Penulis: Najmah Saiidah
Muslimah News, KELUARGA — Kehidupan suami-istri adalah kehidupan yang sarat dengan ketenangan. Pergaulan suami-istri adalah pergaulan penuh persahabatan. Kepemimpinan suami terhadap istri adalah kepemimpinan pengaturan (bertanggung jawab), bukan kepemimpinan layaknya seorang penguasa. Seorang istri diwajibkan taat kepada suami. Seorang suami diwajibkan memberi nafkah yang layak sesuai standar yang makruf. (Masyru’u ad-Dustuur, pasal 120).
Rumah tangga yang dibangun bisa diibaratkan sebagai sebuah bahtera. Suamilah sang nakhodanya yang mengendalikan arah bahtera tersebut akan berlayar. Sedangkan istri bertindak sebagai navigator, sekaligus pendamping nakhoda. Ia akan membantu mengarahkan bahtera tersebut berlayar. Ia bisa memberi masukan ataupun usulan kepada nakhoda terkait rute yang sebaiknya dilalui. Keduanya dengan peran berbeda, tetapi harus dijalankan bersama.
Nakhoda dan navigator harus saling bekerja sama, membantu, memahami, dan memaklumi satu sama lain. Demikian pula pasutri, keduanya harus kompak menjalankan bahtera rumah tangga. Jika tidak akur atau saling bersaing, bahtera itu tidak akan melaju dengan baik. Bahtera akan lama sampai ke tujuan, bahkan bisa jadi tidak akan pernah sampai karena karam di perjalanan.
Dua Hati Menjadi Satu
Ketika seorang suami mengabulkan atau menjawab ijab yang disampaikan oleh wali istrinya, sejak saat itu ada tanggung jawab baru di pundaknya. Ia harus bertanggung jawab terhadap perempuan yang dinikahinya. Sejak saat itu, ia menggantikan tanggung jawab ayah sang istri. Ia harus menjaga istrinya sepenuh hati, berusaha membahagiakannya, mencintainya, mendidiknya, dan mengasihinya. Jika semua itu tidak dilakukannya, artinya ia telah mengkhianati dirinya sendiri, orang tua istri, dan Allah Taala.
Bagaimana dengan istri? Seorang istri berperan penting agar bahtera rumah tangga tetap pada rutenya. Ia harus terus berusaha menjaga rumah tangganya tetap utuh, memelihara kesetiaan kepada suaminya, dan murah senyum. Tidak lupa, istri berdandan rapi ketika suami di rumah sehingga aura kecantikan tetap terpatri di wajahnya. Tentu dengan niat ingin membahagiakan suami. Kadang para istri zaman sekarang salah kaprah. Ketika ingin bepergian, mereka berdandan secantik mungkin. Namun ketika bersama suami, mereka tampil apa adanya, bahkan tidak berdandan sama sekali.
Suami dan istri adalah dua raga satu jiwa atau dua hati satu cinta. Mereka harus saling membantu mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, penuh ketenangan, dan kasih sayang. Mereka saling menghangatkan saat dingin menerpa dan menyejukkan saat panas mengeruhkan suasana. Mereka selalu kompak menjalankan peran masing-masing. Ketika suami bekerja, istri tidak santai-santai saja. Istri harus mendoakannya. Dengan demikian, akan terciptalah keluarga yang penuh ketentraman dan kebahagiaan. Keluarga yang diberkahi Allah Taala.
Mulianya Suami yang Mencari Nafkah untuk Keluarganya
Sebagai nakhoda bahtera atau pemimpin rumah tangga, suami juga berkewajiban memberi nafkah kepada seluruh anggota keluarganya, istri, dan anak-anaknya. Ia melakukannya karena Allah Swt. telah memerintahkannya, juga sebagai wujud cinta kepada istri dan anak-anaknya. Bukankah pencinta akan selalu berkorban untuk orang yang dicintainya? Selain itu, ia bekerja juga sebagai batu loncatan untuk mendapatkan cinta dan pahala dari Allah Taala. Allah begitu mencintai orang yang bekerja. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya, Allah mencintai orang yang bekerja.” (HR Al-Baihaqi).
Dalam hadis lain, Rasulullah saw. juga bersabda, “Ingatlah, jika anak muda itu bekerja untuk kedua orang tuanya atau salah satunya, ia ada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk keluarganya, ia ada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk dirinya, ia juga ada di jalan Allah.” (HR Baihaqi). Bahkan, Imam Al-Ghazali mengatakan, orang yang sibuk bekerja mencari harta halal untuk keluarganya lebih baik dari pada ibadah badaniyah. Akan tetapi, seyogianya ketika bekerja tetap ingat kepada Allah (berzikir). Betapa besar pahala orang yang bekerja, bukan?
Selain itu, ada hal lain yang juga penting dilakukan oleh istri. Istri bisa membantu suami menyiapkan alat kerja, mengantarnya sampai depan rumah, dan mencium lembut tangannya, lalu katakan, “Hati-hati, Abi.” Insyaallah, jika hal itu dilakukan, hubungan suami-istri akan selalu terasa indah. Cinta pun tidak akan layu, bahkan makin subur.
