Muslimah News, NAFSIYAH — Tidak ada perbuatan yang kita lakukan tanpa adanya hikmah. Mengetahui hikmahnya akan melapangkan hati dan jiwa dalam menjalani kehidupan. Namun, jika sering melihat hal yang tidak bermanfaat, akan memengaruhi kita sehingga sulit meraih hikmah, seperti menonton podcast yang membicarakan aib-aib manusia, menonton film hiburan yang melalaikan, dan lainnya.
Oleh karenanya, kita harus berupaya membersihkan pikiran dari hal-hal yang tidak bermanfaat yang membawa pada kemaksiatan. Pemikiran yang rusak juga berdampak pada hati, yakni mengakibatkannya kotor dan tertutup. Jangan pula menyibukkan diri pada perkara yang membuat dosa.
Ulama berkata, “Berapa banyak orang yang hidup justru mematikan hati kita ketika melihat masalah mereka karena tidak memberi faedah.”
Imam Mujahid dalam kitab Fathul Qadir mengatakan, “Hati itu sebagaimana telapak tangan yang terbuka jika bersih. Sementara itu, jika hati melakukan dosa, satu demi satu jarinya menutup hingga akhirnya semua jari menutup, tangannya menggenggam. Begitulah diibaratkan hati, jika tangan menggenggam tidak bisa menerima apa-apa. Hati yang tertutup juga tidak bisa menerima kebaikan apa pun. Inilah yang membuat seseorang sulit mendapatkan nasihat dari siapa pun, termasuk dari Allah Swt. dan Rasul-Nya. Begitu pula sulit memenuhi seruan untuk melakukan berbagai ketaatan.”
Hati yang Bersih
Allah Taala berfirman, “(Ingatlah) ketika ia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.” (QS Ash-Shaffat: 84).
Apabila hati seorang hamba telah selamat dari kesyirikan, syubhat, dan syahwat yang bisa menghalanginya dari mengetahui kebenaran serta mengamalkannya, hati tersebut akan terhindar dari keburukan (hati yang bersih). Di antara bentuk keselamatan hati ialah ia selamat dari perbuatan menipu daya manusia, hasad, dan berbagai bentuk akhlak tercela.
Bisa jadi, sulitnya seseorang menerima nasihat dan meraih hikmah dari segala keadaan yang terjadi padanya karena hati yang belum bersih. Ingatlah doa yang seharusnya senantiasa kita lafazkan pada Allah Taala, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan ada kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’.” (QS Al-Hasyr: 10).
Allah menyebutkan dalam doa tersebut permintaan dihilangkannya rasa ghil dari hati mereka. Kemudian muncul rasa cinta antara sesama mukmin, saling menolong dan menasihati, serta sifat-sifat terpuji lainnya yang termasuk hak-hak mukmin. Ghil ialah perasaan tidak suka beriring sakit di hati melihat orang lain tanpa ada hujjah syar’i yang dapat dibenarkan meskipun seseorang dapat mencari-cari pembenaran.
Rasulullah saw. bersabda yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ra., “Rasulullah saw. pernah ditanya, ‘Siapakah orang yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Setiap orang yang bersih hatinya dan benar ucapannya.’ Para sahabat berkata, ‘Orang yang benar ucapannya telah kami pahami maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?’ Rasulullah menjawab, ‘Ia adalah orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya, serta tidak ada pula dendam dan hasad.’” (HR Ibnu Majah dan Thabrani).
Nasihat Ulama Salaf
Ibnul Qayyim berkata, “Jadi, hati ibarat raja bagi anggota tubuh. Anggota tubuh akan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh hati dan akan menerima semua arahan-arahan hati. Anggota tubuh tidaklah akan melaksanakan sesuatu kecuali yang berasal dari tujuan dan keinginan hati. Jadi, hati tersebut merupakan penanggung jawab mutlak terhadap anggota tubuh karena seorang pemimpin akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Jika demikian adanya, maka upaya memberi perhatian yang besar terhadap hal-hal yang menyehatkan hati dan meluruskannya merupakan upaya terpenting dan memerhatikan penyakit-penyakit hati serta berusaha mengobatinya merupakan ibadah paling besar.” (Ighatsah al-Lahfan, hlm.5).
Ibnu Qudamah mengatakan, “Dan ketahuilah bahwa Allah Swt. apabila menghendaki kebaikan pada seseorang, maka ia akan dibuat mengetahui aibnya. Barang siapa mempunyai mata hati yang tajam, tidak akan tersembunyi baginya aib-aib dirinya dan apabila ia telah mengenali aib-aibnya, maka memungkinkan baginya untuk mengobati penyakit-penyakit tersebut. Sayangnya, kebanyakan manusia tidak mengenal aib-aib dirinya sendiri. Mereka bisa melihat “kotoran” yang ada di mata saudaranya, tetapi tidak bisa melihat “anak sapi” yang ada di matanya sendiri.”
Dengan demikian, duhai saudariku, berusahalah senantiasa membersihkan hati agar mudah meraih hikmah. Jangan biarkan hati terus ternoda dan akhirnya merugikan diri sendiri karena sulit menjalani kehidupan tanpa memahami berbagai hikmah. Setiap pelajaran yang Allah Swt. titipkan dalam setiap jalan cerita kehidupan akan menguatkan kita. Masyaallah. Wallahu muwaffiq. [MNews/Rndy-YG]

Bismillah,bagaimana agar mempunyai hati yang bersih dan mampu meraih hikmah dalam kehidupan?