Penulis: Hafidz Shaleh, M.A.
Sambungan dari Bagian 4/6
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Jika kita menganalisis surah-surah ini, serta sejumlah pembahasan yang dikemukakannya, tentu kita akan mengetahui karakter fase tersebut, bagaimana sikap Rasulullah saw., dan aktivitas yang ditugaskan kepada beliau agar dikerjakan.
Pembahasan-pembahasan ini, antara lain:
1. Pemantapan akidah, yaitu pembahasan utama yang tidak pernah diabaikan Al-Qur’an dalam keseluruhan surahnya. Baik menyangkut keimanan kepada Allah, dengan seluruh sifat ketuhanannya, seperti Maha Tahu, Maha Kuasa, Maha Esa, dan lain-lain. Tentang keimanan bahwa Al-Qur’an ini bukan merupakan kata-kata biasa sebagaimana yang dituduhkan, melainkan firman Allah Swt.. Tentang keimanan terhadap kenabian Muhammad saw.. Mengenai keimanan kepada para Nabi terdahulu, juga para malaikat Al-Muqarrabûn, ataupun keimanan kepada hari akhir yang sekali waktu dinyatakan secara ringkas, dan di lain waktu dinyatakan secara detail sesuai dengan situasi dan kondisi.
2. Sanggahan terhadap kaum kuffar, serangan terhadap pemikiran dan akidah mereka, celaan terhadap Tuhan-Tuhan mereka, serta penghinaan terhadap mimpi-mimpi mereka.
3. Serangan terhadap tokoh-tokoh dan para pemimpin mereka.
4. Serangan terhadap interaksi rusak yang mengatur masyarakat mereka.
5. Meneguhkan hati Rasulullah dan menjelaskan bahwa apa yang dituduhkan terhadap beliau tidak lain adalah apa yang pernah dituduhkan kepada para Rasul sebelumnya.
6. Meneguhkan keimanan orang-orang mukmin, bahwa kesulitan dan kekejaman yang mereka hadapi merupakan sunatullah kepada ciptaan-Nya.
7. Beberapa perumpamaan untuk memperjelas konten yang disampaikan.
Dalam surah yang pertama,
و اقرأ باسم ربك الذي خلق »
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS Al-‘Alaq [96]: 1).
Di akhir surah tersebut, Allah Swt. menyatakan,
أرأيت الذي ينهى عبدا إذا صلى
“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia mengerjakan salat?” (QS Al-‘Alaq [96]: 9–10).
sampai pada pernyataan-Nya,
كلا لئن لم ينته لتسفعن بالناصية ناصية كاذبة خاطئة
“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.”(QS Al-‘Alaq [96]: 15).
Demikian juga dalam surah,
يا أيها المدثر
“Hai orang yang berkemul (berselimut).”(QS Al-Muddatstsir [74]: 1)
berisi serangan yang menusuk para konspirator, yaitu orang-orang Quraisy dan pemimpin mereka, Al-Walid bin al-Mughîrah, ketika di dalam surah tersebut dinyatakan, “Saushlihi saqar (Aku akan seret dia ke neraka Saqar).”
Dalam surah,
تبت يدا أبي لهب وتب
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.”(QS Al-Masad [111]: 1)
Ketika dia bersama istrinya menganiaya Rasulullah.
Dengan menganalisis surah-surah ini beserta urut-urutannya, kita akan melihat bahwa dakwah secara terbuka, menentang akidah kufur, para pemimpin kufur, dan interaksi yang rusak itu dilakukan sejak awal. [MNews/Rgl]
Bersambung ke bagian 6/6
Sumber: Hafidz Shaleh, M.A., Metode Dakwah Al-Qur’an
