[Tarikh Khulafa] Kemajuan Ilmu Pengetahuan pada Masa Kekhalifahan Bani Abbasiyah

[Tarikh Khulafa] Kemajuan Ilmu Pengetahuan pada Masa Kekhalifahan Bani Abbasiyah

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Peradaban sebuah bangsa dikatakan mencapai kejayaannya tidak hanya karena telah berhasil menguasai wilayah yang luas. Namun, juga karena majunya ilmu pengetahuan dengan bangkitnya pemikiran bangsa tersebut. Era Kekhalifahan Bani Abbasiyah disebut oleh para sejarawan sebagai era the golden age of Islam.

Kekhalifahan Bani Abbasiyah mulai memasuki masa kejayaannya pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mahdi, Al-Hadi, Harun ar-Rasyid, dan Al-Ma’mun. Peradaban Islam berkembang sangat pesat pada masa-masa tersebut. Tidak hanya ilmu pengetahuan yang berkembang, wilayah kekuasaan Daulah Islam juga meluas.

Faktor utama pembangunan Islam pada masa Kekhalifahan Abbasiyah adalah pada pembangunan infrastruktur dan kebudayaan, tetapi tidak mengenyampingkan perluasan wilayah. Hasilnya, dunia Islam pada masa itu berada dalam keadaan maju, makmur, dan jaya. Kaum muslim disebut berada pada masa keemasan Islam. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi dunia Barat yang berada dalam masa kegelapan.

Gerakan Penerjemahan

Salah satu kemajuan di bidang ilmu pengetahuan yang mengantarkan Kekhalifahan Bani Abbasiyah pada puncak kejayaan adalah usaha penerjemahan buku-buku Barat ke dalam bahasa Arab. Gerakan penerjemahan menjadi salah satu fokus khalifah, terutama pada masa Harun ar-Rasyid dan Al-Ma’mun.

Era penerjemahan berlangsung selama satu abad mulai 750 M. Pada masa awal penerjemahan, naskah yang menjadi prioritas diterjemahkan adalah ilmu pragmatis atau eksakta karena dianggap lebih bermanfaat dibandingkan fiksi seperti puisi, cerpen, atau drama.

Dengan penerjemahan tersebut, ulama dan ilmuwan muslim akhirnya mengetahui kelemahan peradaban sebelum Islam. Dengan kebangkitan berpikir kaum muslim, menjadikan mereka mampu melampaui apa yang telah dicapai peradaban sebelumnya. Dengan demikian, hasilnya memberikan kemajuan bagi Islam dan umat manusia.

Gerakan penerjemahan berlangsung dalam tiga fase, yakni fase pertama pada masa Khalifah Al-Mansur hingga Harun ar-Rasyid dengan fokus penerjemahan pada bidang astronomi dan mantik. Fase kedua berlangsung dari masa Khalifah Al-Ma’mun hingga 300 H dengan fokus penerjemahan di bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah 300 H, terutama setelah ada pembuatan kertas, pada fase ini bidang ilmu yang diterjemahkan meluas.

Baitul Hikmah, Pusat Ilmu Pengetahuan

Kunci keberhasilan dari gerakan penerjemahan ini adalah dibangunnya Baitul Hikmah. Sebuah gedung perpustakaan yang digunakan sebagai pusat ilmu pengetahuan.

Baitul Hikmah dibangun oleh Khalifah Al-Mansur, kemudian diganti namanya menjadi Khizanah al-Hikmah (khazanah kebijaksanaan) oleh Khalifah Harun ar-Rasyid. Khizanah al-Hikmah difungsikan sebagai perpustakaan dan pusat penelitian.

Pemerintahan Bani Abbasiyah pada masa kejayaannya mendukung penuh gerakan penerjemahan di Baitul Hikmah. Dukungan tersebut tidak sebatas moral, melainkan juga materiel.

Kekhalifahan Bani Abbasiyah menganggarkan dana yang tidak sedikit untuk semua kegiatan di Baitul Hikmah. Dana itu di antaranya untuk mendatangkan naskah-naskah dari berbagai wilayah, seperti Mesir, Persia, Syria, Konstantinopel, dan Athena. Pengadaan naskah-naskah tersebut membutuhkan dana yang besar. Selain itu, pos pengeluaran besar lainnya adalah menggaji para ahli bahasa atau penerjemah.

Pendanaan untuk kemajuan ilmu pengetahuan yang tidak sedikit ini bersumber dari baitulmal Daulah Islam. Pada masa Kekhalifahan Bani Abbasiyah, kas baitulmal memang besar, terutama pemasukan dari kharaj dan jizyah sebagai konsekuensi dari meluasnya wilayah kekuasaan Daulah Islam, juga dari zakat kaum muslim.

Ketika Khalifah Al-Ma’mun berkuasa, nama Khizanah al-Hikmah dikembalikan ke Baitul Hikmah. Pada masa ini, Baitul Hikmah tidak saja digunakan sebagai tempat penerjemahan dan pusat penelitian sebagaimana khalifah sebelumnya, tetapi juga dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan naskah-naskah kuno dari berbagai peradaban seperti Persia, Bizantium, Ethiopia, dan India. Baitul Hikmah juga difungsikan sebagai pusat studi dan riset astronomi serta matematika.

Forum-forum diskusi difasilitasi di Baitul Hikmah. Bahkan Mahmud Yunus menyebutnya sebagai Universitas Islam pertama di dunia. Alasannya karena Baitul Hikmah menjadi tempat penyimpanan buku-buku, wadah berdebat, serta tempat mengkaji berbagai disiplin ilmu. Dengan berbagai fungsi tersebut, banyak penuntut ilmu berdatangan ke Baitul Hikmah untuk mengkaji berbagai cabang ilmu, terutama sains dan filsafat. [MNews/Rgl]

Sumber:

Rizem Aizid, Selayang Pandang Dinasti Abbasiyah, Kelahiran, Kejayaan, Kemunduran, dan Peninggalannya, Diva Press

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *