Penulis: Syekh Ahmad Athiyat
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Keempat, Akal dan Berpikir
Tidak ada yang lebih menunjukkan akan kerusakan konsep kapitalisme tentang akal dan berpikir, serta ketakpeduliannya dengan bahasan mendasar ini, selain daripada sampainya ideologi ini pada asas yang menjadi pijakannya, yakni pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme) yang semata untuk menyelesaikan sebuah perselisihan dan memecahkan satu masalah, dengan cara apa pun. Tidak dengan pembahasan rasional tentang hakikat keberadaan dan benar tidaknya agama, tidak pula dengan pembahasan rasional tentang peran Al-Khaliq dari segi perlu tidaknya Sang Pencipta mengatur kehidupan manusia dan alam semesta.
Walhasil, pembahasan kapitalisme ini menjadi bahasan yang tidak rasional, baik dalam penyelesaian perselisihan dan permusuhan yang telah disebutkan, juga pada pemecahan simpul besar problematik manusia (al-uqdat al-kubra). Ini karena mereka tidak membahas simpul tersebut walaupun mereka telah menghasilkan sebuah solusi untuk menyelesaikan perselisihan tadi, sesuatu yang akhirnya membentuk pemecahan yang tidak memuaskan akal dan tidak selaras dengan fitrah.
Pada realitasnya, sesungguhnya jika para penganut kapitalisme memiliki beberapa konsep yang menyatukan berbagai hal—walaupun semua teori dan konsepnya tersebut keliru—tetapi tidak seperti konsep mereka tentang akal ini, padahal akal merupakan perkara mendasar yang harus dipahami secara yakin sebelum perkara-perkara lain ditegakkan di atasnya. Akibat ketakpahaman mereka, menjadi keniscayaan timbulnya kesalahan dalam memahami berbagai perkara lain yang jumlahnya tidak terhingga.
Contohnya, ketakpahaman mereka terhadap akal dan metode berpikir yang benar, mengakibatkan kesalahan penganut kapitalisme dalam memahami naluri dan masyarakat yang selanjutnya mengakibatkan ditetapkannya berbagai solusi yang akhirnya menimbulkan kekacauan dan ketaktenangan masyarakat.
Sebenarnya, banyak kalangan ilmuwan kapitalis yang berupaya untuk mengetahui realitas akal. Walaupun begitu, dalam berbagai upaya mereka tersebut tidak ada satu pun yang pantas diingat atau yang mencapai standar teori. Oleh karena itulah kami akan mencoba untuk memberikan sedikit penerangan tentang sebagian upaya atau teori tersebut untuk menjelaskan kerusakannya.
Hal ini sebagai penyempurnaan tujuan yang dimaksud dari bahasan ini, yakni memberi kejelasan tentang pendapat-pendapat tersebut pada mereka yang tidak mengetahuinya, menjadi peringatan bagi mereka yang belum mengetahui sumbernya, obat penyembuh bagi mereka yang telanjur berpraduga benar dengannya, dan penambah ketenangan mereka yang meyakini rusaknya akidah dan sistem kapitalisme.
Tersebab sempitnya ruang, maka kami akan cukupkan dengan mencantumkan dua contoh dari berbagai upaya tersebut dan akan kami jelaskan kerusakannya sesingkat mungkin.
Teori Empirisme
Teori ini dikaitkan pada “John Locke” dan terdapat dalam bukunya, Makalah tentang Pemahaman Manusia. Teori ini telah menyebar di antara kaum filsuf dan ilmuwan dan tumbuh berkembang secara menakjubkan pada masa George Berkeley dan David Hume hingga diadopsi dan dipungut secara ekstrem oleh kaum Marxist—dan hal ini akan kami bahas pada bagian Marxisme.
Teori ini memberikan arti bahwa perasaan menjadi satu-satunya sumber untuk menghukumi sebuah realitas. Dengan perantaraan rasa atau indra, proses pemikiran pun terjadi sempurna dan sampailah manusia pada pengetahuan.
Sedangkan sebenarnya, hanya dengan adanya pengindraan, sebuah pemikiran tidak bisa terjadi, bahkan dengan pengindraan yang dilakukan berulang-ulang sekalipun, proses berpikir—sebagaimana telah kami jelaskan sejelas-jelasnya dalam bahasan lalu—semata membutuhkan empat syarat, yakni selain indra, otak yang layak untuk mengikat, dan realitas atau bekas realitas, serta informasi awal. Ini menjelaskan kerusakan teori tersebut. Kita akan membicarakan kembali masalah ini dalam pembahasan sosialisme. Insyaallah.
Teori Intuisi
Banyak filsuf Barat yang mempresentasikan teori ini, seperti Rene Descartes dan Immanuel Kant. Teori ini datang untuk menambal kekurangan teori empirisme bahwa tiada lain dalam rangka mengkritik bayangan dan makna yang tidak terindra, seperti pemikiran tentang Pencipta dan hal-hal gaib secara umum.
Mereka menyatakan bahwa sumber alami ada pada hal-hal gaib tersebut dan menolak kelompok pertama yang teorinya telah dibahas di depan. Adapun bantahan pada kelompok kedua ini atau teori intuisi, telah sangat jelas bahwa seorang anak kecil dilahirkan sebagai lembaran putih dan bisa dipastikan dengan memberikan pertanyaan pada anak kecil mana pun berbagai pertanyaan dengan adanya potensi ini.
Inilah dua contoh tentang berbagai upaya yang dilakukan ilmuwan kapitalis dan mungkin kita menyinggung kembali konsep kapitalisme tentang akal ini dalam bahasan konsep sosialisme dan Islam tentang akal, insyaallah.[MNews/Rgl]
Bersambung ke bagian 6/6 (terakhir)
Referensi: Abdurrahman al-Maliki, As-Siyasah al-Iqtishadiyah al-Mutsla, hlm. 10—12
Sumber artikel: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)
