Abu Muslim al-Khaulani, Teladan dalam Menyuarakan Kebenaran

Abu Muslim al-Khaulani, Teladan dalam Menyuarakan Kebenaran

Penulis: Chusnatul Jannah

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Tersebar berita di seluruh penjuru Jazirah Arab bahwa Rasulullah saw. sakit sepulang dari Haji Wada. Setan pun memprovokasi Aswad al-Ansi agar kembali kepada kekafiran setelah keimanannya untuk berkata dusta tentang Allah Taala. Ia mengaku kepada kaumnya sebagai Nabi yang diutus Allah Taala. Ia mengeklaim bahwa malaikat turun dari langit untuk membawakan wahyu dan memberitahukan hal-hal gaib kepadanya. Ia juga membuat berbagai rekayasa agar orang-orang percaya dengan pengakuannya.

Aswad menjadi besar kepala karena namanya makin tenar, kehebatannya kian tersohor, dan pengikutnya makin banyak. Shan’a kini berada di bawah kendalinya. Dari sinilah kedustaan Aswad terus menyebar ke tempat lain sampai meliputi seluruh Yaman, antara Hadramaut, Tha’if, Bahrain, serta Aden.

Ketika Aswad merasa kekuataannya membesar dan banyak negeri telah dikuasainya, ia pun memburu orang-orang yang menentangnya, yakni orang-orang yang senantiasa beriman kepada Allah Taala secara tulus dan istikamah.

Terhadap orang-orang tersebut, Aswad al-Ansi berlaku bengis. Bahkan, ia tidak segan melakukan penyiksaan secara sadis. Di antara para penentang tersebut, ada seorang tokoh bernama Abdullah bin Tsuwab yang juga biasa dijuluki sebagai Abu Muslim al-Khaulani.

Berbekal Iman, Nabi Palsu Gagal Membakarnya

Abu Muslim al-Khaulani adalah seorang yang kukuh imannya, pantang berkompromi dengan kebatilan, dan senantiasa menyerukan kebenaran. Ia mengikhlaskan hidupnya untuk Allah Taala semata. Ia menjauhi kesenangan dunia yang menipu. Ia juga bernazar mendedikasikan hidupnya untuk menaati Allah Taala serta mendakwahkan Islam kepada masyarakat. Dalam pandangan Abu Muslim, dunia hanyalah kenikmatan sesaat yang tidak sepadan bila ditukar dengan kenikmatan abadi di akhirat. Tidak mengherankan jika orang-orang menyambutnya dengan baik, memandangnya sebagai orang yang suci jiwanya, dan mustajab doanya di sisi Rabb-nya.

Di sisi lain, Aswad al-Ansi sudah gatal untuk menangkap Abu Muslim lalu menghukumnya sekeras mungkin. Tujuannya agar orang lain yang menentangnya gentar dan dapat ditundukkan.

Ia meminta prajuritnya mengumpulkan kayu bakar di lapangan Shan’a, lalu menyulutnya dengan api. Orang-orang dipanggil untuk menyaksikan seorang ahli fikih di Yaman dan ahli ibadah seperti Abu Muslim al-Khaulani hendak “bertaubat” kepada Aswad dan mengakui kenabiannya.

Tidak lama berselang, Abu Muslim al-Khaulani diseret ke tengah arena. Pendusta sombong itu memandang Abu Muslim dengan penuh kebencian, lalu berpaling ke arah api yang berkobar sambil bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah?”

“Benar, aku bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Ia adalah sayyidul mursalin dan penutup para Nabi,” jawab Abu Muslim tegas.

Aswad al-Ansi menggerutu. Dengan nada marah ia bertanya kembali, “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?” Abu Muslim menjawab, “Telingaku tersumbat, tidak bisa mendengar kata-katamu.” Aswad berkata, “Kalau begitu, aku akan melemparkanmu ke dalam api itu.”

Dengan tenang, Abu Muslim berkata, “Jika engkau membakarku dengan api dari kayu, engkau akan dibalas dengan api yang bahan bakarnya manusia dan batu, di bawah penjagaan malaikat-malaikat yang perkasa, yang tidak menentang Allah Taala dan senantiasa mematuhi perintah yang diberikan kepada mereka.”

“Aku tidak tergesa-gesa, aku beri engkau kesempatan untuk menggunakan otakmu. Apakah engkau tetap mengakui bahwa Muhammad adalah rasul Allah?” tanya Aswad.

“Benar. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Allah mengutusnya dengan membawa agama dan petunjuk yang benar. Allah menutup seluruh risalah-Nya dengan risalah yang dibawa oleh Muhammad.” ujar Abu Muslim.

