Meneladan Rasulullah ﷺ, Romantisme Terindah dalam Kehidupan Rumah Tangga

Meneladan Rasulullah ﷺ, Romantisme Terindah dalam Kehidupan Rumah Tangga

Penulis: Najmah Saiidah

Muslimah News, KELUARGA — Sepanjang Rabiulawal, keluarga muslim selalu mengingat sosok uswah hasanah, teladan terbaik bagi umat Islam, yakni Rasulullah Muhammad. Pada bulan ini beliau saw. dilahirkan. Pada bulan ini juga beliau saw. kembali pada-Nya. Menjadi keharusan bagi umat Islam untuk meneladan beliau saw. dalam semua urusan kehidupan, termasuk dalam urusan hidup berkeluarga. Semua dilakukan sebagai bukti cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah saw. selalu mengingatkan kita bahwa kehidupan rumah tangga akan selalu berhias kebahagiaan ketika pasutri menjadikan Islam sebagai pegangan hidup. Ini resep paling penting yang harus dipahami pasutri. Kebahagiaan pernikahan bukan sekadar tercukupinya kebutuhan fisik dan materi, seperti sandang, pangan, dan tempat tinggal. Perkara ini memang diperlukan, tetapi ada hal penting lainnya yang sering kali dilupakan para pasutri yaitu ketenteraman hati, kedekatan emosional, dan aspek ruhiyah. Ketiga hal ini sejatinya menjadi nutrisi utama untuk menghadirkan romantisme terindah yang dibutuhkan pasutri dalam kehidupan rumah tangga.

Dalam koridor Islam, romantisme terindah ini telah tergambar nyata dalam kehidupan pernikahan Baginda Rasulullah saw. secara memesona dalam setiap sisi dan detik kehidupan beliau yang mulia. Mari kita menadaburkan hadis-hadis yang memperlihatkan betapa beliau saw. adalah sosok yang amat romantis dan sangat perhatian pada istri-istrinya.

1. Memanggil istri dengan panggilan istimewa.

Kepada istrinya, Rasulullah saw. tidak memanggil namanya. Kalaupun memanggil namanya, dengan panggilan sayang atau dengan gelar. Beliau biasa memanggil Bunda Khadijah dengan sebutan ya habibii, wahai kekasihku. Begitu juga kepada Aisyah yang disapa dengan Humairah, wahai wanita yang pipinya kemerahan atau dipanggil dengan Uwaisy. Lihatlah bagaimana Rasulullah saw. tidak memanggil istri-istrinya, kecuali dengan panggilan mesra dan hangat.

Panggilan yang mesra dan hangat ini akan memengaruhi psikologis pasangan, selanjutnya akan memengaruhi keharmonisan hubungan pasutri. Selain itu, Rasulullah saw. berpesan kepada para suami agar tetap sabar menghadapi sikap para istri yang kurang disukai. “Janganlah marah (laki-laki muslim/suami) kepada seorang wanita muslimah (istri). Jika tidak menyukai suatu perangai darinya, maka sukailah perangai lainnya.”

2. Mesra dengan para istrinya.

Aisyah berkata, “Rasulullah saw. tidak mendahulukan sebagian kaum di atas sebagian yang lain tentang jatah menginap di antara kami (istri-istri beliau) dan beliau selalu mengelilingi kami seluruhnya (satu per satu) kecuali sangat jarang sekali beliau tidak melakukan demikian. Beliau pun mendekat (mencium) setiap istrinya tanpa menjimak hingga sampai pada istri yang merupakan jatah menginapnya, lalu beliau menginap di tempat tersebut.” (HR Abu Dawud, Al-Hakim).

Masyaallah,sungguh sangat elok akhlak beliau saw. dalam bermuamalah dengan pasangannya. Beliau saw. mampu menjadi figur suami yang sangat peka terhadap kebutuhan emosional istrinya. Sesungguhnya, setiap wanita ingin diberi perhatian lebih. Wanita juga akan merasa aman dan nyaman ketika suaminya sering berada di sisinya. Wanita butuh sentuhan mesra, ia sangat suka ketika perkataannya didengarkan. Sungguh sebuah episode perjalanan hidup yang penuh cahaya hikmah, mencerminkan barakah, dan penuh pesona.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dan istri-istri beliau saw. berkumpul setiap malam di rumah istri yang mendapat giliran jatah menginapnya, maka beliau pun terkadang makan malam bersama mereka kemudian masing-masing kembali ke tempat tinggalnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, I/467).

3. Menjaga perasaan istri.

Sebagai seorang istri salihah, Aisyah ra. selalu menyediakan segelas air minum untuk Rasulullah. Biasanya Baginda Nabi saw. hanya minum setengahnya karena Aisyah ra. sangat suka dan senang minum sisa air dari gelas Rasulullah. Suatu ketika, Rasulullah saw. baru pulang ke rumah dan langsung meminum habis air yang disediakan Aisyah. Seketika rasa bingung, heran, dan sedih menyelimuti diri Aisyah ra. karena Rasulullah saw. tidak menyisakan air minum untuknya.

Kemudian, Aisyah ra. melihat gelas itu belum dicuci dan masih ada setetes air di dalamnya. Aisyah ra. lalu meminumnya. Tahukah apa yang terjadi? Tiba-tiba mukanya memerah karena rasa air itu asin. Ternyata Aisyah ra. salah, bukannya memasukkan gula, ia malah memasukkan garam ke dalam air tersebut.

Aisyah ra. lalu pergi menuju baginda Nabi saw. untuk minta maaf. Namun reaksi Rasulullah saw. luar biasa. Beliau tersenyum bahagia dan mengatakan bahwa air minum itu rasanya enak sekali. Beliau tampak menikmati air minum tersebut. Rasulullah saw. menghargai dan mengapresiasi setiap hasil usaha dan pelayanan dari istrinya tercinta. Beliau saw. tidak ingin menyakiti perasaan istrinya.

4. Memeluk istri ketika marah.

Diceritakan dalam sebuah hadis, suatu ketika Rasullullah saw. sedang bermasalah dengan Aisyah. Rasulullah saw. marah karena Aisyah ra. terus saja memelihara rasa cemburunya kepada Bunda Khadijah ra. yang sudah wafat. Di tengah kemarahannya, Rasulullah berkata, “Pejamkanlah matamu!” Kemudian Rasulullah saw. mendekat ke arah Aisyah dan memeluknya seraya berucap, ”Ya, Humairaku, rasa marah telah pergi usai aku memelukmu.” (HR Muslim).

Di antara para istri Rasulullah saw., Aisyah ra. memang dikenal paling memiliki sifat pencemburu. Usai memeluknya, Rasulullah saw. lalu memencet hidung istrinya tersebut, seraya berkata, “Ya Humaira, bacalah doa, ‘Wahai Rabbku, ampuni dosa-dosaku, hilangkan kerasnya hatiku, dan lindungi aku dari fitnah yang menyesatkan.‘” (HR. Ibnu Sunni).

5. Bersikap lembut dan kerap bersenda gurau dengan istrinya.

Banyak pula periwayatan yang menggambarkan bahwa Rasulullah saw. bergaul dengan sangat baik kepada keluarganya. Beliau saw. juga bersenda gurau dan lemah lembut terhadap mereka. Selepas Isya dan sebelum tidur, Rasulullah saw. seringkali bercakap-cakap sebentar dengan keluarganya dengan percakapan yang menyenangkan.

Dari Aisyah ra., ia berkata, “Pada suatu hari raya, orang-orang berkulit hitam mempertontonkan permainan perisai dan lembing. Aku tidak ingat apakah aku yang meminta atau Nabi saw. yang berkata padaku, ‘Apakah engkau ingin melihatnya?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Lalu beliau menyuruhku berdiri di belakangnya. Pipiku menempel ke pipi beliau. Beliau berkata, ‘Teruskan permainan kalian, wahai Bani Arfidah!’ Hingga ketika aku merasa bosan, beliau bertanya, ‘Apakah kamu sudah puas?‘ Aku jawab, ‘Ya.’ Beliau berkata, ‘Kalau begitu, pergilah!‘” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis lain dikisahkan bahwa Nabi saw. mengajak Aisyah ra. untuk berlomba lari. Aisyah berkata bahwa saat itu ia menemani Nabi saw. beserta sahabat dalam perjalanan tertentu. Pada saat itu, tubuh Aisyah ra. tidaklah gemuk atau besar. Nabi saw. meminta para sahabatnya melanjutkan perjalanan lebih dahulu, kemudian berkata kepada Aisyah ra., “Ayo, mari kita berlomba.” Hasilnya, Aisyah ra. berlari cukup gesit dan mengalahkan Nabi.

