Penulis: Syekh Ahmad Athiyat
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Sebuah pemikiran menyeluruh (al-fikrah al-kuliyah) bisa diperoleh seseorang melalui pemikiran sehingga ia menjadi akidah rasional yang memungkinkannya bisa melahirkan berbagai pemikiran dan menjadi fundamen bangunan pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut menjadi solusi yang memecahkan permasalahan kehidupan. Ketika ada akidah yang bisa melahirkan hukum-hukum sebagai solusi, maka telah lahirlah sebuah ideologi. Oleh karena itu, ideologi didefinisikan sebagai akidah rasional yang melahirkan sistem.
Berdasarkan hal ini, kapitalisme merupakan sebuah ideologi karena ia merupakan akidah akliah yang melahirkan sistem, yakni pemikiran-pemikiran yang memecahkan permasalahan kehidupan. Sosialisme pun merupakan sebuah ideologi karena merupakan akidah akliah yang melahirkan sistem, yakni pemikiran-pemikiran yang bisa memecahkan permasalahan kehidupan. Islam pun merupakan ideologi karena ia merupakan akidah akliyah yang memancarkan sistem, yakni hukum-hukum syarak yang memecahkan permasalahan kehidupan manusia.
Akan tetapi, haruslah jelas bahwa keberadaan akidah dan sistem dalam sebuah ideologi tidak membawa arti bahwa ideologi tersebut layak untuk diterapkan, tetapi hanya memberikan arti bahwa ia sebuah ideologi saja. Adapun yang menjadikan ideologi itu layak untuk diterapkan sehingga bisa meraih kebangkitan di atas asasnya, yakni tata cara atau metode (thariqah) yang menjelaskan tata cara penerapan dan pelaksanaan ideologi tersebut di dalam negeri dan mengembannya ke luar, serta memelihara ideologi tersebut. Jika tata cara (al-kaifiyat) ini belum ada, maka idelologi tersebut hanya menjadi sebuah fikrah (ide) yang ada di dalam otak penganutnya, atau dalam lembaran buku-buku seperti Republik Plato, Utopia Thomas More, dan Kota al-Farabi yang Ideal”.
Dalam Islam ada thariqah (metode) pelaksanaan, yakni daulah dan ketakwaan individu, sosialisme pun memiliki metode untuk itu yakni negara saja, begitu pula kapitalisme. Adapun mengemban ideologi keluar, Islam melakukannya dengan metode Jihad, sedangkan kapitalisme melalui penjajahan dan sosialisme melalui partai-partai komunis.
Berdasarkan hal ini, maka sebuah ideologi terdiri dari fikrah (ide) dan thariqah (metode). Adapun fikrah adalah akidah, yakni pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan atau dengan kata lain solusi pengurai simpul besar, ditambah dengan sistem yakni berbagai solusi pemecahanan masalah kehidupan.
Adapun thariqah (metode) merupakan tata cara yang telah disebutkan diatas. Terpenuhinya fikrah dan thariqah ini menunjukkan bahwa sebuah sistem tersebut layak atau bisa diterapkan, dan tidak menunjukkan bahwa ideologi itu benar.
Adapun yang menunjukkan atas kebenaran sebuah ideologi adalah, sebagaimana telah kita bahas dahulu, kebenaran asas ideologinya, yakni kebersesuaian dengan fitrah dan bisa memuaskan akal manusia. Jika asasnya itu benar, ideologi ini benar, adapun jika sebaliknya, ideologi tersebut rusak.
Ideologi dari tata cara munculnya ideologi tidak lebih sebagai hasil dari otak manusia atau diwahyukan dari Allah Swt., Pencipta Yang Maha Mengatur, yang diyakini keberadaannya dengan argumentasi rasional yang pasti melalui pemikiran cemerlang.
Jika sebuah ideologi berasal dari manusia, ia menjadi ideologi yang batil, karena manusia terbatas, yakni lemah, kurang, dan membutuhkan sehingga apa yang dihasilkannya akan memiliki karakter dirinya sendiri (terbatas dan tidak sempurna). Oleh karena itu, ideologi cipta karya manusia itu bersifat lemah, terbatas, mengandung kontradiksi, dan berbeda-beda, karena pemahaman manusia mengandung potensi untuk berbeda dan bertentangan dan terpengaruh oleh lingkungan.
Seorang manusia mungkin saja hari ini akan menganggap salah apa yang dianggapnya benar pada hari kemarin, dan pada hari ini menganggap benar apa yang kemarin dianggapnya salah. Dengan demikian, sistem yang dibuat manusia pasti tidak mampu meliputi dan mengetahui realitas manusia sebagai manusia, dan tidak mampu pula mengetahui apa yang dibutuhkannya. Berdasarkan hal ini, maka ideologi buatan manusia jika layak untuk sebuah masa, akan tidak untuk masa lainnya, jika cocok untuk sebuah tempat, akan tidak cocok untuk tempat lainnya.
Adapun ideologi Ilahi merupakan ideologi yang sahih yang tidak mungkin dimasuki kebatilan dari depan ataupun belakang. Al-Khalik (Pencipta) mengetahui setiap bagian terkecil yang ada pada makhluknya karena Dia-lah yang menciptakannya sehingga Al-Khalik itulah yang mampu menetapkan sistem yang bisa menjamin kebahagiaan manusia dan merealisasikan ketenteramannya.
Berdasarkan hal ini, melalui pemahaman yang benar atas sebuah ideologi, maka kita tidak akan mendapatkan di dunia ini kecuali hanya tiga ideologi yang bisa diterapkan dan memungkinkan menjadi asas kebangkitan, tetapi kebangkitan ini tidak dengan sendirinya menjadi kebangkitan yang sahih, kecuali jika ideologi tersebut bercirikan kebenaran yang telah kami sebutkan syarat-syaratnya.
Berkaitan dengan ideologi-ideologi penting dalam objek bahasan kebangkitan yang kami maksudkan dalam aktivitas ini, maka kami akan memproses dan memaparkannya secara panjang lebar, insyaallah. Adapun ideologi yang menjadi bahasan bab berikutnya adalah:
1. Ideologi kapitalisme.
2. Ideologi sosialisme.
3. Ideologi Islam. [MNews/Rgl]
Sumber: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)