Aswad al-Ansi meninggikan nada suaranya. Ia bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama dan Abu Muslim pun menjawab dengan jawaban yang sama.

Kemarahan Aswad al-Ansi kian menjadi setelah mendengar ketegasan jawaban, ketenangan serta ketegaran Abu Muslim. Saat hendak memerintahkan agar Abu Muslim al-Khaulani dilemparkan ke dalam api, tangan kanannya berusaha mencegahnya sambil berbisik di telinganya, “Anda tahu bahwa orang ini berjiwa suci, doanya mustajab, sementara Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya yang beriman di saat-saat kritis. Jika Anda melemparkannya ke dalam api, lalu ternyata Allah menyelamatkannya, maka semua yang kau bina dengan susah payah ini akan hancur dalam sekejap, karena orang-orang akan mengingkari kenabianmu saat itu juga. Bila engkau membakarnya dan ia mati, orang-orang akan mengaguminya, bahkan menyanjungnya sebagai syuhada. Oleh karena itu, lebih baik Anda melepaskannya. Asingkan saja ia dari negeri ini. Hindarilah ia, maka engkau akan menjadi lebih tenang dan bisa santai.”

Nabi palsu itu menerima saran tersebut. Ia membebaskan Abu Muslim lalu mengusirnya keluar dari Yaman.

Bertemu Khulafaurasyidin

Abu Muslim bertolak menuju Madinah dengan harapan berjumpa dengan Rasulullah saw. yang dirindunya. Saat ia datang, kesedihan menyelimutinya lantaran tidak pernah bisa berjumpa dengan Rasulullah saw. karena beliau lebih dulu wafat. Kala itu Abu Bakar dibaiat menjadi khalifah pertama kaum muslimin.

Setibanya di Madinah, Abu Muslim memasuki Masjid Nabawi dan mengucapkan selawat dan salam atas Nabi-Nya. Setelah ia salat, Umar bin Khaththab menghampirinya dan bertanya, “Dari manakah Anda berasal?” Abu Muslim menjawab, “Saya dari Yaman.”

Umar kemudian bertanya mengenai kabar saudara seakidah yang hendak dibakar hidup-hidup oleh musuh Allah Taala. Abu Muslim mengatakan kondisinya baik-baik saja. Umar mengetahui bahwa orang yang ia tanyakan ternyata ada di hadapannya.

Kemudian, Umar bin Khaththab mengajak Abu Muslim menghadap Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq. Setibanya di sana, Abu Muslim berbaiat kepada khalifah kaum muslim itu. Abu Bakar lalu mempersilakannya duduk di antara dirinya dan Umar. Mereka berbincang-bincang dan mendengarkan kisah Abu Muslim mengenai Aswad al-Ansi.

Abu Muslim al-Khaulani cukup lama tinggal di Madinah. Ia rajin mendatangi Masjid Nabawi, salat di Raudhah suci, dan belajar kepada para tokoh sahabat seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Abu Dzar al-Ghifari, Ubaidah bin Shamit, Muadz bin Jabal, dan Auf bin Malik al-Asyja. Setelahnya, beliau menuju ke Syam dan menetap di sana. Beliau memilih tinggal di perbatasan agar bisa bergabung dengan kaum muslim memerangi Romawi dan meraih pahala jihad fi sabilillah.

Untaian Nasihat Abu Muslim untuk Penguasa

Saat Muawiyah bin Abi Sufyan menjadi khalifah, Abu Muslim sering menghadiri majelisnya. Abu Muslim pernah mendatangi Muawiyah yang sedang duduk di tengah pertemuan. Beliau dikelilingi oleh para pejabat, panglima perang, dan tokoh-tokoh kaum. Beliau melihat betapa orang-orang menghormati dan menyanjung Muawiyah secara berlebihan. Beliau khawatir hal itu akan merusak keimanannya. Ia lebih dulu memberi salam kepada Muawiyah, “Assalamu’alaika ya ajiral (pelayan) mukminin.” Spontan orang-orang menegurnya, “Katakanlah, Amirulmukminin (pemimpin).”

Beliau tidak mempedulikan tanggapan mereka dan bahkan mengulangi salamnya, “Assalamu’alaika ya ajiral mukminin.” Orang-orang berkata, “Amirulmukminin, wahai Abu Muslim.” Beliau tetap pada pendiriannya berkata, “Assalamu’alaika ya ajiral mukminin.”