Suatu ketika, Aisyah ra. kembali menemani Nabi saw. dalam suatu perjalanan. Nabi pun kembali mengajaknya berlomba lari. Namun, kali ini Aisyah ra. tidak berhasil mengalahkan Nabi saw. karena tubuhnya sudah mulai gemuk. Nabi saw. kemudian tertawa dan berkata bahwa itulah balasan dari yang sebelumnya.

6. Makan sepiring berdua dan minum segelas berdua

Terkadang Baginda Nabi saw. makan sepiring yang sama dengan Bunda Aisyah ra., kemudian minum segelas berdua. Nabi saw. mencari bekas bibir Aisyah ra. pada gelas, di situ Nabi minum. Itu adalah akhlak yang Nabi saw. tunjukkan.

Diungkapkan dalam sebuah hadis, “Terkadang Rasulullah saw. disuguhkan sebuah wadah (air) kepadanya, kemudian aku minum dari wadah itu sedangkan aku dalam keadaan haid. Lantas Rasulullah saw. mengambil wadah tersebut dan meletakkan mulutnya di bekas tempat minumku. Terkadang aku mengambil tulang (yang ada sedikit dagingnya) kemudian memakan bagian darinya, lantas Rasulullah saw. mengambilnya dan meletakkan mulutnya di bekas mulutku.” (HR Ahmad).

7. Mengusap air mata istri.

Dalam sebuah hadis yang diriwiyatkan oleh Anas bin Malik ra., dijelaskan bahwa Rasulullah saw. terlihat mengusap air mata sang istri.

“Suatu ketika, Shofiyah bersama Rasulullah saw. dalam perjalanan, sedangkan hari itu adalah bagiannya. Shofiyah sangat lambat jalannya sehingga Rasulullah saw. menghadap kepadanya, sedangkan ia menangis dan berkata, ‘Engkau membawaku di atas unta yang lamban.’ Kemudian Rasulullah saw. menghapus air mata Shofiyah dengan kedua tangannya.” (HR Nasa’i).

8. Melayani istri dengan baik.

Diriwayatkan dari Ali bin Husein ra., ia berkata, “Suatu ketika Nabi saw. berada di masjid (Nabawi), sedangkan istri-istrinya ada di dekatnya, kemudian mereka pulang. Rasulullah saw. bersabda kepada Shafiyah binti Huyay, ‘Jangan buru-buru agar aku bisa pulang bersamamu.'” (HR Bukhari).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Shofiyah, istri Rasulullah saw. menceritakan bahwa ia pernah datang mengunjungi Nabi saw. saat sedang melakukan itikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan. Ia berbicara di dekat beliau beberapa saat, kemudian berdiri untuk kembali. Nabi saw. juga ikut berdiri untuk mengantarkannya.“ (HR Bukhari dan Muslim)

Selain itu, cara istimewa Rasulullah saw. memanjakan sang istri adalah dengan melayaninya saat sakit. Diriwayatkan oleh Aisyah ra., “Rasulullah saw. adalah orang yang penyayang lagi lembut. Beliau orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit.” (Muttafaq ‘alaih).

Demikian sekelumit gambaran kehidupan pernikahan Rasulullaah saw. dengan para istrinya. Kehidupan pernikahan yang penuh cinta dan kasih sayang. Rasulullah saw. sebagai suami sangat memahami istri-istrinya dan bergaul romantis dengan mereka. Sungguh tidak ada tandingannya kebaikan beliau saw. dalam berinteraksi dengan istri-istrinya. Menjalin kedekatan dengan pasangan akan membuat cinta makin melekat dan kasih sayang menjadi lebih besar. Ini adalah modal yang sangat penting agar pasutri mampu mendekat pada tujuan dan visi pernikahan, yakni kehidupan rumah tangga yang sakinah mawadah dan penuh rahmat Allah Taala. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Share

One thought on “Meneladan Rasulullah ﷺ, Romantisme Terindah dalam Kehidupan Rumah Tangga”

  1. ketenteraman hati, kedekatan emosional, dan aspek ruhiyah menjadi nutrisi penting untuk menghadirkan romantisme terindah pasutri telah dicontohkan dalam keluarga Rasulullah saw.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *