Penulis: Ibnu al-Jauzi
Muslimah News, NAFSIYAH — Ketahuilah bahwa hawa nafsu itu mengajak kepada kenikmatan tanpa mempertimbangkan akibatnya. Sebagaimana diketahui, kenikmatan itu akan melahirkan kerugian yang lebih besar, bahkan dapat menghalangi manusia untuk merasakan kenikmatan serupa. Hawa nafsu itu berpaling dari akal. Yang demikian itu adalah sifat binatang yang senantiasa tidak mempertimbangkan akibat. Tidak semestinya manusia sebagai makhluk berakal jatuh dari martabat yang mulia ke martabat yang hina.
Adapun akal senantiasa memerhatikan berbagai akibat dan kemaslahatan. Akal bagaikan orang dewasa yang bijak dan dokter yang secara tulus memberi nasihat, sedangkan hawa nafsu bagaikan anak kecil yang bodoh dan orang sakit yang rakus.
Ketika terjadi pertentangan antara akal dan hawa nafsu, sudah sepatutnya manusia mengedepankan akal dan bersabar menghadapi hawa nafsunya.
Cukuplah keutamaan akal sebagai hujah baginya dalam mengedepankan akal. Cukuplah memerhatikan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh hawa nafsu yang merugikan, seperti terbongkarnya aib, dipermalukan di hadapan orang banyak, turun harga diri, dan kehilangan keutamaan.
Kemudian hendaknya ia melihat apa yang akan dialami seseorang setelah perbuatan dan kenikmatan berlalu, serta menimbang kenikmatan tersebut dengan dosa. Pada akhirnya, manusia akan sadar bahwa ia telah mengalami kerugian yang jauh lebih besar daripada keuntungan yang telah diraihnya.
"Berapa banyak kelezatan yang membunuh kebahagiaan. Telah jernih dari bahaya-bahaya yang menyedihkan. Tidak sedikit syahwat telah melucuti pengikutnya. Dari pakaian keagamaan dan kehormatannya."
Ketahuilah bahwa manusia yang mengikuti hawa nafsunya, walaupun tidak sampai merugikan, ia tetap akan merasakan kehinaan dalam dirinya karena posisinya yang telah kalah oleh hawa nafsu. Apabila ia dapat mengalahkan hawa nafsunya, maka ia akan menemukan kemuliaan dalam dirinya karena posisinya sebagai pemenang.
Bukankah kita sering melihat orang-orang takjub terhadap orang zuhud? Hal itu tidaklah terjadi kecuali karena orang zuhud telah mampu atas apa yang mereka tidak mampu, yaitu menentang hawa nafsu. [MNews/Nsy]
Sumber: Ibnu al-Jauzi, Mengobati Jiwa yang Lelah
