Penulis: Shezan A. Gerung
Muslimah News, DUNIA REMAJA —S obat sekalian, viral lagi, nih, sebuah rekaman video di media sosial yang memperlihatkan aksi tidak terpuji seorang murid SMA. Dalam video tersebut, seorang siswa menantang gurunya berkelahi di sekolah. Dari informasi yang beredar, aksi ini terjadi di sebuah SMA di Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
Dalam video berdurasi 37 detik ini, tampak seorang murid SMA pria berseragam putih-putih di sebuah ruangan. Ia mengepalkan tangannya sambil mengeluarkan kata-kata ke arah gurunya untuk mengajak berduel di luar ruangan.
Sobat, kasus-kasus semacam ini kian marak saja. Mirisnya, ada orang tua yang ikut melaporkan seorang guru hanya karena enggak rela anaknya mendapat teguran untuk melaksanakan salat.
Belum lagi problem perundungan di sekolah. Beberapa waktu lalu viral di media sosial kasus seorang siswa–yang katanya jago silat–merundung temannya. Dalam video yang beredar, kesan sadis dan brutal jelas terlihat. Masalah yang sering melatarbelakangi kasus cekcok antara murid ini terbilang sepele. Misalnya, nih, ada teman yang pindah geng. Ada juga yang dipicu karena sang teman enggan ikut nongkrong bareng. Sepele banget, bukan? Rasanya ini enggak mewakili karakter seorang yang terdidik. Kira-kira, masalahnya di mana, ya?
Cek Masalahnya, yuk!
Sobat sekalian, pendidikan berperan besar membentuk karakter peserta didik. Oleh karenanya, ada sejumlah pihak yang menganggap sistem pendidikan hari ini gagal membentuk sosok anak didik yang berakhlak.
Bagaimana sih, peran dunia pendidikan dalam membentuk murid yang berakhlak baik? Bukankah itu aspek yang sifatnya personal banget?
Jadi begini, Sobat, manusia tuh hidup dalam sebuah sistem. Nah, di sistem ini lahir berbagai kebijakan yang mengarahkan masyarakat untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Kebijakan-kebijakan ini lahir dari sebuah dasar alias sudut pandang.
Sistem pendidikan saat ini pun lahir dari satu sudut pandang yang khas, yakni sudut pandang yang lahir dari pemahaman bahwa manusia berhak membuat aturan berdasarkan kerangka berpikir mereka sendiri.
Sayangnya, cara pandang ini justru menyimpan masalah. Ini karena setiap orang punya pendapat yang berbeda-beda. Seseorang bisa menganggap sesuatu itu baik, sedangkan orang lain menganggap sesuatu itu buruk. Perbedaan ini akhirnya melahirkan pemahaman bahwa setiap manusia bebas berbuat sekehendak hatinya.
Benar, bahwa ada nilai yang berkembang mengenai moralitas dan sejenisnya di masyarakat. Hanya saja, pemahaman bahwa setiap manusia punya kebebasannya sendiri membuat nilai moralitas ini terkikis. Apalagi generasi pada era kini dibentuk oleh media digital. Moralitas yang diajarkan di sekolah seolah terpental tiada bekas.
Akibatnya, saat ini mudah banget kita menemukan berbagai kasus yang disebabkan oleh krisis moral. Andai masyarakat memahami bahwa setiap manusia tidak bebas berbuat, enggak akan ada, tuh, orang tua yang melaporkan guru yang menegur muridnya karena mengabaikan salat. Itu bagian dari amar makruf nahi mungkar, Sobat.
Enggak bakal ada juga murid yang merundung murid lainnya. Mereka paham bahwa setiap perbuatan bakal dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya. Memang, gimana, sih, cara merealisasikan rasa hormat kepada guru menurut Islam? Bagaiamana pula mewujudkan rasa saling menyayangi antara sesama penuntut ilmu?
Islam Punya Solusi!
Sobat sekalian, Islam memosisikan ilmu dan ahli ilmu di tempat yang sangat terhormat. Oleh karenanya, bagi para penuntut ilmu, penting banget memahami mulianya kedudukan yang Allah berikan agar ia barengi ilmu dengan akhlak yang baik.
Adab dan akhlak adalah perkara mendasar yang harus menyertai peserta didik. Ini karena adab merupakan perkara utama sebelum ilmu. Imam Malik berkata, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.” Yusuf bin Al-Husain berkata, “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”
Itulah mengapa Ibnu al-Mubarok berkata, “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun, sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.” Karenanya, menyikapi krisis adab yang terjadi hari ini, penting bagi kita kembali memahami sistem pendidikan Islam.
Pemahaman yang baik tentang adab akan membuat seorang penuntut ilmu begitu menghormati gurunya. Selain itu, ia pun akan menyayangi sesama penuntut ilmu.
Dalam Islam, pendidikan bertujuan membentuk kepribadian Islam pada anak didik. Untuk itu, kurikulum yang ada berorientasi pada upaya untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut. Ini dimulai dari sebelum anak mumayiz hingga mumayiz. Dengan demikian, keluarga pun berperan besar membentuk anak didik, enggak lepas tangan dan menyerahkan seutuhnya ke pihak sekolah.
Hal paling penting dalam kurikulum pendidikan Islam yakni penanaman akidah. Sistem pendidikan Islam memahami bahwa kesadaran hubungan manusia dengan Allah merupakan kontrol terbaik atas seluruh perbuatan manusia. Rasa takut kepada Sang Khalik akan mendorong ketakwaan individu anak didik.
Fondasi keimanan inilah yang menjadikan mereka sosok yang khas. Besar hasratnya terhadap ilmu, tetapi besar pula ketakutannya pada Sang Pencipta. Keren banget, bukan?
Nah, kalau sistem pendidikan kita seperti ini, yakin deh, kisah siswa yang menantang guru atau merundung sesama siswa akan hilang dengan sendirinya. So, pahami Islam agar sosok ahli ilmu yang mulia dapat terwujud. Jadi ingat lagu jadul karya ibu Sud berikut ini.
Oh, Ibu dan Ayah selamat pagi
Ku pergi belajar sampaikan nanti
Selamat belajar, Nak, penuh semangat
Rajinlah selalu tentu kau dapat
Hormat gurumu, sayangi teman
Itulah tandanya kau murid budiman!
[MNews/YG]