Doa Seorang Istri untuk Suami ketika Bekerja Membawa Keberkahan
Untuk kesuksesan suami, seorang istri harus membantunya dengan doa. Panjatkan doa agar suami selamat di perjalanan dan sukses. Juga berdoa agar rumah tangga menjadi jalan untuk meraih surga. Yakinlah, setiap doa yang dipanjatkan, pasti Allah menerima meski caranya berbeda-beda. Rasulullah saw. bersabda, “Doa adalah senjata orang mukmin.” (HR Al-Hakim).
Dalam hadis lain, Rasulullah saw. juga bersabda, “Sesungguhnya Tuhan kalian Zat yang pemalu serta mulia. Dia malu pada seorang hamba yang mengangkat kedua tangannya lalu mengembalikannya begitu saja (atau mengembalikan kedua tangannya dengan kecewa).” (HR Ibnu Majah).
Tidak dimungkiri bahwa banyak nas yang menjelaskan bahwa ketaatan dan kesalihahan istri akan membantu kelancaran dan kesuksesan suami. Ini karena istri yang taat kepada Allah dan suami akan membawa ketentraman bagi suaminya. Selanjutnya, ketaatan ini akan mendatangkan keberkahan dan kemudahan rezeki. Insyaallah.
Selain itu, Islam memerintahkan seorang istri untuk senantiasa dekat dan berdoa kepada Allah Taala. Peran istri dan doanya akan menjadi jembatan emas bagi suami untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jangan anggap enteng doa seorang istri untuk suaminya, karena itu setara dengan doa ibu untuk anaknya.
Istri berperan besar bagi kesuksesan suami yang tengah berikhtiar mencari nafkah di luar sana melalui doa-doa yang dipanjatkan. Doa istri untuk suaminya pun sangat penting bagi keharmonisan hubungan rumah tangga. Ketika istri senantiasa mendoakan kebaikan apa pun untuk suaminya, Allah Swt. akan mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan. Ini sebagaimana hadis Rasulullah saw., “Sesungguhnya doa yang segera dikabulkan adalah doa seorang istri kepada suaminya yang tidak berada di tempat yang sama atau saling berjauhan.” (HR Tirmidzi).
Dari hadis ini, kita dapat memahami bahwa doa seorang istri menjadi salah satu doa yang paling mustajab atau segera terkabul. Oleh karenanya, jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah Swt. berikan. Wajib bagi kita sebagai istri untuk selalu menghiasi lisan dengan doa-doa agar keluarga kita selalu harmonis, mendapat sakinah, dan rahmat-Nya. Di antara doa yang dianjurkan untuk dibaca pada setiap kesempatan adalah,
اِمَامًا لِلْمُتَّقِيْنَ وَّاجْعَلْنَا اَعْيُنٍ قُرَّةَ وَذُرِّيّٰتِنَا اَزْوَاجِنَا مِنْ لَنَا هَبْ رَبَّنَا
“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqon: 74).
Doa seorang istri tidak hanya berpengaruh kepada keharmonisan kehidupan rumah tangganya, juga akan mendorong suami melaksanakan berbagai kewajiban. Suami akan giat mencari nafkah untuk keluarga, menuntut ilmu, dan mengemban dakwah.
Bayangkan, ketika suami pergi berdakwah, lalu istri melepasnya dengan lantunan doa, maka akan menjadi energi luar biasa bagi kesuksesan suami mengajak umat Islam kepada kebaikan. Lisannya akan selalu dikuatkan menyampaikan kebenaran di tengah umat. Ia selalu optimis penuh semangat bahwa dakwahnya memberi andil bagi tegaknya Islam kafah di muka bumi, walaupun jalan yang ditempuh tidak mudah.
Demikian halnya saat suami hendak berangkat kerja, lalu dengan keikhlasan dan keridaan istri mengantar kepergiannya dengan sebait doa. Dengan izin Allah akan terbukalah pintu-pintu rezeki untuknya di hari itu dan di hari-hari berikutnya. Allah Swt. juga akan memberikan keselamatan dan kemudahkan dalam bekerja dan berdakwah. Suami akan dijaga Allah dalam mencari rezeki halal sehingga memberi keberkahan untuk keluarga.
Salah satu doa yang dianjurkan untuk dibaca agar rezeki suami selalu lancar dan dimudahkan, “Allahumma aktsir maala zauji wa barik lahu fima a’thoitahu wa athil hayatahu ‘ala tho’atika wa ahsin ‘amalahu waghfirlahu.
Artinya, “Ya Allah, perbanyaklah harta suamiku, serta berkahilah karunia yang Engkau berikan padanya, panjangkanlah umurnya dalam ketaatan kepada-Mu, dan baguskanlah amalnya, serta ampunilah dosa-dosanya.” (HR Imam Bukhari).
Demikianlah, kekuatan dan keajaiban doa seorang istri salihah ikut memberi andil bagi keberhasilan suami, baik di dunia maupun di akhirat. Doa terbaik istri bisa menjadi penolong suami ketika mengalami kesulitan. Sangat beruntung laki-laki yang mendapatkan istri salihah yang mampu membuatnya lebih tabah, ulet, sabar, dan kuat menghadapi gelombang kehidupan. Ini karena dahsyatnya doa yang dipanjatkan seorang istri untuk suaminya tercinta. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Ketikkan arab QS.Al.Furqon 74…kebolak balik…