Tatkala orang-orang mulai mengecamnya, beliau berkata, “Anda adalah orang yang diangkat Allah Swt. sebagai pejabat bagi umat, seumpama orang yang disewa untuk mengurus ternak-ternaknya. Ia akan diberi upah besar jika mengurus peternakan itu dengan baik dan rajin merawat sehingga yang kecil menjadi besar, yang kurus menjadi gemuk, dan yang sakit menjadi sehat. Akan tetapi jika teledor, tidak mengurusnya dengan baik, sehingga ternak-ternak itu kurus kering lalu mati, susut hasil bulu dan susunya, maka ia tidak akan diberi upah, bahkan akan menerima murka dan hukuman. Oleh karena itu, Anda boleh memilih mana yang baik bagi Anda dan balasan apa yang Anda kehendaki?”

Khalifah duduk mendengarkan kemudian mengangkat kepala seraya berkata, “Semoga Allah membalas engkau dengan yang lebih baik atas perhatianmu kepada kami dan rakyat kami dengan sebaik-baik balasan. Kami menyadari engkau memberikan nasihat karena Allah dan Rasul-Nya dan bagi kebaikan kaum muslim.”

Pada waktu lainnya, Abu Muslim al-Khaulani menghadiri salat Jumat di Damaskus. Saat itu, Amirulmukminin Muawiyah menyampaikan khotbah berisi imbauan agar masyarakat membersihkan dan mengeruk sungai Barada agar airnya bersih.

Ketika khalifah tengah berkhotbah, dari tengah jemaah, Abu Muslim bersuara, “Wahai Muawiyah, sadarkah Anda bahwa hari ini atau esok Anda akan mati dan rumahmu adalah kuburanmu? Bila Anda membawa bekal, maka itulah yang diperintahkan bagi Anda. Bila Anda datang dengan tangan kosong, maka akan Anda dapati tempat Anda berupa kuburan yang datar saja. Saya berharap jangan sampai Anda menyangka bahwa kekuasaan sekadar seperti perintah menggali sungai dan mengumpulkan harta. Khilafah menuntut adanya amalan yang benar dan tindakan adil yang menyeru manusia kepada hal-hal yang diridai Allah Taala. Wahai Muawiyah, Anda tidak perlu mengkhawatirkan keruhnya sungai bila sumbernya bersih. Sesungguhnya Anda adalah sumber kami, maka berusahalah agar diri Anda bersih. Jika Anda menzalimi seseorang, maka kezaliman itu bisa dihapus dengan keadilan Anda. Waspadalah terhadap kezaliman, sebab ia adalah kegelapan di akhirat.”

Ketika Abu Muslim menyelesaikan kata-katanya, Muawiyah turun dari mimbar, menghampirinya lalu berkata, “Semoga Allah Taala merahmatimu, wahai Abu Muslim! Semoga Allah juga membalas kebaikanmu karena telah menasihati kami.”

Contoh lainnya, ketika Muawiyah kembali tampil di mimbar untuk berkhotbah, Beliau menunda pembagian harta untuk masyarakat dua bulan ke depan. Abu Muslim menegurnya, “Wahai Muawiyah, harta ini bukanlah harta Anda ataupun harta ayah ibu Anda. Mengapa Anda menahannya begitu lama dari orang-orang?”

Tanda kemarahan tampak tersirat pada wajah Muawiyah. Orang-orang menunggu apa yang hendak dilakukannya. Ia memberi isyarat agar orang-orang tetap di tempat masing-masing, sedangkan ia sendiri turun dari mimbar, berwudu kemudian menyiram tubuhnya, lalu naik lagi ke mimbar.

Beliau mengucapkan tahmid dan tasbih, lalu berkata, “Tadi Abu Muslim mengingatkan bahwa harta ini bukanlah hartaku atau harta ayah-bundaku. Sungguh tidak ada yang salah pada kata-kata itu. Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Marah itu berasal dari setan dan setan berasal dari api, maka apabila salah satu dari kalian marah, hendaklah segera mandi.” Wahai saudara-saudara, pergilah mengambil hak kalian dengan berkah Allah Taala.

Khatimah

Abu Muslim al-Khaulani telah mengajarkan sikap yang seharusnya dimiliki seorang muslim terhadap pemimpinnya. Yakni, tegak lurus dalam membela kebenaran, tidak takut terhadap celaan orang yang mencela, dan senantiasa menasihati mereka agar tidak berlaku zalim kepada rakyatnya. Menasihati pemimpin adalah kewajiban bagi setiap muslim dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar. Oleh sebab itu, sosok Abu Muslim dapat menjadi teladan bagi siapa saja yang ingin menyuarakan kebenaran. [MNews/YG]

*Disarikan dari berbagai sumber

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *