar,” ucapnya miris.
Semua ini, ungkapnya, adalah bukti nyata peringatan itu hanya simbolis belaka. “Inisiatif global yang mempromosikan hak, keselamatan, pendidikan, kesehatan, dan kebahagiaan anak tak lebih panggung sandiwara negara-negara besar dan maju teknologinya, namun mati rasa kemanusiaan. Jaminan hak anak hanyalah ilusi, kalah dengan ambisi keji membasmi generasi. Dunia sejatinya tahu apa yang harus dilakukan, namun hanya mengecam, enggan mengulurkan tangan, dan tak kunjung mengirimkan pasukan,” tukasnya.
Bobrok
Menurut Arum, diamnya dunia menjadi bukti bobroknya tata kehidupan yang diterapkan hari ini. “Penderitaan luar biasa yang dialami anak-anak, bahkan pada hari pertama kehidupan, tak mampu mengetuk hati para penguasa dunia untuk melakukan aksi nyata memudahkan sampainya bantuan kemanusiaan, apalagi menghentikan perang,” ujarnya.
Gelombang protes jutaan orang yang masih memiliki rasa kemanusiaan di berbagai belahan dunia, lanjutnya, nyatanya belum mampu menggerakkan hati para pemimpin dunia untuk melakukan penyelamatan nyawa dan masa depan amak-anak di G4z4.
“Ambisi kekuasaan dan nafsu penjajahan, juga kebencian pada bangsa lain mematikan rasa kemanusiaan. Inilah buah cara pandang yang dilandaskan kepada kapitalisme. Penjajahan menjadi halal, termasuk genosida. Tak ada lagi rasa cinta dan kasih sayang kepada makhluk lemah ciptaan Tuhan yang jelas membutuhkan pertolongan,” ungkapnya.
Ia menyatakan, kapitalisme tampak nyata hanya mengakibatkan penderitaan dan kesengsaraan, juga kerusakan umat manusia dan kehidupan. “Sungguh tak layak menjadi pedoman hidup umat manusia yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan,” cetusnya.
Butuh Ketenangan
Arum menguraikan, umat manusia membutuhkan tata kehidupan yang membawa ketenangan, kesejahteraan, keadilan, juga menghormati kehidupan dan sesama manusia, membantu yang lemah, dan menebar kebaikan.
“Dunia sudah pernah merasakan kehidupan yang adil dan sejahtera serta menjaga memuliakan manusia. Itulah masa panjang ketika Islam diterapkan secara kafah, yaitu masa kekhalifahan Islam, yang terbentang sekitar 1.300 tahun lamanya,” jelasnya.
Sejarah mencatat, tambahnya, kesejahteraan dan keamanan dirasakan umat manusia yang hidup berdampingan dengan damai dalam naungan penerapan syariat Islam meski ada warga negara yang berbeda bangsa dan etnis, bahkan berbeda agama dan keyakinan.
“Bahkan dalam buku The Story of Civilization, Will Durrant, seorang sejarawan Barat, melukiskan kehidupan masa itu dengan indah, ‘Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.’,” kutipnya.
Untuk itu, ia menegaskan, dunia sungguh merindukan kehidupan yang aman dan sejahtera, tempat manusia hidup berdampingan dan saling menghormati sesama. “Itu semua hanya dapat terwujud ketika Islam kembali diterapkan secara kafah dalam naungan Khilafah Islamiah,” tandasnya. [MNews/Ruh]
